Taipei, 3 Mei (CNA) Pejabat pengendalian penyakit tertinggi Taiwan pada hari Rabu (29/4) merefleksikan pelajaran yang didapat dari pandemi COVID-19 dalam sebuah forum di Taipei, sekaligus menguraikan upaya pemerintah untuk meningkatkan tingkat vaksinasi.
Berbicara di Forum Kesehatan Eropa-Taiwan 2026, Lo Yi-chun (羅一鈞), Direktur Jenderal Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC), mengatakan bahwa pandemi COVID-19 telah "sangat mempengaruhi" kebijakan imunisasi dewasa di Taiwan, serta sikap publik terhadap vaksinasi.
Setelah keberhasilan Taiwan dalam mengendalikan COVID-19 pada tahap awal pandemi tahun 2020, banyak orang merasa "tidak perlu terburu-buru" untuk divaksinasi ketika vaksin COVID-19 pertama kali diperkenalkan pada Maret 2021, kata Lo.
Vaksin mulai tersedia untuk tenaga medis yang bekerja di bangsal khusus COVID-19, ruang isolasi bertekanan negatif, atau mereka yang bertanggung jawab atas pengambilan spesimen pada 22 Maret, sementara 10.000 dosis berbayar sendiri dirilis untuk mereka yang bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis, kerja, studi, pengobatan, atau alasan kemanusiaan lainnya pada 21 April.
Dalam forum yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang Eropa Taiwan tersebut, Lo mengatakan bahwa terdapat sikap "puas diri" di kalangan masyarakat, mengingat CDC saat itu sibuk mencoba "membujuk masyarakat" untuk divaksinasi.
Belajar dari pengalaman itu, Lo mengatakan bahwa jika terjadi pandemi lagi, masyarakat harus diberitahu sejak awal bahwa "langkah-langkah pencegahan penyakit tidak dapat bertahan selamanya."
Dengan melakukan hal tersebut, pemerintah dan masyarakat dapat mengenali batasan dari langkah-langkah pengendalian penyakit dan "mulai melindungi diri lebih awal melalui vaksinasi," ujarnya.
Selama wabah besar COVID-19 pada Mei dan Juni 2021, masyarakat mulai "berebut untuk divaksinasi," meskipun saat itu Taiwan tidak memiliki cukup dosis vaksin.
Ia mencatat bahwa pasokan vaksin tidak mencukupi karena banyak dosis yang telah dibeli Taiwan tidak tiba sesuai jadwal, merujuk pada keterlambatan akibat krisis pasokan vaksin global saat itu.
Sebagai salah satu pelajaran dari pandemi COVID-19, kepala CDC tersebut mengatakan Taiwan seharusnya siap untuk "membeli vaksin secara berlebih" pada pandemi berikutnya daripada "menjadi murid baik yang menunggu giliran."
Terkait vaksinasi influenza pada lansia, Lo mengatakan tingkat vaksinasi di Taiwan tetap sekitar 50 persen dalam beberapa tahun terakhir, lebih rendah dibandingkan lebih dari 70 persen di Korea Selatan dan beberapa negara di Eropa.
Menyebut keraguan terhadap vaksin sebagai hal yang "sangat sulit" untuk diatasi, Lo mengatakan masyarakat Taiwan secara tradisional mempercayai dokter, namun setelah COVID-19, semakin banyak yang menunjukkan "kelelahan vaksin," terutama terhadap vaksin COVID-19 dan vaksin dewasa lainnya.
Dengan masyarakat yang mempertanyakan apakah mereka membutuhkan begitu banyak suntikan, kampanye tradisional yang dipimpin tenaga kesehatan tidak lagi cukup, katanya.
Itulah sebabnya CDC telah bekerja sama dengan tokoh non-medis, termasuk aktris pemenang penghargaan berusia 86 tahun Chen Shu-fang (陳淑芳), untuk mempromosikan vaksinasi, kata Lo.
Ia menambahkan bahwa masyarakat mungkin merasa tokoh-tokoh tersebut lebih mudah diterima ketika mereka mengatakan bahwa mereka juga telah menerima suntikan vaksin.
Selesai/IF