Taipei, 30 Apr. (CNA) Presiden Lai Ching-te (賴清德) hari Kamis (30/4) memberikan penghargaan Pekerja Migran Teladan Nasional 2026 ke tiga pekerja migran Indonesia (PMI), mengatakan bahwa mereka, bersama tujuh penerima lainnya, telah meninggalkan kampung halaman dan berkontribusi bagi Taiwan.
"Secara khusus, saya ingin menyampaikan terima kasih dari Taiwan kepada sepuluh pekerja migran penerima penghargaan," kata Lai, dalam upacara penyerahan penghargaan pekerja lokal dan migran teladan menjelang Hari Buruh Internasional di Kantor Kepresidenan.
"Kalian telah meninggalkan kampung halaman untuk bekerja keras di Taiwan, bukan hanya demi pengembangan karier pribadi, tetapi juga telah membantu Taiwan. Terima kasih untuk kalian. Taiwan sangat menghargai kontribusi kalian," ujarnya.
"[Taiwan] juga berharap kalian dapat terus berjuang di Taiwan, serta memberikan kontribusi yang lebih besar dan lebih baik bagi Taiwan," kata Lai.
Di sisi lain, Lai juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga para penerima penghargaan yang hadir di lokasi. "Terima kasih atas pengertian dan dukungan kalian, sehingga para penerima penghargaan dapat memberikan yang terbaik di tempat kerja. Kehormatan nasional ini juga merupakan milik kalian," ujarnya.
Di antara PMI yang menerima penghargaan, terdapat Kholis Intamu, teknisi senior di Yuan Jin Chuang Enterprise Co. yang telah bekerja di sektor pemotongan hewan Taiwan selama hampir 12 tahun.
Kholis memiliki efisiensi kerja yang "stabil" dan "sangat mematuhi standar kebersihan dan sanitasi lingkungan", menurut keterangan yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan (MOL).
Selain menyempurnakan keterampilan utamanya, ia juga berinisiatif mengikuti pelatihan hingga berhasil meraih sertifikat teknisi operator forklift, kata keterangan tersebut.
"Di luar jam kerja, ia telah lama dan antusias berpartisipasi dalam layanan masyarakat, menunjukkan sikap yang teguh dan membumi. Kinerja baiknya, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari, telah mendapat pengakuan luas," tambah keterangan.
Kepada CNA, Kholis mengatakan dirinya "sangat bahagia" telah mendapat penghargaan ini. "Kalau masalah harapannya, ke depan semoga lebih baik dan lebih sukses."
PMI penerima lainnya, Sutiyani, telah bekerja sebagai perawat rumah tangga di Taiwan selama 17 tahun, merawat lansia yang menderita penyakit jantung, demensia, dan gejala depresi.
"Dengan keceriaan dan dedikasinya, ia secara bertahap membangun hubungan yang saling percaya, serta secara mandiri merancang kelas ritmik audiovisual untuk menemani aktivitas harian sang lansia," menurut keterangan dari MOL.
Sutiyani terus belajar memasak hidangan Taiwan, serta meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin dan Hokkien, "Yang secara efektif memperbaiki kondisi fisik dan mental lansia tersebut," kata keterangan itu.
"Selama bertahun-tahun, melalui profesionalisme dan kasih sayangnya, ia telah memberikan ketenangan dan kehangatan bagi keluarga yang dirawatnya, sehingga mendapatkan apresiasi yang mendalam," menurut keterangan.
Sutiyani mengatakan dirinya senang, apalagi bisa bertemu anak dan menantunya. Ia pun mengucapkan terima kasih ke pemerintah Taiwan yang telah membantu keluarganya datang hingga ke majikan yang telah memberikan libur empat hari baginya untuk berkumpul.
"Ke depannya, tetap semangat. Bekerja yang giat, yang rajin, pantang menyerah," kata Sutiyani kepada CNA.
Penerima penghargaan lainnya yang berasal dari Indonesia adalah Slamet Mulyadi, anak buah kapal di Tian Jinn Shing No. 22 yang telah bekerja di sektor penangkapan ikan laut di Taiwan selama lebih dari sepuluh tahun. Ia tidak menghadiri upacara penghargaan karena tetap melaut.
"Sikap kerjanya sangat bertanggung jawab, teknik penangkapannya mahir, pandai mengobservasi, dan mampu merespons situasi dengan cepat, sehingga secara efektif meningkatkan efisiensi keberangkatan kapal dan keselamatan operasi secara keseluruhan," kata keterangan dari MOL.
Ia rutin berinisiatif menjaga kebersihan kapal dan lingkungan pelabuhan, serta aktif membantu pekerja baru beradaptasi, menurut keterangan. "Dedikasi diam-diamnya dalam mendorong keharmonisan dan pembangunan berkelanjutan di komunitas perikanan sangat patut diapresiasi."
Kepada CNA, Selamet mengatakan dirinya senang dan bangga, dan berharap bisa memberikan contoh kepada rekan-rekannya tentang kehidupan di Taiwan, baik suka maupun dukanya. "Semoga saja mereka bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini."
Lai dalam pidatonya menyebut 51 pekerja lokal dan sepuluh migran yang terpilih dalam penghargaan tahun ini "mewakili semangat profesionalisme dalam bidang pekerjaan, dan di baliknya ada kisah hidup yang luar biasa".
Ke depannya, ujarnya, pemerintah akan terus membantu peningkatan dan pengembangan industri, meningkatkan daya saing, menjaga stabilitas pekerjaan, serta terus menyempurnakan kondisi kerja dan hak-hak tenaga kerja, agar hasil pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati bersama seluruh masyarakat.
Menjelang Hari Buruh Internasional yang jatuh pada Jumat, Lai pun mengucapkan "penghormatan dan terima kasih yang paling tulus" kepada para penerima penghargaan serta seluruh pekerja di Taiwan.
Baca juga: PM Taiwan jamin upah minimum tembus NT$30.000 tahun depan
Sebelumnya, para penerima penghargaan juga menghadiri upacara yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) di sebuah hotel di Taipei pada Rabu, yang turut dihadiri Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Arif Sulistyo.
Menteri Ketenagakerjaan Hung Sun-han (洪申翰) mencatat bahwa selain mengatasi hambatan bahasa dan budaya, para pekerja migran penerima penghargaan juga aktif belajar, berusaha beradaptasi di tempat kerja, dan meningkatkan kemampuan diri, bahkan ada yang telah memperoleh sertifikat keterampilan.
Sementara itu, Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) mengatakan pekerja migran telah banyak membantu masyarakat Taiwan di berbagai bidang. "Dengan partisipasi kalian, kita dapat maju bersama dan berkembang bersama," ujarnya.
"Dengan partisipasi kalian, kalian juga harus sepenuhnya merasakan kehangatan keluarga, masyarakat, dan tempat kerja di Taiwan. Pemerintah tidak akan mengabaikan hal ini," tambah Cho.
Seiring dengan semakin mampunya Taiwan mendatangkan lebih banyak pekerja migran, kata Cho, "Kita juga harus semakin mampu memperlakukan setiap pekerja migran yang datang sebagai bagian dari masyarakat kita sendiri, sebagai mitra, dan merawat mereka dengan baik. MOL harus terus berupaya keras."
Selesai/ja