Taipei, 21 Mei (CNA) Utusan tertinggi Amerika Serikat untuk Taiwan menegaskan kembali bahwa komitmen jangka panjang Washington terhadap Taiwan tidak berubah setelah Presiden AS Donald Trump menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai "alat tawar-menawar yang baik" dalam berurusan dengan Tiongkok.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News yang ditayangkan tak lama setelah Trump menyelesaikan kunjungan ke Tiongkok dan pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平) pada 13-15 Mei, Trump mengatakan ia sedang mempertimbangkan apakah akan menyetujui paket penjualan senjata senilai US$14 miliar (Rp7,8 triliun) untuk Taiwan.
Kemudian, ketika ditanya lagi tentang isu tersebut, Trump mengatakan keputusan itu tergantung pada Tiongkok.
"Saya menahan itu, dan itu tergantung pada Tiongkok," katanya. "Itu adalah alat negosiasi yang sangat baik bagi kami, sejujurnya. Itu banyak senjata."
Pernyataan Trump tampaknya melanggar Enam Jaminan AS kepada Taiwan -- yang dikeluarkan oleh pemerintahan mantan Presiden Ronald Reagan pada tahun 1982 -- yang mencakup janji untuk tidak berkonsultasi dengan Beijing mengenai penjualan senjata ke Taiwan.
Trump, yang mengatakan bahwa Xi mengangkat isu penjualan senjata, tampaknya secara langsung mengabaikan janji tersebut.
"Apa yang harus saya katakan? Saya tidak ingin membicarakannya dengan Anda karena saya punya perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1982?"
Ketika dimintai tanggapan atas pernyataan Trump, Direktur American Institute in Taiwan (AIT) Raymond Greene mengatakan kepada CNA dalam wawancara tertulis bahwa Trump dan pejabat senior AS lainnya telah menegaskan kembali bahwa tidak ada perubahan dalam kebijakan AS terhadap Taiwan "dan bahwa sikap ini telah disampaikan dengan jelas kepada pihak Tiongkok."
"Kebijakan ini, yang terdiri dari Tiga Komunike, Undang-Undang Hubungan Taiwan, dan Enam Jaminan, telah konsisten di seluruh pemerintahan AS dari kedua partai dan telah memastikan perdamaian di Selat Taiwan selama hampir lima dekade," kata Greene.
Ia juga mengatakan bahwa pertemuan Trump-Xi yang baru saja selesai di Beijing telah menghasilkan hasil yang memuaskan bagi Washington, seraya menambahkan bahwa "membangun kerangka kerja yang stabil untuk hubungan bilateral akan membantu meningkatkan keamanan regional, termasuk di Selat Taiwan."
Gedung Putih juga telah menegaskan bahwa Washington tidak melihat "hubungan AS-Tiongkok yang stabil dan kemitraan AS-Taiwan yang kuat sebagai sesuatu yang saling bertentangan," katanya.
Greene juga mengatakan bahwa AS menyambut baik penegasan kembali Presiden Lai Ching-te (賴清德) atas komitmen jangka panjang Taiwan terhadap dialog lintas Selat Taiwan dan menjaga status quo lintas selat.
Washington berharap Beijing akan membalas dengan berinteraksi dengan para pemimpin Taiwan yang terpilih secara demokratis "tanpa prasyarat dan dengan mengurangi tekanan militer di sekitar Taiwan," kata Greene.
Ketika ditanya tentang pengesahan anggaran pertahanan khusus oleh Yuan Legislatif dengan batas pengeluaran sebesar NT$780 miliar (Rp436 triliun) yang secara eksklusif untuk sistem senjata AS, Greene mengatakan AS memandang pengesahan tersebut sebagai "langkah awal penting untuk memenuhi kebutuhan pertahanan mendesak Taiwan."
"Kami sekarang menantikan Yuan Legislatif bekerja secara kolaboratif untuk memastikan pengesahan pendanaan yang cepat untuk kemampuan lain yang diminta oleh Kementerian Pertahanan Nasional, termasuk drone dan pertahanan udara serta rudal terintegrasi," katanya.
Perjalanan Ketua KMT ke AS yang Akan Datang
Terkait rencana perjalanan Ketua oposisi Kuomintang (KMT) Cheng Li-wun (鄭麗文) ke AS, yang dilaporkan dijadwalkan pada bulan Juni, Greene mengatakan kepada CNA bahwa banyak anggota parlemen dan cendekiawan Amerika menantikan untuk bertemu langsung dengannya.
Ia mengatakan banyak dari mereka tertarik untuk menanyakan apakah kepemimpinan KMT "secara fundamental mengubah orientasi politik partai."
Menurut Greene, sebagian besar orang Amerika "mengaitkan KMT dengan Chiang Kai-shek dan perjuangan melawan komunisme," sementara banyak pakar kebijakan luar negeri memandang KMT modern sebagai "partai sentris" yang berupaya menyeimbangkan pertahanan yang kuat dan kerja sama dengan AS sambil berinteraksi dengan Beijing "untuk menjaga status quo."
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, laporan media internasional telah menciptakan kesan bahwa KMT "telah mulai mengadopsi atau meniru posisi PKT dalam isu-isu diplomatik dan keamanan utama," sementara tidak mempertimbangkan kepentingan AS atau Jepang, kata Greene.
"Kunjungan ini seharusnya menjadi kesempatan untuk menjawab kekhawatiran tersebut, serta memperjelas sikap KMT terhadap isu-isu yang masih tertunda seperti investasi di basis industri pertahanan Taiwan," kata Greene.
Greene adalah direktur AIT, yang berfungsi sebagai kedutaan de facto AS di Taiwan di tengah tidak adanya hubungan diplomatik resmi.