A Better Tomorrow: Menggiring asa ABK migran di Donggang ke Taipei

27/04/2026 16:50(Diperbaharui 27/04/2026 16:50)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Salah satu materi pameran “A Better Tomorrow” dari duo seniman Taiwan, Working Hard di TheCube Taipei, 26 April 2026. (Sumber foto: CNA)
Salah satu materi pameran “A Better Tomorrow” dari duo seniman Taiwan, Working Hard di TheCube Taipei, 26 April 2026. (Sumber foto: CNA)

Taipei, 27 Apr. (CNA) Suara kumandang azan berpadu dengan deru ombak, diselingi gumaman berbahasa Indonesia yang diiringi petikan gitar akustik, mengalun dalam pameran “A Better Tomorrow” di TheCube Art Space yang berada di kawasan padat pelajar Gongguan di Taipei, menghadirkan suasana yang mengingatkan pada pesisir Indonesia meski berlangsung jauh dari tanah asalnya.

“Suara azan ini saya rekam di Masjid Annur Donggang, yang azan-nya adalah kawan pelaut migran yang biasa kami sapa Akong,” kata Kuo Po-Yu (郭柏俞), salah satu dari dua seniman yang bekerja secara kolektif dengan nama Working Hard, menjelaskan salah satu materi pameran seninya yang digelar sejak 21 Maret hingga 17 Mei nanti.

Dalam program publik yang digelar Minggu (26/4) dan merupakan rangkaian dari pameran ini, Kuo menyebut gagasan utamanya adalah menghadirkan lingkungan hidup Anak Buah Kapal (ABK) migran Indonesia yang ada di selatan Taiwan, terutama di area Donggang.

Sebagai materi pameran, Working Hard yang terdiri dari Kuo Po-Yu dan She Wen Ying (佘文瑛) ini membawa serta sejumlah perangkat ABK migran Indonesia dari Donggang ke TheCube, sembari membuat sejumlah dekorasi yang menjadi simbol kehidupan mereka di sana seperti misalnya bale sebagai tempat berteduh, tempat menjemur pakaian, hingga pompa air manual yang biasa digunakan oleh sejumlah ABK Migran di kampoa, sebuah lokasi tempat berkumpul ABK migran Indonesia yang sejak 2023 mengalami penggusuran.

Kuo Po-Yu, salah satu dari dua seniman Working Hard dalam sesi publik “A Better Tomorrow” di TheCube Taipei, 27 April 2026. (Sumber foto: CNA)
Kuo Po-Yu, salah satu dari dua seniman Working Hard dalam sesi publik “A Better Tomorrow” di TheCube Taipei, 27 April 2026. (Sumber foto: CNA)

“Ini saya mengumpulkan beberapa barang yang ada di Kampoa saat penggusuran dan sudah tidak digunakan lagi oleh teman-teman ABK dan membawanya untuk pameran ini,” kata Kuo.

“Membawanya tentu cukup sulit karena kami harus membawa truk dari selatan ke Taipei. Lalu karena truk tidak bisa masuk ke gang galeri ini, maka kami harus memindahkannya satu per satu,” kata She menjelaskan tentang bagaimana proses instalasi yang mereka lakukan untuk memenuhi galeri di Taipei ini dengan memorabilia dan sentuhan suara dari pesisir Donggang di selatan Taiwan.

Namun, bagi Kuo dan She, ini bukan kali pertama mereka bersinggungan dengan Indonesia dan pekerja migrannya. Sebelum pandemi, mereka pernah melakukan residensi seni di Yogyakarta. Momen ini She bilang sebagai salah satu persinggungan pertamanya dengan Indonesia.

“Ketika saya kembali ke Taiwan, saya melihat kok orang Indonesia yang saya temui di Indonesia dengan PMI di Taiwan berbeda. Sejak saat itu kami mulai mendalami isu ini,” kata She yang merupakan seniman berbasis di Tainan.

She Wen-Ying, seniman dari Working Hard dalam sesi publik “A Better Tomorrow” di TheCube Taipei, 27 April 2026. (Sumber foto: CNA)
She Wen-Ying, seniman dari Working Hard dalam sesi publik “A Better Tomorrow” di TheCube Taipei, 27 April 2026. (Sumber foto: CNA)

Perjalanan ini mempertemukan mereka dengan seniman aktivis Wu Ting Kuan (吳庭寬) dan Lan Yu Chen (藍雨楨) yang sudah cukup lama melakukan riset dan pendampingan di Donggang. Wu, kata Kuo, pada 2021 mengajak ia dan She untuk melihat kawasan kampoa yang saat itu hendak digusur oleh otoritas setempat. Dari situ mereka menjalin pertemanan dengan banyak ABK migran di Donggang.

"Bahkan mereka memberi saya nama Siska, sementara Po-yu sering dipanggil Mas Boy," kata She.

“A Better Tomorrow” pertama kali ditampilkan di Künstlerhaus Bethanien, Berlin, Jerman pada tahun 2022 saat Kuo dan She mendapatkan kesempatan melakukan residensi seni di Jerman. Pada saat itu mereka hanya membuat replika dari atap sederhana yang digunakan ABK migran Indonesia di kampoa dengan rekaman suara-suara yang sudah mereka tangkap di tahun 2021, seperti di antaranya suara azan, ombak, dan gumaman. Lalu di tahun 2023, setelah kampoa digusur, Kuo dan She membuat replika bale kampoa di atap markas Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia (FOSPI) di Donggang.

Salah satu materi pameran “A Better Tomorrow” karya Working Hard di TheCube Taipei, 26 April 2026. (Sumber foto: CNA)
Salah satu materi pameran “A Better Tomorrow” karya Working Hard di TheCube Taipei, 26 April 2026. (Sumber foto: CNA)

Sementara di "A Better Tomorrow" kali ini, mereka menghadirkan lanskapnya lebih komplet. Di tangga tempat masuk galeri misalnya, ada sejumlah sandal berserakan, khas pemandangan di masjid-masjid Indonesia. Lalu di galeri utama ada sebuah bale dengan gitar akustik, baju-baju yang berserakan, celengan yang terbuat dari barang bekas, hingga botol minuman penambah energi yang memang sering dikonsumsi oleh ABK migran. Di satu sudut lain galeri juga ada TV tabung yang berhadapan dengan kursi plastik.

Dalam catatan pengantar, “A Better Tomorrow” melanjutkan pertukaran dan interaksi Working Hard selama bertahun-tahun dengan ABK Indonesia di selatan Taiwan dan merekonstruksi adegan kehidupan yang pernah ada sebentar tetapi secara paksa dihapus, melalui rekreasi spasial dan instalasi suara multisaluran.

“Ini adalah aksi mengingat melalui konstruksi spasial, sebuah usaha untuk mengingat apa yang telah dipaksa untuk dihapus dan untuk membiarkan yang telah berlalu membayangi masa kini,” kata Kuo.

Salah satu materi pameran “A Better Tomorrow’ karya Working Hard di TheCube Taipei, 26 April 2026. (Sumber foto: CNA)
Salah satu materi pameran “A Better Tomorrow’ karya Working Hard di TheCube Taipei, 26 April 2026. (Sumber foto: CNA)

Catatan kuratorial “A Better Tomorrow” juga menggarisbawahi bahwa di bawah realitas pembangunan perkotaan dan tata kelola perbatasan, garis pantai menjadi tanah asing dan tempat tinggal sementara bagi pekerja migran, ruang transisi yang terombang-ambing antara pekerjaan dan kehidupan, kepemilikan dan pengungsian. 

“Melalui pengumpulan suara dan instalasi spasial, Working Hard menggabungkan kerja pelabuhan, doa, nyanyian, dan suara lingkungan sehari-hari ke dalam sebuah “teater yang tidak dipentaskan,” memungkinkan adegan-adegan kehidupan ini untuk dipersepsikan kembali,” demikian dinyatakan catatan tersebut.

“A Better Tomorrow tidak mengarah pada cetak biru definitif untuk masa depan, tetapi mengajukan pertanyaan: ketika masa lalu dipaksa untuk menghilang, dapatkah sejarah dan komunitas yang tertindas masih diakomodasi dalam imajinasi kita tentang masa depan? Dalam bidang yang terdiri dari cahaya, material, dan suara ini, penonton dari berbagai latar belakang dapat bertemu satu sama lain dan mempertimbangkan kembali kemungkinan bertahan hidup, migrasi, dan hidup berdampingan,” kata Kuo dan She yang telah bekerja sama dengan nama Working Hard sejak tahun 2015.

(Oleh Muhammad Irfan)

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.