Taipei, 15 Mei (CNA) Pernyataan Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平) terkait Taiwan dalam pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Beijing pada Kamis (14/5) dipandang sejumlah pakar sebagai peringatan untuk Washington.
Trump dan Xi mengadakan pertemuan selama dua jam di Beijing pada Kamis pagi, yang menjadi inti dari kunjungan pertama Trump ke Tiongkok sejak kembali ke Gedung Putih pada 2025.
Setelah pertemuan, Xinhua News Agency milik negara Tiongkok melaporkan Xi mengatakan kepada Trump bahwa "masalah Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan Tiongkok-AS," dan jika tidak "ditangani dengan baik," kedua negara dapat mengalami "bentrokan bahkan konflik," yang dapat membahayakan seluruh hubungan.
Xi juga mengatakan bahwa kemerdekaan Taiwan dan perdamaian di Selat Taiwan "sama tidak dapat didamaikannya seperti api dan air," menurut laporan Xinhua.
Menanggapi ini, Aswin Lin, peneliti pascadoktoral asal Indonesia di Taiwan Foundation for Democracy, mengatakan kepada CNA bahwa ia melihat posisi Beijing dan Washington tidak berubah setelah pertemuan.
Xi memberi "kode keras" bernada Perangkap Thucydides, di mana ia memperingatkan Trump bahwa perang kekuatan besar di dunia disebabkan pihak ketiga yang lebih kecil, kata Aswin, menambahkan bahwa urusan Taiwan "tidak akan selesai di sini."
Sementara itu, Wang Hsin-hsien (王信賢), Direktur Institut Hubungan Internasional di National Chengchi University mengatakan pernyataan tersebut "lebih keras" dibandingkan sebelumnya, terutama karena Xi menggunakan kata-kata seperti "bentrokan" dan "konflik," yang memiliki nuansa militer.
Wang juga mencatat bahwa referensi Xi selanjutnya pada "bahaya besar" dan pada kemerdekaan Taiwan serta perdamaian lintas selat yang "sama tidak dapat didamaikannya seperti api dan air" menunjukkan Beijing telah meningkatkan karakterisasi isu Taiwan, membuat pernyataan tersebut lebih tegas dibandingkan sebelumnya.
Demikian pula, Wang Hung-jen (王宏仁), seorang profesor di Departemen Ilmu Politik National Cheng Kung University, mengatakan kepada CNA bahwa pernyataan Xi merupakan "peringatan keras dan tegas" dari Beijing kepada Washington.
Pada dasarnya, Xi memperingatkan bahwa jika Washington tidak menangani isu Taiwan sesuai dengan posisi Beijing, hal itu dapat menyebabkan "konflik besar" antara AS dan Tiongkok, kata Wang.
Peringatan Xi bisa jadi merupakan "upaya sengaja" untuk memberi tekanan pada pihak AS di awal pertemuan, dan kemungkinan merupakan bagian dari strategi Beijing untuk menentukan agenda pembicaraan Trump-Xi, yang diperkirakan akan berlanjut saat Xi mengunjungi AS akhir tahun ini, tambahnya.
Sementara itu, menanggapi pernyataan Xi, Dewan Urusan Tiongkok Daratan (MAC) dalam rilis pers pada Kamis menyebut Taiwan adalah "pihak yang bertanggung jawab dalam menjaga perdamaian Selat Taiwan, serta merupakan kekuatan kunci yang penting bagi kemakmuran ekonomi global."
Republik Tiongkok (Taiwan) dan Republik Rakyat Tiongkok "tidak berada di bawah satu sama lain, hal ini merupakan fakta objektif sekaligus status quo di Selat Taiwan," tambah lembaga pemerintah Taiwan yang menangani urusan lintas selat tersebut.
Sementara itu, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok terus melakukan berbagai bentuk tekanan terhadap Taiwan di kawasan rantai pulau pertama dan sekitar Selat Taiwan, kata MAC. "Hal inilah yang saat ini menjadi risiko terbesar yang merusak perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan serta kawasan."
Taiwan akan terus membangun kemampuan pertahanan dan ketahanan yang efektif, serta bekerja sama erat dengan negara-negara sahabat dan sekutu, termasuk AS, tambah MAC, menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga status quo di Selat Taiwan.
Pemerintah, kata MAC menyerukan agar Beijing "menghadapi realitas lintas selat, meninggalkan prasyarat politik, menghentikan tekanan gabungan terhadap Taiwan, serta mengatasi perbedaan dan secara pragmatis memperbaiki hubungan lintas selat melalui komunikasi dan dialog dengan pemerintah terpilih Taiwan."
Wakil Kepala dan Juru Bicara MAC, Liang Wen-chieh (梁文傑) dalam jumpa pers pada Kamis mengatakan jika benar-benar mementingkan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, Tiongkok seharusnya terlebih dahulu menahan tindakan intimidasi militernya terhadap Taiwan.
Liang juga menyebutkan pihaknya "tidak menerima sinyal" bahwa Taiwan dirugikan pertemuan Trump-Xi kali ini.
Pada Kamis malam, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan tentang pertemuan tersebut, yang memuat rincian seperti kedua pihak telah membahas cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi bilateral, tetapi tidak menyebutkan isu Taiwan, berbeda dengan yang dilaporkan Xinhua News Agency.
Menanggapi ini, Wang mengatakan bahwa dari perspektif Washington, Taiwan memang tidak dimaksudkan menjadi topik utama dalam putaran pembicaraan kali ini, dan pihak AS tidak berniat melakukan diskusi serius dengan Beijing mengenai isu tersebut, karena tidak ada perkembangan besar terkait Taiwan belakangan ini.
Ia mengatakan laporan dari Beijing oleh karena itu "agak menyesatkan," karena tampaknya bertujuan menciptakan kesan bahwa AS dan Tiongkok sedang bersama-sama menangani isu Taiwan, padahal pernyataan Gedung Putih menunjukkan hal itu tidak terjadi.
Beijing bisa jadi sedang mencoba "memanipulasi pesan" seputar pertemuan tersebut, tambahnya.
Sementara itu, Patricia Kim, seorang pakar Tiongkok di Brookings Institution, mengatakan bahwa perbedaan ringkasan tersebut mencerminkan strategi pesan yang kontras.
"Beijing ingin menunjukkan bahwa mereka menekan isu Taiwan secara agresif, sedangkan Washington ingin tetap fokus pada kerja sama ekonomi," kata Kim kepada CNA.
Kim mengatakan bahwa Beijing dan Washington "mengelola tampilan secara berbeda."
Kim juga menyoroti apa yang ia gambarkan sebagai "kesenjangan interpretasi" mendasar terkait kebijakan "satu Tiongkok" AS.
Meskipun Washington tidak mendukung kemerdekaan Taiwan, mereka berpendapat bahwa membantu Taiwan mempertahankan diri melalui penjualan senjata dan kerja sama keamanan diperlukan untuk mencegah Taipei bernegosiasi dengan Beijing di bawah tekanan, katanya.
"Masalahnya adalah Beijing melihat tindakan AS ini sebagai dorongan bagi kemerdekaan Taiwan," kata Kim, seraya menambahkan bahwa perbedaan interpretasi ini kemungkinan akan terus memicu ketegangan.
Thomas Shattuck, manajer program senior di Perry World House, University of Pennsylvania, mengatakan penghilangan Taiwan dari ringkasan Gedung Putih sendiri membawa pesan.
"Taiwan adalah nomor satu bagi Tiongkok," kata Shattuck kepada CNA. "Amerika Serikat, dengan tidak memasukkan Taiwan dalam ringkasan, menunjukkan bahwa itu bukan sesuatu yang benar-benar bisa dinegosiasikan."
Sebelum pertemuan, Trump sempat menyatakan akan membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi, sehingga menimbulkan kekhawatiran di Taiwan apakah kebijakan Washington bisa berubah.
Meski laporan menyebut Trump menunda persetujuan akhir paket senjata besar untuk Taiwan demi kelancaran pertemuan, Shattuck mengatakan Trump tidak mungkin memblokir penjualan tersebut dalam jangka panjang karena manfaat ekonominya bagi AS.
"Ketika negara asing membeli senjata melalui proses penjualan militer asing, itu menciptakan lapangan kerja di AS," kata Shattuck. "Bagi seseorang yang sangat peduli pada ekonomi dan manufaktur, mengapa Anda merugikan bisnis AS dengan mencegah Taiwan membeli barang-barang yang sangat mahal?"
Merujuk pada pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio setelah pertemuan yang menegaskan kembali bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tetap tidak berubah, Kim mengatakan, "Untuk saat ini, tampaknya hasil terburuk telah dihindari."
"Dan itu seharusnya menjadi hal yang menenangkan bagi Taiwan," katanya.
Selesai/ja