Taipei/London, 20 Mei (CNA) Yang Shuang-zi (楊双子), yang novelnya berjudul "Taiwan Travelogue" memenangkan International Booker Prize pada Selasa (20/5), mengatakan bukunya merupakan bagian dari tradisi panjang teks-teks Taiwan yang mempertanyakan seperti apa masa depan dan bangsa yang diinginkan rakyat Taiwan.
Yang dan penerjemah bahasa Inggris bukunya, Lin King (金翎), menerima penghargaan tersebut dalam sebuah upacara di Tate Modern Museum di London, menjadikan novel tersebut sebagai karya pertama dari Taiwan yang memenangkan salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di Inggris.
Dalam pidato penerimaannya, Yang mengatakan bahwa bertentangan dengan pandangan bahwa seni dan sastra harus dijauhkan dari politik, ia percaya sastra "tidak dapat dipisahkan dari tanah tempat ia tumbuh."
"Saat menelusuri sejarah modern sastra Taiwan, tampak jelas bahwa kami para penulis telah menanyakan pertanyaan yang sama selama satu abad terakhir: Masa depan seperti apa yang diinginkan rakyat Taiwan? Bangsa seperti apa yang diinginkan rakyat Taiwan?"
"Taiwan Travelogue", ujarnya, juga bergabung dalam daftar panjang teks-teks yang menyelidiki pertanyaan-pertanyaan ini.
Dengan mencatat bahwa rakyat Taiwan telah mengalami "kekuatan geopolitik yang jauh lebih besar dari kami sendiri," seperti rezim kolonial dan ancaman invasi, Yang mengatakan ia tetap percaya bahwa sastra memiliki kekuatan.
"Saya percaya pada kekuatan sastra karena dalam kehidupan pikiran, sastra tidak pernah menyerah atau berhenti berdialog antar manusia," katanya.
Yang mendedikasikan kata-kata penutup pidatonya untuk "tanah airku, Taiwan" dengan mengatakan tradisi penyelidikan dalam sastra Taiwan yang telah berusia berabad-abad itu sebenarnya adalah "perjuangan mengejar kebebasan dan kesetaraan rakyat Taiwan selama berabad-abad."
"Saya merasa sangat beruntung telah lahir sebagai orang Taiwan. Saya sangat bangga hari ini berdiri di hadapan kalian sebagai seorang penulis dari Taiwan," kata Yang.
Lin King
Dalam pidato penerimaannya, King mengatakan bahwa setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, ia memutuskan bahwa alih-alih menerjemahkan karya-karya Sinofon "secara sembarangan," ia hanya akan menerjemahkan karya-karya dari Taiwan untuk masa mendatang.
"Saya akan terus melakukannya, saya katakan pada diri sendiri, sampai tiba hari di mana kedaulatan tanah air saya tidak lagi menjadi provokasi atau bahan lelucon, sampai tidak ada lagi penutur bahasa Inggris yang merasa nyaman berkata kepada saya, dengan enteng, 'Saya benar-benar harus mengunjungi kamu di Taiwan -- selagi Taiwan masih ada.'"
King mengatakan versi bahasa Inggris novelnya -- yang mencakup kata pengantar penerjemah, kata penutup, catatan kaki, dan tiga sistem pelafalan untuk karakter yang sama -- menantang standar industri penerbitan bahwa terjemahan dan penerjemah "akan lebih baik jika kami tidak terlihat."
Itu juga membutuhkan kerja keras dari pembaca, katanya, "Karena ia menolak untuk menyederhanakan realitas Taiwan yang multibahasa, multikultural, dan multi-etnis."
Pertama kali diterbitkan pada 2020, "Taiwan Travelogue" adalah karya fiksi sejarah yang berlatar tahun 1938 selama era kolonial Jepang di Taiwan.
Novel ini mengikuti persahabatan antara seorang wanita Taiwan dan seorang wanita Jepang melalui perjalanan kuliner dan kereta api melintasi Taiwan, mengeksplorasi pertanyaan tentang identitas, kekaisaran, dan pertukaran budaya.
Booker Prize Foundation mengatakan novel tersebut telah dipilih para juri dari daftar pendek yang menampilkan penulis dan penerjemah dari delapan negara dan karya-karya yang awalnya ditulis dalam lima bahasa.
Juri menggambarkan novel tersebut sebagai "kisah cinta yang manis pahit antara dua wanita, yang terbungkus dalam eksplorasi seni tentang bahasa, sejarah, dan kekuasaan."
Dalam pidato memperingati tahun keduanya menjabat pada Rabu, Presiden Lai Ching-te (賴清德) mengucapkan selamat kepada Yang dan King atas penghargaan tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu menunjukkan bahwa anak muda Taiwan "dapat bersinar di panggung dunia."
Selesai/