Ari Whena: Melestarikan budaya Indonesia bikin hidup di Taiwan lebih bermakna

14/06/2026 13:36(Diperbaharui 14/06/2026 13:36)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

影片來源:Fokus Taiwan Indonesia
Oleh Muhammad Irfan, staf reporter CNA

Tinggal di Taiwan selama lebih dari 20 tahun membuat Ari Whena, seorang imigran baru asal Indonesia, telah melalui berbagai suka duka kehidupan di perantauan. Mulai dari menghadapi kendala bahasa yang membuatnya hanya dapat menyantap satu jenis makanan selama sebulan penuh hingga akhirnya dikenal sebagai sosok yang memperkenalkan budaya Indonesia melalui seni tari di Taiwan. Baginya, upaya melestarikan budaya Indonesia semampunya menjadi semangat yang membuat kehidupannya di perantauan lebih bermakna.

Pindah dari Kediri, Jawa Timur, pada 2005 setelah menikah dengan seorang pria Taiwan, Whena tidak pernah membayangkan seperti apa kehidupan di tanah baru yang kelak akan ia tinggali bersama suaminya. Menikah tanpa melalui masa pacaran dan langsung menerima lamaran pria yang kini menjadi suaminya itu, Whena mengaku tidak memiliki banyak pertimbangan saat memutuskan pindah ke Taiwan.

“Sampai sini ternyata gelisah juga. Nangis terus, enggak ada teman,” kata Whena dalam wawancaranya dengan CNA.

Berbagai hal membuat Whena sulit beradaptasi pada masa-masa awal tinggal di Taiwan. Saat itu ia belum fasih berbahasa Mandarin. Pada masa itu pula, saluran dukungan bagi pasangan asing belum sebanyak sekarang. Kendala bahasa membuat ruang geraknya di Taiwan menjadi terbatas. Salah satu pengalaman yang paling ia ingat adalah ketika ia hanya dapat menyantap misua, atau bihun khas Taiwan, yang dijual di dekat rumahnya karena tidak mampu memesan makanan lain.

“Soalnya di dekat rumah saya cuma ada yang jual itu. Suami saya juga tidak paham. Disangkanya saya suka sekali, jadi setiap pulang dia juga akan membelikan saya makanan itu,” kata Whena.

Pengalaman ini menyimpan kesan yang dalam baginya sebagai pasangan asing di Taiwan. “Sampai sekarang kalau ada misua saya enek sangking dulu sebulan penuh hanya makan itu,” ucap dia.

Akses komunikasi yang belum secanggih sekarang juga membuat hidup Whena terasa sangat jauh dari keluarganya di Indonesia. Pada masa itu, satu-satunya sarana komunikasi adalah sambungan telepon internasional yang tarifnya sangat mahal. Seingatnya, dalam satu bulan suaminya bisa mengeluarkan hingga NT$50.000 (Rp28,3 juta) untuk biaya telepon.

Harga itu tentu sangat mahal, sehingga suaminya pun mencoba membujuk Whena agar tidak terlalu lama menelepon. Namun, sang suami juga tidak tega kalau harus bertindak keras pada istrinya. “Akhirnya dari situ ia menyarankan saya untuk pulang ke Indonesia enam bulan sekali,” kata Whena.

(Sumber Foto : Ari Whena)
(Sumber Foto : Ari Whena)

Mulai menari

Sering pulang ke Indonesia ternyata tidak memberikan dampak yang berarti terhadap proses adaptasi Whena di Taiwan. Kemampuan bahasa Mandarin yang menjadi kendala utamanya dalam berinteraksi dengan masyarakat setempat tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Beruntung, suaminya kemudian bertemu dengan seorang teman yang juga menikah dengan perempuan Indonesia. Melalui pasangan tersebut, Whena dan suaminya mengenal Pusat Layanan Imigran Baru. Sejak saat itu, Whena mulai mengembangkan dirinya di Taiwan.

“Jadi di Pusat Layanan Imigran Baru ini sering ada acara dan saya diarahkan kalau mau tampil. Karena saya hobi menari, saya coba menari dan ternyata banyak yang suka,” kata Whena.

Menari merupakan hobi Whena sejak kecil. Lahir dari keluarga seniman, dengan ayah yang merupakan pemain Wayang Orang sekaligus memiliki sanggar seni, perempuan yang memiliki darah Bali dan Jawa dari garis ibunya ini telah akrab dengan berbagai jenis tarian sejak usia dini. Namun, kepindahannya ke Taiwan dan proses adaptasi yang tidak mudah membuat Whena sempat berhenti menari selama tujuh tahun.

Ketika tampil di Pusat Layanan Imigran Baru dan mendapatkan respons yang baik, ia mulai menemukan dirinya kembali.

“Saya suka sekali. Meskipun enggak dikasih uang, saya suka sekali,” ujarnya seraya mengatakan usai acara tersebut banyak penonton lokal yang meminta nomor kontaknya. 

Sejak saat itu, bakat Whena dalam menari memang seperti menemukan lebih banyak panggung. Setiap jelang dan setelah tahun baru Imlek, biasanya undangan untuk tampil banyak berdatangan. 

Selain itu, ia juga mulai aktif mengikuti berbagai lomba tari yang melibatkan imigran baru dari berbagai negara. Dalam berbagai perlombaan tersebut, Whena kerap meraih juara.

Resep juara

Whena punya kiat-kiat agar tarian yang ditampilkan punya nilai lebih di depan juri. Menurutnya, banyak gerak tari yang ia ketahui memiliki gerakan yang repetitif dan tidak jarang dibawakan oleh beberapa penari dalam satu lomba yang sama. 

Menurut Whena, kondisi tersebut dapat membuat penampilan terasa monoton di mata juri. Oleh karena itu, ia berupaya mengembangkan gerakan-gerakan baru tanpa mengabaikan pakem tarian aslinya.

“Saya pelajari gerakan mana yang tidak bisa diubah, dan yang bisa saya ubah akan saya kreasikan. Seperti kuda lumping, misalnya, dari lima sampai tujuh gerakan akan saya kreasikan. Dan saya mencoba tidak melakukan pengulangan,” katanya.

Whena menyebut resep ini, kemudian ia mengajarkan kepada teman-teman Indonesia lain yang kini aktif mengikuti lomba menari di Taiwan. 

Menurut Whena, lomba menari umumnya tidak terbatas pada tarian Indonesia saja, tetapi juga menampilkan penari-penari lain dari negara lain yang juga tinggal di Taiwan. Jika Indonesia tidak mampu menampilkan kekhasannya, maka bisa jadi kalah. 

“Oleh karena itu, kiat-kiat yang saya kasih tahu adalah cara bagaimana tetap mempertahankan nama baik Indonesia,” kata Whena.

Kurang sumber daya

Whena mengatakan saat ini ia tidak memiliki sanggar pribadi di Taiwan. Namun, ia aktif berinteraksi dan mengenal sejumlah kelompok tari Indonesia yang berbasis di Taiwan, yang anggotanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pasangan imigran baru, pelajar, hingga pekerja migran.

Meski demikian, Whena mengakui tidak banyak warga Indonesia di Taiwan yang bersedia mendedikasikan diri mereka untuk pelestarian budaya Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dimaklumi karena sebagian besar migran Indonesia di Taiwan bekerja dan memiliki waktu luang yang terbatas.

Selain itu, pengalaman hidup dan latar belakang setiap orang juga berbeda. Tidak semua warga Indonesia di Taiwan memiliki minat terhadap seni tari sejak kecil seperti dirinya. Karena itu, mengajak mereka yang memang tidak tertarik terhadap tari untuk terlibat dalam kegiatan pelestarian budaya bukanlah hal yang mudah.

“Jadi bagaimana mereka mau tertarik kalau tidak suka,” kata Whena.

Dari sisi ekonomi, menurutnya, aktivitas menari juga belum menjanjikan kepastian penghasilan. Meski demikian, kegigihannya selama ini membuatnya memperoleh pemasukan tambahan dari hobinya tersebut.

“Tetapi kalau orang lain kan saya tidak tahu. Saya sih secara pribadi selalu oke (ketika ada ajakan menari),” ucapnya.

Whena sendiri tak memungkiri kalau bekerja dengan penyelenggara acara lokal, biasanya mereka akan lebih menghargai penampil. Baik dari segi honor maupun ramah tamah. Sedangkan, di acara yang digagas oleh sesama orang Indonesia, biasanya ada kesan menganggap wajar jika penyelenggara tidak mampu melayani dengan baik karena akan saling maklum sebagai sesama orang Indonesia. Kendati begitu, ia memahami situasi ini meski tetap berharap perbaikan agar menjadi nilai tambah bagi komunitas Indonesia di Taiwan sendiri.

Whena saat ini tetap merasa bersyukur bahwa ia bisa menjadi salah satu perpanjangan tangan Indonesia di Taiwan melalui jalur budaya. Hal ini pun yang membuat dirinya merasa lebih punya makna tinggal di Taiwan selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

“Saya ingin tetap melestarikan kebudayaan yang saya bisa di sini. Terus melestarikan budaya Indonesia,” ucapnya seraya berpesan kepada para migran baru agar tetap semangat, tulus, dan ikhlas dalam mengejar cita-citanya di tanah rantau.

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.