WAWANCARA /Bagus Muljadi: Hubungan pendidikan-industri bikin pendidikan Taiwan relevan

20/02/2026 17:07(Diperbaharui 20/02/2026 17:16)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Lektor kepala di University of Nottingham, Bagus Muljadi. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Lektor kepala di University of Nottingham, Bagus Muljadi. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Oleh Muhammad Irfan dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA

Hubungan yang sinambung antara lembaga pendidikan dan kebutuhan industri menjadi poin yang membuat edukasi di Taiwan relevan, hal yang bisa dipelajari oleh Indonesia, kata Bagus Muljadi, seorang lektor kepala di University of Nottingham, dalam wawancara eksklusif dengan CNA di Taipei pada pertengahan Januari.

Bagus yang pernah mengenyam studi magister dan doktoralnya di National Taiwan University (NTU) menyebut di Taiwan kebutuhan industri akan ilmuwan semikonduktor sangat tinggi. Kebutuhan ini dijawab lewat banyaknya pelajar terbaik Taiwan yang mempelajari ilmu ini sehingga bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Di Taiwan, menurutnya, hal ini sudah sangat jelas. "Secara geopolitik, secara manufaktur, secara ekonomi, mereka sangat bergantung pada semikonduktor. Jadi, ke mana para pelajar terbaik beranjak? Ke sana. Apa tujuan National Taiwan University? Di antara banyak lainnya, adalah untuk mendukung itu. Ini sangat jelas, sangat koheren, dan sangat masuk akal."

Sementara itu, Indonesia tidak memiliki arah seperti ini, di mana riset oleh industri dan universitas berjalan sendiri-sendiri, kata Bagus.

"Pelajar terbaik Indonesia pergi ke mana? Tidak ada yang tahu," kata Bagus. "Karena ada terputusnya hubungan antara ilmu pengetahuan pendidikan tinggi dengan industri yang seharusnya didukung oleh itu."

"Dan saya rasa perbedaan itu tidak hanya dijembatani oleh semacam restrukturisasi jabatan di dalam universitas atau keajaiban regulasi. Ini [masalah] struktural, kultural, ini mungkin didorong identitas," ujar Bagus menambahkan.

Di Taiwan regulasi juga mendukung. Saat industri semikonduktor Taiwan sudah berkembang sejak 1970-an dan jurusan yang berkaitan dengannya di universitas-universitas secara luas diminati publik, Yuan Legislatif pada Mei 2021 mengesahkan Undang-Undang Inovasi untuk Kolaborasi Industri-Akademisi dan Pengembangan Bakat di Bidang-Bidang Kunci Nasional atas proposal yang diajukan Yuan Eksekutif.

Undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi industri dan universitas, mempercepat pengembangan talenta tingkat tinggi, dan memperkuat daya saing industri strategis, serta telah menjadi salah satu di antara berbagai kanal penghubung antara dunia usaha dan pendidikan di Taiwan.

Beda kultur dan etos

Dalam wawancara bersama CNA, Bagus, yang mendapatkan gelar sarjananya dari Institut Teknologi Bandung, juga menceritakan bagaimana ia mengamati perbedaan kultur dan etos antara Indonesia dan Taiwan di masa-masa studinya di NTU.

Sebagai contoh, ia mengaku terkejut saat mengetahui perpustakaan universitas di Taiwan penuh selama masa-masa ujian. "Itu orang nginep di situ, bawa tenda, di Taiwan. Di Indonesia saya enggak pernah lihat kayak gitu," ujarnya sembari bercanda.

"Jadi etos seperti itu, itu datang dari kultur. Terpatri di dalam diri orang Taiwan, yang saya yakin termanifestasi sangat luar biasa dari etos belajarnya, bahwa yang disebut orang yang berhasil itu orang yang unggul secara akademik," kata Bagus. Kultur seperti ini, yang lahir dari identitas, menurutnya, berbeda dari Indonesia. 

Di sisi lain, Bagus juga sempat mengimbau para diaspora Indonesia di luar negeri untuk tidak hanya berkumpul dengan sesama teman senegaranya. "Kalau menurut saya, itu adalah hal yang sangat disayangkan."

"Kalau ke luar negeri, [seharusnya] gaul sama orang luar negeri. Pelajari tentang Taiwan bukan hanya bahasanya, tetapi kulturnya dan yang paling penting cara berpikir orang Taiwan. Semangat mereka tentang caranya mereka menghadapi ujian, atau tantangan hidup, atau kesusahan uang," kata Bagus seraya mengatakan segala pelajaran yang ia dapati tentang kedewasaan, tentang perjuangan, didapatnya saat studi di Taiwan.

"Itu sangat menentukan karier," ujar Bagus.

Sementara itu, berbicara tentang isu kesetaraan akses pendidikan, Bagus mencatat bahwa pendidikan tinggi di Taiwan sangat hierarkis, di mana ada urutan jelas universitas-universitas terbaik.

"Tetapi hierarki seperti itu, kalau mau dibilang ketidaksetaraan, itu tidak menghasilkan masyarakat yang jomplang secara kualitas," kata Bagus.

Meski ia mengaku terdapat perbedaan di mana Taiwan lebih homogen masyarakatnya, kecil secara ukuran, dan terjangkau aksesnya dibandingkan Indonesia, "Tetapi di Indonesia semuanya terkonsentrasi di Pulau Jawa."

Universitas-universitas terbaik di Indonesia terkumpul di Pulau Jawa, dan riset belum menjadi agenda pemerintah daerah, melainkan berada di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang ia sebut tidak punya kapasitas untuk tahu riset apa yang terbaik bagi wilayah-wilayah di luar Jawa.

"Kesenjangan itu dikarenakan riset belum menjadi agenda daerah dan ketimpangan akses pendidikan tinggi yang dimanifestasi dari terkonsentrasinya sepuluh universitas terbaik Indonesia di Pulau Jawa," kata Bagus.

Selesai/

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.