Taipei, 23 Apr. (CNA) Memahami suatu masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti membaca maupun turun langsung ke lapangan dan berinteraksi, sebagaimana tur jalan kaki yang digagas oleh Akauw Books, sebuah toko buku di Pingtung, bekerja sama dengan Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia (FOSPI) dan Masjid Annur Donggang di Donggang, yang digelar akhir pekan lalu.
Kepada CNA, Wu Ting Kuan (吳庭寬), aktivis budaya dari Trans-Voices Project yang terlibat dalam banyak kegiatan FOSPI beberapa tahun terakhir dan menjadi pemandu untuk acara ini mengatakan, kegiatan ini adalah kali kedua pihaknya bekerja sama dengan Akauw Books melakukan tur jalan kaki ke kawasan pelabuhan Donggang. Agendanya adalah memperkenalkan kepada 20 peserta tentang kehidupan anak buah kapal (ABK) migran dan membuka diskusi antara ABK dan orang lokal Taiwan.
“Kami ingin teman-teman bisa coba membaca melalui pengalaman kami,” kata Wu.
Topik besarnya adalah menyusuri jejak ABK migran Indonesia yang merantau dari kampung halamannya ke Donggang dengan berbagai pendekatan.
Selain mengunjungi tempat-tempat penting seperti pelabuhan dan masjid, mengingat mayoritas ABK migran Indonesia adalah Muslim, juga lewat pendekatan visual. Seperti menjelaskan tentang ekonomi tuna dan udang yang mencerminkan keadaan indutri perikanan di Donggang-Kampoa melalui dekorasi kuil dan baliho yang memperlihatkan bagaimana ornamen laut memberi sentuhan penting pada penggambaran dewa dan dewi di daerah tersebut.
“Saya juga cerita bagaimana pemilik kapal atau agen mencari calon ABK di Indonesia. Markas-markas industri perikanan dan lokasi operasinya terutama di Laut Pasifik Selatan dan Laut India. Serta “ruang” yang diciptakan oleh ABK dan pedagang seperti warung, toko Indonesia, kegiatan seperti salat Eid, acara peringatan 17 Agustus, dan lain-lain, yang telah menampilkan kenyataan serta kebutuhan mereka di tanah rantau,” kata Wu.
Migrasi ABK migran Indonesia ke Donggang juga merupakan kisah panjang puluhan tahun yang telah menciptakan budaya baru di kalangan masyarakat Donggang. Dari sisi kepercayaan, misalnya, masyarakat Muslim Indonesia di Donggang dalam beberapa tahun terakhir sering menggelar takbir keliling yang menjadi ruang diskusi antara warga lokal dengan migran untuk memahami budaya masing-masing, kata Wu.
Selain itu juga ada karya musik yang tercipta dari pengalaman para ABK migran ini dan juga benda khas yang lahir dari proses migrasi tersebut, ujar Wu.
“Misalnya, ada keranjang yoga yang hanya ditemukan di kapal longline. Ini tidak ditemukan di kapal kecil karena keranjang yang dibuat dari benang pancing tuna ini adalah bukti bagaimana ABK di kapal jarak jauh menghabiskan waktu mereka. Atau istilah seperti cuteng (煮湯) dari bahasa Hokkien Taiwan yang artinya sop ikan, lewat pelafalan migran Indonesia akhirnya mereka memberi imbuhan bahasa Indonesia nyuteng untuk aktivitas memasak cuteng,” kata Wu.
Lebih jauh, aktivitas tur jalan kaki ini juga memperlihatkan bagaimana aktivisme dan komunitas ABK lahir dari proses migrasi. Seperti lahirnya FOSPI-PMFU sebagai serikat bagi ABK migran Indonesia di Tangkang. Termasuk tentang advokasi seperti kampanye Wi‑Fi di atas kapal atau kasus ABK tidak digaji yang pernah terjadi.
“Poin pentingnya ABK hadir di pelabuhan bukan hanya kerja, tapi membangun nilai-nilai yang mungkin enggak terlihat oleh orang lokal. Budaya dan tradisi baru di perantauan dan membangun solidaritas juga,” kata Wu.
Sementara itu, melalui unggahannya di media sosial, FOSPI menyebut, kegiatan seperti ini penting karena membuka pemahaman bahwa kehidupan ABK migran Indonesia di Taiwan tidak hanya berbicara tentang pekerjaan di atas kapal, tetapi juga tentang bagaimana membangun komunitas, menjaga nilai-nilai keagamaan, menciptakan ruang kebersamaan, dan memperkuat solidaritas di tanah rantau.
“Pelabuhan bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga tempat hidup, berkumpul, dan membangun masa depan bersama,” tulis FOSPI.
Melalui kegiatan ini, pihaknya pun berharap semakin banyak orang dapat memahami lebih dekat kehidupan komunitas pelaut Indonesia di Donggang serta peran mereka dalam kehidupan sosial pelabuhan. “Terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam upaya bersama ini,” tulis FOSPI.
Selesai/ja