Taipei, 14 Jun. (CNA) "Saya tidak pandai berbicara atau mengajar di kehidupan ini, tetapi saya bisa menjadi seorang guru di kehidupan setelah mati," kata Wei Tsung-ming (魏從明) sebelum meninggal, menurut cerita istrinya kepada CNA dalam sebuah wawancara.
Setelah meninggal pada tahun 2025 di usia 60 tahun, Wei menjadi pendonor tubuh (atau "silent mentor") di Fakultas Kedokteran Kaohsiung Medical University (KMU), di mana ia mendapat kesempatan untuk mengajarkan pelajaran diam tentang kehidupan kepada para mahasiswa.
Saat menceritakan peristiwa ini kepada CNA baru-baru ini, Hsu Yu-chen (徐玉珍) tampak sangat emosional dan matanya beberapa kali berlinang air mata.
Hsu mengatakan Wei didiagnosis menderita retroperitoneal liposarcoma pada tahun 2009 dan menjalani beberapa operasi karena kanker tersebut berulang kali kambuh.
Awalnya, ia mendaftar sebagai pendonor organ, tetapi setelah mengetahui tentang program "silent mentor" dari perawat hospice, ia memutuskan untuk mendonorkan tubuhnya pada tahap akhir penyakitnya.
Tidak jadi donor organ
Penyakitnya berkembang hingga dokter menyatakan organ-organnya tidak lagi layak untuk didonorkan, bahkan korneanya pun tidak, kata Hsu.
Ia mengenang saat memberitahu Wei tentang kabar tersebut dengan pelan. "Saya bertanya padanya, 'Atau mungkin kita batalkan saja donasi tubuhnya?'" Wei menjawab dengan terus-menerus menggelengkan kepala.
Menurut Hsu, suaminya telah menyelesaikan semua dokumen yang diperlukan untuk donasi tubuh sebelum wafat. "Saya hanya menjalankan keinginannya," ujarnya.
"Ia tetap teguh sampai akhir hayatnya," tambahnya.
Hsu mengatakan suaminya percaya bahwa tubuh hanyalah sebuah wadah dan sebaiknya dimanfaatkan dengan baik setelah kematian.
Di Taiwan, telah lama ada kepercayaan bahwa tubuh harus tetap utuh setelah meninggal. Meski norma budaya ini masih kuat, setiap tahunnya sejumlah kecil orang memilih menjadi "silent mentor" bagi mahasiswa kedokteran, mendonorkan tubuh mereka untuk studi anatomi dan pelatihan bedah.
Li I-chen (李怡琛), wakil dekan Fakultas Kedokteran KMU, mengatakan para pendonor tubuh umumnya lebih menerima kehidupan dan kematian.
Seorang pendonor pernah berkata bahwa tubuh tidak banyak berguna setelah meninggal dan nilai terbesarnya adalah membantu mahasiswa kedokteran melanjutkan pendidikan dan memberi manfaat bagi masyarakat, kenangnya.
"Saya lebih rela mahasiswa membuat sayatan yang salah di tubuh saya daripada melakukannya pada pasien sungguhan," kutip Li dari sang pendonor.
Li mengatakan setelah tubuh didonorkan, tubuh tersebut akan melalui proses pengawetan dan prosedur pelestarian lainnya sebelum menjadi "silent mentor" bagi mahasiswa kedokteran.
Keluarga biasanya harus menunggu dua hingga tiga tahun sebelum dapat melanjutkan prosesi pemakaman, dan penantian panjang ini bisa sangat berat secara emosional, katanya. Namun, para pendonor diperlakukan dengan sangat hormat selama masa pengabdian mereka sebagai "silent mentor."
Menghormati yang telah wafat
Chen Yung-chia (陳永佳), profesor anatomi di KMU, mengatakan sebelum memulai pembedahan, mahasiswa mengunjungi keluarga pendonor untuk mempelajari kehidupan "silent mentor" mereka.
Pada awal setiap kelas, mahasiswa membungkuk kepada "silent mentor" mereka sebagai penghormatan kepada pendonor dan ungkapan terima kasih. Mahasiswa juga membungkuk lagi di akhir kursus, tambah Chen.
Setelah pelatihan selesai, universitas mengadakan upacara peringatan sesuai dengan keyakinan agama pendonor. Jenazah kemudian dikremasi dan abunya dimakamkan di bawah pohon atau dikembalikan kepada keluarga, menurut Li.
Seorang mahasiswa kedokteran KMU bermarga Su (蘇) mengatakan bahwa "silent mentor" mengajarkan mahasiswa tidak hanya tentang struktur tubuh manusia, tetapi juga mendorong mereka untuk merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar: Apa itu manusia?
Selesai/IF