Oleh Mira Luxita, reporter staf CNA
Bunga (nama samaran) mengalami pelecehan seksual oleh anak majikannya, termasuk dipeluk tanpa persetujuan dan direkam saat mandi. Lina, koordinator tempat penampungan (shelter) yang menangani kasus tersebut, mengatakan Bunga belum dapat menjawab pertanyaan reporter CNA karena masih dalam kondisi trauma saat ditemui di salah satu shelter di Taoyuan.
Sering dipeluk dan menemukan kamera pena di kamar mandi
Hari Idul Fitri merupakan hari penuh kebahagiaan bagi umat yang merayakan, namun tidak bagi Bunga. Justru pada hari tersebut, ia menemukan sebuah pena yang berisikan kamera tersembunyi di kamar mandi lantai 2 tempatnya bekerja, ujar Lina.
Bunga, yang telah tiga tahun merawat lansia di rumah majikannya, mengaku sudah lama merasakan perilaku tidak pantas dari anak majikan, yang kerap mengirim pesan bernuansa seksual dan bahkan memintanya menjadi pacarnya, meski pelaku telah memiliki istri dan anak yang tinggal di rumah tersebut. Rumah majikan tersebut juga menyatu dengan pabrik.
Dalam kesehariannya, Bunga mengaku bahwa ia sering dipeluk pelaku secara tiba-tiba dari belakang, yang membuatnya merasa tidak nyaman. Kejadian tersebut berulang kali dan secara spontan, sehingga membuat Bunga tidak bisa merekam dan membuat video bukti. Ia pun juga sering mengeluhkan hal tersebut pada agensinya, tetapi setiap kali mengadu, penerjemah agensinya selalu bilang bahwa Bunga terlalu berpikir jauh dan berhalusinasi jika majikannya itu suka padanya.
Bunga juga menyampaikan kepada Lina bahwa kesehariannya sebenarnya tidak menjaga lansia, karena nenek yang dijaganya masih sehat. Ia justru lebih banyak dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga, seperti membersihkan rumah dan memasak untuk 20 orang. Tangan Bunga juga pernah tersiram air panas saat memasak. Bunga takut melapor karena tekanan dari sang nenek yang dijaganya.
Kisah Bunga berawal sekitar beberapa pekan bertepatan dengan Idul Fitri. Bunga melarikan diri keluar dari rumah majikannya ke kantor polisi, berjalan selama 30 menit dengan membawa pena berisi kamera tersembunyi yang dibawanya dari kamar mandi tempatnya tinggal.
Bunga memergoki jika ada sesuatu yang aneh, yaitu sebuah pena berkedip yang terlihat seperti kamera dari kejauhan. Saat itu, posisinya di dalam kamar mandi hendak melepas baju. Ia baru tersadar bahwa ada benda aneh tepat di hadapannya. Ia pun melakukan panggilan video dengan kakak iparnya, seorang polisi di Indonesia. Saat Bunga menunjukkan pena tersebut, sang kakak pun mengatakan bahwa itu kamera dan memberi nasihat agar Bunga membawanya ke kantor polisi.
Berlari sambil menangis ke kantor polisi
Bunga sempat menelepon agensi untuk memberitahunya, tetapi agensi malah menyuruhnya untuk memberikannya kepada majikan. Namun ia berpikir, jika diberikan pada majikan, maka kasusnya akan selesai, karena tidak ada bukti.
Ia pun bergegas lari keluar rumah sambil menangis ke kantor polisi dengan membawa pena kamera tersebut, takut rencananya diketahui oleh majikan, ia tidak izin pergi, dan langsung menuju kantor polisi sendirian dengan bahasa yang terbatas. Singkat cerita, di kantor polisi, awalnya pihak kepolisian juga tidak bisa menerima pena kamera tersebut begitu saja, hingga akhirnya Bunga menelepon kakak iparnya kembali, dan sang kakak menceritakan kepada polisi dalam bahasa Inggris.
Pihak kepolisian pun akhirnya paham, dan mereka mulai menyelidiki dengan membuka pena tersebut. Di dalamnya ada kartu SIM telepon yang digunakan untuk merekam menggunakan koneksi internet. Pihak kepolisian menemukan sekitar 23 bukti video yang telah direkam. Ada beberapa video yang telah dipindahkan ke file lain. Dari situ, pihak kepolisian juga bisa melihat bukti rekaman video saat Bunga mandi yang sengaja direkam oleh anak majikan.
Pelaku datang ke kantor polisi
Selama hampir berjam-jam diinterogasi oleh polisi, pihak kepolisian akhirnya menghubungi majikan Bunga. Namun, berita tersebut sampai kepada anak majikan sang pelaku, sehingga ia mendatangi Bunga di kantor polisi dengan dalih ingin menjemput Bunga.
Pada pukul 11 malam, sang pelaku tiba di kantor polisi. Bunga yang melihatnya pun sempat menjerit dan mengatakan kepada polisi bahwa dialah pelakunya. Pihak kepolisian pun menyuruh sang pelaku untuk pergi karena tidak bisa berada di satu tempat dengan korban.
Namun, lagi-lagi pelaku tersebut datang kembali ke kantor polisi pada pukul 3 pagi untuk menjemput Bunga dan ingin bernegosiasi. Bunga pun tetap tidak mau bernegosiasi dan pihak kepolisian tidak mengizinkannya menemui Bunga.
Hampir 12 jam Bunga diiterogasi oleh kepolisian, dan tidak mengizinkan Bunga kembali ke rumah majikan. Atas perintah polisi, majikan Bunga akhirnya memberikan uang melalui kepolisian tersebut sebagai biaya tempat tinggal Bunga. Atas rujukan kepolisian, Bunga ditempatkan di sebuah hotel tanpa ada orang lain yang tahu keberadaannya.
Bunga dibantu seorang teman sesama warga Indonesia di Taiwan untuk menghubungi shelter. Lina kemudian menjemputnya dan membawanya ke tempat penampungan, di mana Bunga kini tinggal sambil menunggu proses hukum di kejaksaan.
Saat menjemput Bunga, Lina mengatakan bahwa kondisi Bunga sangat tertekan dan trauma, dan hanya bisa menangis. Hingga saat berada di shelter pun, Bunga masih sering panik dan trauma jika ada orang yang membuka pintu atau mengagetkannya, membuatnya panik dan ketakutan.
Kepada CNA, melalui Lina, Bunga mengatakan harapannya bahwa ia ingin keadilan. Bunga ingin menuntut pelaku. Ternyata, pelaku adalah direktur utama dari perusahaan yang dimiliki oleh keluarga majikan. Lina juga mengatakan, kini Bunga harus dipulihkan dari tekanan mental dan membawanya ke psikiater serta menyediakan pengacara untuk proses pengadilan.
“Saat ini statusnya masih menunggu proses peradilan dan masih menunggu panggilan dari kejaksaan. Semoga Bunga mendapatkan keadilan atas kasusnya,” ujar Lina.
Lina pun menambahkan bahwa pihaknya sering mendapat aduan kasus pelecehan seksual dari PMI. Ia berpesan bagi yang mendapat pelecehan, harus berani untuk melapor dan silakan untuk menghubungi dirinya di nomor WhatsApp +886960-669-170.
Selesai/ja