Taipei, 12 Jun. (CNA) Chung Yuan Christian University (CYCU) Taiwan dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama penelitian inovasi di bidang teknologi sirkular rendah karbon, hak karbon digital, dan industri berkelanjutan.
MoU ini diteken Pusat Promosi Industri Bernilai Tinggi (HVIP) CYCU dan Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN di sebuah forum bilateral tentang inovasi teknologi sirkular rendah karbon dan hak karbon digital yang digelar di Indonesia pada Selasa (9/6), kata universitas dalam sebuah rilis pers.
Kegiatan ini menghadirkan perwakilan lembaga pemerintah, asosiasi industri, dan pelaku usaha Indonesia untuk membahas kebijakan netral karbon, ekonomi sirkular, hak karbon digital, dan kebutuhan industri setempat, serta arah kerja sama dengan Taiwan di masa depan.
Melalui kerja sama ini, kedua pihak akan mengintegrasikan sumber daya dari sektor pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga penelitian guna memajukan teknologi sirkular rendah karbon, hak karbon digital, serta pembangunan platform layanan industri, kata CYCU.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi internasional yang demonstratif, dapat direplikasi, dan diperluas penerapannya, kata universitas.
Direktur HVIP CYCU Chung Tsair-wang (鍾財王) mengatakan kerja sama ini bukan hanya menjadi tonggak penting bagi Taiwan dan Indonesia di bidang teknologi rendah karbon, tetapi juga menjadi titik awal penting dalam pengembangan ekonomi sirkular, hak karbon digital, dan rantai pasokan hijau.
Ia berharap kolaborasi percontohan ini dapat melahirkan model inovasi rendah karbon yang berpengaruh secara internasional serta menjadi kontribusi nyata pengalaman kolaborasi Taiwan–Indonesia bagi transformasi menuju emisi nol bersih di Asia maupun dunia.
Sementara itu, Kepala OREM BRIN Cuk Supriyadi Ali Nandar menyebut bahwa Indonesia tengah aktif mendorong kebijakan netral karbon nasional dan transformasi industri.
Kerja sama ini, ujarnya, diyakini akan membantu mempercepat inovasi teknologi, pertukaran talenta, serta penerapan proyek percontohan, sehingga dapat mempercepat peningkatan daya saing industri hijau dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Untuk merealisasikan penerapan teknologi sirkular rendah karbon dan inovasi hak karbon digital secara konkret, kedua pihak berencana mengundang perwakilan pemerintah, lembaga penelitian, asosiasi, dan perusahaan Indonesia untuk berkunjung ke Taiwan pada Oktober mendatang, menurut rilis pers.
Kunjungan tersebut bertujuan mendorong proyek percontohan, verifikasi teknologi, dan kerja sama industri, sekaligus menginisiasi pembentukan sebuah aliansi internasional teknologi sirkular rendah karbon guna bersama-sama mengembangkan pasar hijau di Asia dan dunia.
Fokus kerja sama ke depan akan mencakup proses manufaktur inovatif berbasis sirkular cerdas rendah karbon, termasuk teknologi pengeringan canggih, teknologi pirolisis dan gasifikasi, pengembangan material sirkular berkelanjutan, pemanfaatan limbah plastik dan limbah karet sebagai sumber daya, serta produksi dan penerapan minyak pirolisis dan material karbon daur ulang, menurut rilis pers.
Selain itu, kedua pihak juga akan mendorong pengelolaan hak karbon digital dengan membangun mekanisme pemantauan, pelaporan, dan verifikasi, serta mengembangkan platform pengelolaan aset karbon digital dan hak karbon untuk membantu perusahaan membangun rantai pasok hijau dan meningkatkan daya saing berkelanjutan, menurut rilis pers.
Selesai/IF