WAWANCARA /PMI lahirkan bayi kembar prematur, tanggungan biaya rumah sakit NT$2,5 juta

29/04/2026 15:23(Diperbaharui 29/04/2026 15:23)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Ninik (bukan nama sebenarnya) bersama dua anak kembarnya yang kini ada di Harmony Home. (Sumber foto: CNA)
Ninik (bukan nama sebenarnya) bersama dua anak kembarnya yang kini ada di Harmony Home. (Sumber foto: CNA)

Oleh Mira Luxita, reporter staf CNA

Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Lampung masih meratapi nasib kedua anaknya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Bayi ini kembar, sempat dirawat menggunakan inkubator, dan menyisakan biaya sebesar NT$2,5 juta (Rp 1,370 miliar) yang harus diselesaikan dan tidak bisa ia bayar.

Saat dikunjungi oleh CNA di Panti Harmony pada Jumat (24/4) sore, tangis bayi laki-laki dan perempuan pecah secara bersamaan yang membuat seorang ibu Indonesia dengan nama Ninik (bukan nama sebenarnya) harus memberikan perhatian ekstra. Beruntung, Derris, koordinator pelayanan Harmony Home membantu menggendong salah satu bayi tersebut. 

Pelecehan seksual menjadikannya pekerja hilang kontak

Di ruangan khusus bayi, Ninik yang berasal dari Lampung, mengatakan kepada CNA bahwa kini yang jadi beban pikirannya adalah ia harus menangung pembayaran rumah sakit yang sangat besar. Ia menuturkan tagihan rumah sakitnya bisa mahal sekali dikarenakan statusnya sebagai pekerja hilang kontak. 

“Saya PMI swasta (tak berdokumen), jadi saya tidak punya asuransi kesehatan (NHI), ditambah biaya operasi jantung anak perempuan saya dan operasi sesar, serta perawatan inkubator selama tiga bulan lebih, jumlahnya bukan main besarnya, saya tidak tahu harus bagaimana,” ujarnya sembari menangis. 

Ninik awalnya datang ke Taiwan pada tahun 2019, sebagai pekerja migran resmi menjaga nenek di Hsinchu. Namun pasien yang dijaganya meninggal kemudian ia berganti menjaga kakek. Dia kabur pada tahun 2021 karena kakek yang dijaganya suka meminta hal-hal aneh seperti pelecehan seksual. 

“Saya kabur karena kakek saya meminta hal-hal aneh seperti...maaf...memberikan pelayanan seksual kepadanya, ya jelas saya tolak. Waktu itu saya butuh untuk tetap bekerja dan tidak tahu harus ke mana melapor, akhirnya saya ditawari untuk kabur bekerja di perkebunan,” ujarnya terisak sambil mengingat kisah yang ia alami.

Pada tahun 2021 setelah Ninik bertemu agensi kaburan, ia dipekerjakan di perkebunan Lishan Taichung. Selama bekerja di perkebunan, agensinya menjodohkannya dengan seorang pria Indonesia sesama pekerja migran tak berdokumen. Dari situlah Ninik mendapat suami dan hidup bersama hingga saat ini. 

Ninik menuturkan, setahun yang lalu ia juga sempat hamil. 

“Saya tidak tahu kalau hamil, padahal usia kehamilan saya empat bulan dan saya tetap bekerja, sehingga anak yang ada dalam kandungan meninggal,” ujarnya.

Setelah 100 hari, Ninik mengandung lagi dan anak yang dikandungnya kembar. Selama awal kehamilan hingga lima bulan, tidak ada kendala. Namun saat usia kehamilan enam bulan, tekanan darahnya sangat tinggi. 

Melahirkan bayi kembar prematur

Pada usia kandungan tujuh bulan, suaminya membawa Ninik ke panti Harmony Home. Dikarenakan kondisi kesehatan, pihak panti pun membawanya rumah sakit Wanfang dan diperiksa kalau tekanan darahnya hampir 250. Dokter pun menyarankan agar ia dioperasi sesar. 

“Saat itu mata saya sudah tidak bisa melihat, sudah buram akibat tekanan darah yang sangat tinggi. Saya cuma bisa tergeletak, tidak bisa berdiri,” ucap dia.

Ninik (bukan nama sebenarnya) menggendong bayi perempuannya yang mengalami kelainan jantung. (Sumber foto: CNA)
Ninik (bukan nama sebenarnya) menggendong bayi perempuannya yang mengalami kelainan jantung. (Sumber foto: CNA)

Proses persalinan sesar yang ia jalani pada 7 Januari 2026 membutuhkan biaya banyak. Ternyata ia juga melahirkan dua bayi kembar anak perempuan dan laki-laki. Anak laki-lakinya saat itu seberat 1268 gram dan anak perempuannya 800 gram. Tak hanya dihadapkan dengan kondisi prematur, bayi perempuannya juga mengalami kelainan jantung dan harus dioperasi, hal itu membutuhkan biaya besar lagi.

“Anak saya yang perempuan sempat dioperasi jantung, dan jempol jari kanannya patah sendiri. Kedua anak saya sempat dimasukkan inkubator. Harmony Home yang membantu saya untuk mengurus segala keperluan dan masih harus menunggu pembayaran yang belum lunas, setinggi itu karena status saya swasta,” tangisnya pecah kembali.

Negosiasi antara Harmony Home dan pihak rumah sakit berjalan dengan baik, akhirnya pada tanggal 13 April Ninik diizinkan keluar membawa kedua anaknya. Kini ia dan kedua bayinya berada di Harmony Home untuk menunggu pengumpulan pembayaran tagihan rumah sakit.  

“Terima kasih untuk panti yang sudah membantu memberikan pertolongan pertama, dan rekan-rekan yang bekerja di Harmony Home yang telah membantu. Harapan saya ke depannya, setelah anak-anak saya stabil keadaannya, saya ingin kembali ke Indonesia. Namun saat ini saya masih terbebani dengan biaya yang besar ini, saya tidak tahu bagaimana harus membayar tagihan yang besar ini,” ungkapnya.

Saat diwawancarai CNA, Derris, pekerja dari Panti Harmony mengatakan bahwa kini pihak panti melakukan penggalangan dana untuk menutupi kekurangan pembiayaan proses kelahiran dan perawatan anak-anak Ninik. 

“Kami dengan tulus berterima kasih kepada tim medis Rumah Sakit Wanfang atas perawatannya yang penuh kasih dan dedikasi mereka, yang menyelamatkan nyawa ibu dan kedua bayi ini. Mari kita bersama-sama menjadi pelindung kehidupan anak-anak. Bagi yang ingin membantu, silahkan klik tautan Harmony Home ini : https://neti.cc/WBzrqn6,” ujar Derris.

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.