Jakarta, 5 Mei (CNA) Lima puluh petani muda Indonesia yang dipilih Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) telah berangkat ke Taiwan untuk mengikuti program magang bilateral angkatan kedelapan yang resmi dimulai hari Senin (4/5).
Mereka akan ditempatkan di berbagai pertanian unggulan di seluruh Taiwan untuk mengikuti pelatihan yang mencakup budidaya buah, pembibitan sayuran, florikultura, serta akuakultur selama satu tahun dengan metode "belajar sambil bekerja", kata Kantor Perwakilan Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) di Indonesia.
Salah satu peserta, Tia, yang sebelumnya bekerja sebagai pemandu di sanggar perhiasan perak dan telah lama mempromosikan budaya Indonesia kepada wisatawan asing, mengatakan kepada CNA bahwa ia lolos seleksi program tersebut setelah mengikuti saran ayahnya.
Sebelum keberangkatan, kata Tia, ia telah menyelesaikan pelatihan dari Kementan RI, serta mempelajari dasar-dasar bahasa Mandarin dan gambaran umum tentang Taiwan, sekaligus membuka pengalaman pertamanya ke luar negeri.
Tia menambahkan bahwa pertanian pada dasarnya merupakan bagian dari budaya, dan melalui program ini, kedua pihak dapat belajar bagaimana mengelola dan mewariskan budaya pertanian.
Ia mengaku sangat menantikan untuk merasakan langsung suasana budaya, memahami model operasional organisasi pertanian, dan mendalami logika pengelolaan agrowisata Taiwan, sehingga dapat menerapkannya dalam transformasi agrikultur di Indonesia.
Menurut statistik TETO, sejak program ini diluncurkan setelah penandatanganan perjanjian antara pemerintah Taiwan dan Indonesia pada 2019, terdapat total 395 petani muda yang menyelesaikan magang, dan hingga 80 persen di antaranya terus berkecimpung di bidang terkait setelah kembali ke tanah air.
Ada peserta yang bahkan berhasil menerbitkan sejumlah artikel di jurnal internasional selama masa magang, lalu memperoleh beasiswa pemerintah Turki untuk melanjutkan studi magister di luar negeri, menurut TETO.
Juga ada yang berhasil memanfaatkan pengetahuan manajemen yang diperoleh di Taiwan untuk bekerja sama dengan jaringan restoran cepat saji Indonesia sebagai pemasok tetap, atau direkrut perusahaan Taiwan di tanah air sebagai staf teknis, menurut TETO.
Sekretaris Pertanian TETO Hou Sheng-yu (侯昇諭) mendorong para petani muda agar selain mempelajari teknologi pertanian cerdas, juga dapat merasakan kekayaan budaya dan memahami sistem operasional organisasi agrikultur di Taiwan, sehingga menjadi fondasi penting bagi kerja sama perdagangan pertanian dan bisnis di antara kedua negara.
Wiweko dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementan RI menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan kebijakan penting pemerintah Indonesia. Suntikan teknologi unggulan Taiwan diharapkan dapat menyuntikkan semangat generasi muda yang berwawasan internasional ke pedesaan di tanah air, ujarnya.
Ia juga menyatakan harapannya agar para petani muda dapat menanam benih persahabatan dan profesionalisme di lahan pertanian Taiwan, serta mampu berkontribusi dan menciptakan hasil nyata setelah kembali ke Indonesia.
Selesai/ja