Taipei, 15 Mei (CNA) Kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis bagi pekerja migran Indonesia (PMI) digelar di dua pelabuhan di Taiwan utara dan turut diikuti anak buah kapal (ABK) migran asal Filipina serta Vietnam, dengan sejumlah peserta terdeteksi mengalami tekanan darah tinggi hingga gangguan kesehatan mental, menurut panitia dan aktivis setempat.
Kegiatan yang diprakarsai Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) itu digelar pada Kamis (14/5) di Pelabuhan Zhengbin dengan diikuti 25 peserta, kemudian berlanjut ke Pelabuhan Wanli pada siang hingga sore hari yang dihadiri 20 peserta lainnya.
Aktivis organisasi Rerum Novarum, Jason Lee (李正新), mengatakan kepada CNA di lokasi bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi PMI, tetapi juga diikuti oleh nelayan migran asal Filipina dan Vietnam yang memanfaatkan kesempatan untuk memeriksakan kesehatan mereka.
Pemeriksaan kesehatan yang diberikan meliputi pengecekan tekanan darah dan berat badan, konsultasi gizi, penanganan keluhan kesehatan sehari-hari, hingga pemeriksaan kesehatan mental.
Salah satu panitia dari UI mengatakan kepada CNA bahwa sejumlah ABK di Pelabuhan Zhengbin diketahui memiliki tekanan darah tinggi, berkisar 150 hingga 177, yang dipengaruhi pola makan kurang teratur, minim istirahat, dan kurang berolahraga.
Sementara itu, beberapa ABK di Pelabuhan Wanli diketahui mengalami tekanan mental yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Ketua Keelung Migrant Fishermen’s Union (KMFU), Ochen, menyampaikan apresiasi kepada FIK UI dan para aktivis yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Saya berterima kasih dengan adanya kegiatan ini sehingga bisa mendeteksi kesehatan para ABK. Sebenarnya, kegiatan pengecekan kesehatan untuk ABK ini sering diadakan, tetapi kesadaran untuk menjaga kesehatan itu sendiri sangat minim disadari oleh para ABK,” ujar Ochen yang telah bekerja di Taiwan selama lebih dari 10 tahun.
Ia menambahkan bahwa banyak ABK sebenarnya ingin mengikuti kegiatan tersebut, tetapi tidak dapat hadir karena sedang melaut pada musim penangkapan cumi-cumi.
Selain itu, Ochen menyoroti kondisi tempat istirahat ABK yang dinilai kurang layak.
"Kami tidur di kapal dan sering mendengar suara mesin kapal yang keras membuat tidur tidak nyaman, dan juga susah untuk mendengar alarm kebakaran dan peringatan berbahaya lainnya yang membuat kehidupan ABK rentan terancam kecelakaan kerja,” sambungnya.
Ketua delegasi FIK UI, Dr. Tuti Afriani, S.Kp., M.Kep., mengatakan kegiatan pemeriksaan kesehatan bagi PMI di Taiwan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat internasional yang dijalankan FIK UI.
Menurut Tuti, program tersebut menjadi bentuk kepedulian FIK UI terhadap PMI di Taiwan sekaligus bertujuan mengembangkan tata kelola layanan kesehatan terintegrasi berbasis komunitas melalui pendekatan promotif dan preventif.
Tuti yang juga menjabat sebagai Ketua Klaster Smart Leadership, Informatics for Management Excellent (Smart LIME), berharap program serupa dapat meningkatkan kesadaran pekerja migran terhadap pentingnya menjaga kesehatan fisik maupun mental selama bekerja di Taiwan.