Taipei, 20 Mei (CNA) Masa depan Taiwan tidak boleh ditentukan oleh "kekuatan eksternal" atau disandera oleh rasa takut atau perpecahan, kata Presiden Lai Ching-te (賴清德) hari Rabu (20/5) dalam peringatan dua tahun pelantikannya.
Berbicara di Kantor Kepresidenan, Lai mengatakan demokrasi Taiwan berakar pada pengorbanan dan pengabdian banyak generasi rakyat, dan ia mendesak partai yang berkuasa maupun oposisi untuk menunjukkan persatuan dalam menghadapi ancaman eksternal dan menjaga kepentingan nasional.
"Masa depan Taiwan tidak boleh ditentukan kekuatan eksternal atau disandera ketakutan, perpecahan, atau keuntungan jangka pendek," kata Lai. "Masa depan Taiwan harus diputuskan secara kolektif oleh 23 juta rakyatnya."
Taiwan bersedia berdialog dengan Tiongkok dengan syarat kesetaraan dan martabat, tetapi menolak "pekerjaan front bersatu" -- upaya terselubung untuk membentuk opini publik -- Beijing termasuk "upaya unifikasi yang disamarkan sebagai perdamaian."
Lai juga menyoroti upaya pemerintahannya untuk mengembangkan kemampuan pertahanan asimetris dan mengusulkan anggaran khusus untuk mendanai sistem senjata Amerika Serikat (AS), yang saat ini sedang ditinjau di Yuan Legislatif.
"Taiwan harus menjadi negara yang dapat melindungi dirinya sendiri dan menjaga perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan," kata Lai. "Ini adalah komitmen saya kepada rakyat Taiwan, dan Taiwan harus menunjukkan tekad ini kepada komunitas internasional."
Ketika ditanya apa yang akan ia sampaikan jika bisa berbicara langsung dengan Presiden AS Donald Trump, Lai mengatakan Taiwan akan menyampaikan pihaknya berkomitmen mempertahankan status quo di Selat Taiwan dan terus memperkuat kemampuan pertahanan diri sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan militer dari Tiongkok.
"Perdamaian melalui kekuatan" adalah cara terbaik untuk menjaga stabilitas di Selat Taiwan, kata Lai.
"Kami berharap pengadaan militer ini dapat terus berlanjut," ujarnya, merujuk pada paket senjata senilai US$14 miliar (Rp7,8 triliun) yang sedang dipertimbangkan AS untuk dijual ke Taiwan.
Jaminan berkepanjangan bahwa Taiwan dapat memperoleh senjata dari AS dipertanyakan pernyataan Trump setelah pertemuannya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平).
Trump menggambarkan penjualan senjata ke Taiwan sebagai "alat negosiasi yang sangat baik," dan ketika ditanya apakah ia akan menyetujui paket senjata senilai US$14 miliar untuk Taiwan, Trump mengatakan ia "menahan itu sementara" dan bahwa hal tersebut akan "tergantung pada Tiongkok."
Menanggapi pernyataan tersebut pada Rabu, Lai menuduh Tiongkok sebagai kekuatan utama yang menyebabkan ketidakstabilan di kawasan, dengan mengatakan bahwa Beijing terus memperluas kehadiran militernya di Laut Cina Timur dan Selatan serta melakukan latihan yang meluas hingga ke Pasifik barat.
Sebaliknya, kata Lai, "Taiwan adalah penjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," dan ia menegaskan kembali bahwa Taiwan adalah negara berdaulat dan merdeka yang cara hidup demokrasinya tidak boleh dianggap sebagai tindakan provokatif. "Tidak ada negara yang berhak mencaplok Taiwan."