Taipei, 21 Mei (CNA) Program pengecekan kesehatan gratis bagi pekerja migran Indonesia (PMI) yang dipelopori Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI) digelar serentak di Taipei, Taichung, dan Kaohsiung, serta menemukan banyak PMI mengalami tekanan darah tinggi dan masalah kesehatan mental, menurut panitia.
Kegiatan pengecekan kesehatan gratis bertema “Promoting Health and Well Being Among Indonesian Migrant Workers” ini digelar pada Minggu (17/5) di sekretariat Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taichung dan Kaohsiung, sementara di Taipei berlangsung di 壽德大樓 pukul 10.00-16.00.
Kegiatan yang dibuka oleh Johanes Andi Susanto, Wakil Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI), ini dihadiri oleh 71 peserta. Kepada CNA, Andi mengatakan, mewakili pihak KDEI, ia berterima kasih atas kegiatan yang diselenggarakan oleh UI karena dapat membantu rekan-rekan PMI.
“Penting untuk menginformasikan kepada PMI bahwa kesehatan itu sebagai modal untuk bekerja. Dengan adanya pengecekan ini, PMI jadi tahu jika ada indikasi gangguan kesehatan. Jadi lebih mencegah daripada mengobati. Dengan menjaga kesehatan, PMI bisa bekerja dengan baik, keluarga di rumah juga tidak perlu khawatir dan dapat menyelesaikan kontrak dengan baik dan pulang ke Indonesia dengan sukses,” ujar Andi.
Rangkaian kegiatan meliputi pemeriksaan kesehatan dasar seperti pengecekan tekanan darah, pengukuran proporsi berat badan ideal, serta deteksi masalah kesehatan mental.
Saat diwawancarai CNA di akhir kegiatan, salah satu sukarelawan, Kevin Aristyo, mengatakan keluhan yang paling banyak ditemukan pada PMI yang mengikuti pemeriksaan kesehatan antara lain nyeri pinggang dan tekanan darah tinggi.
Secara umum, kondisi kesehatan peserta tergolong baik, namun laki-laki usia 40-50 tahun cenderung mengalami tekanan darah tinggi.
“Saran saya tetap solid menjaga kesehatan dengan cara mengikuti segala informasi yang disediakan oleh www.migrant-center.com yang baru saja dirilis oleh teman-teman UI. Selain itu, rekan-rekan PMI harus ada kesadaran pengecekan rutin,” ujar Kevin yang saat ini sedang belajar di program doktoral di College of Medicine, Taipei Medical University (TMU).
“Menjaga kesehatan mental juga tak kalah penting. Akan lebih baik jika ada penyebaran kuesioner setiap tahun yang dilakukan oleh KDEI, agensi serta organisasi migran Taipei untuk screening sehingga bisa terdeteksi apakah ada depresi atau kecemasan pendeteksian sejak dini,” lanjut Kevin yang pernah menjadi dokter di RSUI ini.
Sore harinya, tim Pengmas UI dan para sukarelawan Taipei juga melakukan kunjungan ke kantor sekretariat PCINU Taipei yang berada di dekat TMS. Dari hasil pengecekan, sebanyak 20 orang secara keseluruhan menunjukkan hasil kesehatan mentalnya baik, tetapi masih ada beberapa orang yang mempunyai angka tekanan darah tinggi di atas normal, ungkap Tuti Afriani selaku ketua rombongan.
Salah satu peserta, Eki David, yang bekerja di pabrik suku cadang sepeda motor di Hsinchu, mengatakan kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi PMI untuk mengetahui kondisi kesehatannya, dan ia bersyukur jika hasil kondisi kesehatannya baik. Sedangkan Siti Khalimah, perawat lansia di Taipei, mengatakan ia sangat senang dengan adanya pengecekan kesehatan ini karena bisa berkonsultasi dan mendapatkan banyak bimbingan.
Selain di Taipei, hasil konsultasi kesehatan terhadap 37 peserta di Kaohsiung menunjukkan banyak PMI belum mampu menjaga pola makan dengan baik.
Perwakilan Tim Pengmas FIK UI, Baskoro Abdiansyah, mengatakan pihaknya banyak memberikan edukasi mengenai pengaturan pola makan sehat dan peningkatan aktivitas fisik.
“Banyak juga yang mengeluhkan sakit tulang belakang karena tidak tahu bagaimana bekerja dengan posisi yang benar, terutama bagi mereka yang bekerja di pabrik dan kerap mengangkat barang-barang berat. Kesehatan mental tidak banyak yang terganggu, namun lebih banyak diberikan edukasi terkait sindrom metabolik dan juga keselamatan kerja. Banyak pekerja pabrik dan nelayan yang datang untuk berkonsultasi, ujar Baskoro.
Sementara itu, hasil pengecekan di Taichung menemukan banyak PMI yang tidak menjaga pola makan dengan benar, seperti banyak makan gorengan dan kurang beraktivitas, ujar Wirda Y. Dulahu, perwakilan Pengmas FIK UI.
“Kami banyak memberikan edukasi mengenai bagaimana menjaga pola makan yang benar. Banyak peserta yang mengatakan mereka sering makan goreng-gorengan. Saat dicek tekanan darah, ada beberapa indikasi hipertensi. Ada juga gangguan kesehatan mental, bahkan ada yang masuk depresi sedang. Dengan tim jiwa melakukan konseling, akhirnya terbuka dan ada yang menangis. Bahkan kami menemukan indikasi yang mengarah pada penyakit jiwa jika tidak dilakukan penanganan secepatnya,” ujar Wirda yang juga seorang dosen keperawatan di Sulawesi.
“Dari 40 peserta yang hadir, beberapa terindikasi gangguan kesehatan mental yang mengarah ke tingkat sedang. PMI kerap mengalami tekanan dari pekerjaannya dan jauh dari keluarga. Saran saya, sebaiknya dibuka fasilitas untuk konseling. Mungkin PMI susah untuk terbuka dengan teman-teman karena faktor kepercayaan. Namun tim konseling profesional dapat membantunya,” sambungnya.
Kegiatan yang diprakarsai oleh Pengmas FIK UI juga bekerja sama dengan para sukarelawan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kaohsiung, PPI TMU, Indonesian Student Community (ISC) Kaohsiung Medical University (KMU), PPI National Chung Hsing University (NCHU), Universitas Terbuka Taiwan (UTT) Peduli serta PCINU ranting Taichung dan Kaohsiung.