Taipei, 22 Apr. (CNA) Menteri Pendidikan Taiwan Cheng Ying-yao (鄭英耀) pada Jumat (22/5) mengumumkan peluncuran program “AI Talent Ark” yang bertujuan tidak hanya mengajarkan penggunaan kecerdasan buatan (AI), tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan yang tidak dapat digantikan oleh AI.
Dalam konferensi pers peluncuran program tersebut, Kementerian Pendidikan (MOE) Taiwan memperkenalkan empat fokus utama kebijakan, yakni kemampuan belajar menggunakan AI, kemampuan menggunakan AI secara bertanggung jawab, kemampuan memanfaatkan AI untuk memecahkan masalah, serta kemampuan yang tidak dapat digantikan AI.
Cheng mengatakan bahwa pemerintah tidak sekadar ingin mengajarkan anak-anak cara menggunakan AI, tetapi juga memikirkan seperti apa talenta yang dibutuhkan di era AI.
Ia menambahkan bahwa meskipun kemampuan lintas disiplin semakin penting, membentuk individu yang menguasai berbagai bidang sekaligus bukanlah hal mudah.
Menurut Cheng, perkembangan teknologi AI membuat setiap orang seolah memiliki “Einstein” sebagai asisten, yang telah membawa perubahan besar terhadap perkembangan industri dan sistem pengembangan sumber daya manusia.
Karena itu, selain mempelajari penggunaan AI, masyarakat juga perlu mengembangkan kemampuan yang tidak dapat digantikan teknologi, seperti kehangatan dalam interaksi antarmanusia, imajinasi, dan kreativitas.
Direktur independen Appier, Chien Lee-feng (簡立峰) yang turut hadir dalam konferensi pers, mengatakan bahwa AI masih belum mampu menggantikan empati, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.
Ia menilai kemampuan manajerial juga perlu dilatih sejak usia dini, bukan baru dipelajari saat menempuh pendidikan eksekutif tingkat lanjut.
Menurut Chien, di era AI, kemampuan bertanya menjadi semakin penting karena proses belajar dapat dilakukan kapan saja dengan bantuan teknologi.
MOE menjelaskan bahwa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, program akan menekankan kolaborasi dengan AI agar teknologi dapat menjadi alat bantu berpikir dan belajar.
Program tersebut juga akan mengintegrasikan enam subprogram, termasuk pengembangan sistem pembelajaran dan pengayaan konten digital.
Sementara pada jenjang pendidikan tinggi, pemerintah akan mengintegrasikan program ini dengan tahap ketiga proyek pengembangan pendidikan tinggi Taiwan periode 2028–2032, dengan perencanaan awal dimulai pada September tahun ini.
(Oleh Chen Chih-chung dan Agoeng Sunarto)