Taipei, 22 Mei (CNA) Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei menggelar kegiatan sosialisasi dan fasilitasi sertifikasi halal bagi toko dan restoran Indonesia di Taiwan pada Senin (18/5) sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem halal dan mendukung pengembangan usaha diaspora Indonesia, tulis rilis pers KDEI.
Menurut keterangan KDEI, pimpinan Taipei Grand Mosque, Yasir Chang turut hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut. Rakha Ramadhana selaku penggagas aplikasi Halal Formosa juga turut hadir sebagai pembicara bersama dengan pimpinan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan dan Muhammadiyah Taiwan.
Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo, dalam sambutannya menegaskan komitmen KDEI Taipei dalam mendukung diaspora Indonesia dalam membangun usaha berbasis halal yang profesional, terpercaya, dan berdaya saing.
“Toko Indonesia di Taiwan lebih dari 700 yang tersebar di seluruh wilayah Taiwan. KDEI Taipei tidak hanya memikirkan perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) di Taiwan, tetapi juga memikirkan ekosistemnya, salah satunya adalah toko Indonesia di Taiwan. KDEI siap mengawal dan membantu mempercepat perwujudan ekosistem halal, khususnya bagi diaspora Indonesia yang bergerak di bidang makanan dan minuman,” ujarnya.
Selain itu, KDEI Taipei mendukung penguatan ekosistem toko Indonesia sebagai "rumah kedua" bagi masyarakat Indonesia di Taiwan, ujar Arif.
Sementara itu, dalam pemaparannya, Yasir Chang menjelaskan secara komprehensif mengenai konsep halal, perkembangan Taiwan sebagai destinasi ramah Muslim, serta mekanisme untuk memperoleh sertifikasi halal.
“Perkembangan komunitas Muslim di Taiwan cukup signifikan. Taiwan memiliki visi sebagai wilayah yang ramah Muslim, sehingga kontribusi masyarakat Muslim perlu mendapatkan perhatian dan dukungan lebih luas,” jelas Yaser.
Yaser menekankan bahwa kolaborasi antara KDEI Taipei, Taipei Grand Mosque, dan organisasi Islam di Taiwan akan mempercepat perwujudan ekosistem halal melalui fasilitasi sertifikasi halal bagi toko dan restoran Indonesia di Taiwan.
Dalam sosialisasi tersebut juga disampaikan sejumlah aspek penting terkait standar halal, antara lain penggunaan bahan baku halal, penerapan kepatuhan mandiri, penandatanganan kepatuhan halal, biaya sertifikasi yang kompetitif, serta pengawasan bersama untuk memastikan kepatuhan terhadap standar halal, tulis keterangan tersebut.
Sementara itu, Rakha Ramadhana memperkenalkan aplikasi Halal Formosa sebagai platform digital yang memudahkan masyarakat memperoleh informasi mengenai restoran dan toko yang telah memiliki sertifikasi halal di Taiwan. Kehadiran aplikasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan konsumen dengan penyedia makanan dan minuman halal secara lebih efektif, menurut keterangan KDEI.
Sebagai langkah lanjutan, KDEI Taipei bersama para mitra juga akan memberikan wadah untuk berkonsultasi lebih detail, mendukung penyediaan platform data GPS toko Indonesia untuk integrasi ke sistem halal lokal, serta penyusunan daftar pemasok daging halal guna memperkuat rantai pasok bersama.
Wawan Kurniawan, Kepala Bidang Administrasi KDEI Taipei dalam wawancaranya bersama CNA mengatakan bahwa KDEI mendukung dan memastikan diaspora Indonesia dalam membangun usaha berbasis halal yang profesional, terpercaya, dan berdaya saing. Tujuan diadakan kegiatan bersama ini adalah untuk memberikan pendampingan administratif dan teknis dalam proses pengurusan sertifikasi halal.
Pada kesempatan tersebut juga sekaligus dikukuhkan kembali organisasi Asosiasi Pengusaha Indonesia di Taiwan (APIT), ujar Deyantono, Ketua APIT kepada CNA melalui sambungan telepon.
Deyantoro menilai kegiatan yang diselenggarakan oleh KDEI sangat bagus untuk semua toko-toko Indonesia di Taiwan. Ia melihat banyak toko-toko Indonesia yang datang. Dari hasil undangan anggota APIT ada sekitar 92 toko, tetapi kemarin ia melihat ada 100 lebih toko yang datang, bahkan ada yang datang dari Kaohsiung, Pingtung dan Taitung.
“Saya berterima kasih sekali kepada pak Arif yang memberikan kesempatan ini kepada kami. Kegiatan semacam ini untuk pertama kalinya diadakan oleh KDEI. Pak Arif sangat peduli dengan status halal toko-toko Indonesia di Taiwan. Namun, sayangnya, setelah dicek oleh pihak panitia yang dapat memberikan sertifikasi halal, ada beberapa toko yang tidak bisa mendapatkan sertifikat halal dikarenakan menjual bir. Namun secara keseluruhan, kami mengapresiasi kegiatan seperti ini, dan merasa terbantu sekali,” ujar Deyantoro.
Sementara itu, salah satu peserta yang hadir, Jenny JR, mengatakan bahwa kegiatan tersebut sangat bagus sekali untuk diadakan karena membantu toko-toko Indonesia untuk melengkapi standar halal.
“KDEI sangat bagus memfasilitasi sertifikasi halal bagi toko-toko Indonesia kami. Kami merasa ada dukungan untuk berbisnis makanan halal. Seperti yang kita tahu, umat Muslim pasti memilih makanan yang ada logo halal-nya karena aman untuk dikonsumsi. Jika produk tersebut ada logo halal, maka akan ada nilai plusnya,” ujar Jenny yang membuka bisnis salon dan kuliner Indonesia sejak tahun 2020 di Taoyuan.