Taipei, 18 Feb. (CNA) Seiring perayaan Tahun Baru Imlek sedang berlangsung di Taiwan selama seminggu penuh, sorang ahli gizi menekankan bahwa urutan makan yang benar dan penyesuaian kebiasaan hidup tidak hanya dapat mengurangi beban pada saluran pencernaan, tetapi juga membantu menstabilkan kadar gula darah dan mencegah krisis kesehatan pascaliburan.
Dengan tibanya rentetan perayaan Tahun Baru Imlek yang kerap diisi makan besar, ahli gizi Huang Yi-han (黃意涵) mengatakan kepada CNA bahwa ia menyarankan publik untuk terlebih dahulu mengonsumsi sayuran dan protein, baru makanan yang mengandung karbohidrat.
Dengan cara ini, beban pada saluran pencernaan berkurang, dan gula darah cenderung lebih stabil, sehingga menghindari perut kembung setelah makan atau rasa mengantuk yang muncul segera, kata Huang.
Huang juga menekankan pentingnya mengunyah perlahan dan menelan dengan baik. Ada kebiasaan yang sering diabaikan tetapi berisiko, yakni mengobrol sambil makan, ucapnya.
Perayaan Tahun Baru Imlek, dari makan bersama keluarga hingga berkunjung ke kerabat, memang menyenangkan, tetapi berbicara atau tertawa saat makan membuat tubuh mudah menelan udara berlebihan, yang meningkatkan risiko kembung pada usus, ujarnya.
Untuk masalah konstipasi yang umum terjadi selama liburan, Huang menyarankan asupan air yang cukup untuk mencegah sulit keluarnya feses, dengan minum air sekitar 30-40 mililiter per kilogram berat badan.
Ia juga menganjurkan asupan serat makanan yang memadai, dengan serat dari sayuran dapat merangsang gerakan peristaltik usus, yang membantu proses defekasi.
Huang juga menyarankan asupan lemak berkualitas dalam jumlah cukup, misalnya minyak zaitun, minyak biji teh pahit, dan minyak alpukat, yang dapat membantu melumasi saluran pencernaan.
Huang menambahkan, jika konstipasi cukup parah, dapat dipertimbangkan untuk mencoba minum 5-10 mililiter minyak zaitun saat perut kosong di pagi hari. Namun, setiap individu harus menyesuaikan diri karena efeknya berbeda-beda, ujarnya.
Selama pertemuan Tahun Baru Imlek, di budaya Taiwan, minum alkohol tidak dapat dihindari. Namun, Huang menegaskan pantangan untuk melakukannya saat perut kosong. "Alkohol sendiri bersifat iritatif, minum saat perut kosong mudah menyebabkan nyeri lambung dan refluks gastroesofagus."
Lebih mengkhawatirkan lagi, kata Huang, alkohol memiliki kalori tinggi, sekitar 7 kilo kalori (kkal) per gram, "Lebih tinggi daripada karbohidrat," dan lebih tinggi lagi jika berupa minuman campuran karena mengandung banyak sirup gula.
Huang pun mengatakan akan semakin baik untuk mengonsumsi minuman beralkohol yang semakin murni. "Kalau bisa tidak minum, lebih baik."
Huang juga mengingatkan bahwa minuman olahraga tidak bisa menggantikan air putih. "Minuman olahraga digunakan untuk mengganti gula dan elektrolit setelah banyak berkeringat. Jika diminum sehari-hari, sama saja menggunakan minuman manis sebagai air, yang membebani tubuh secara besar."
Ia menegaskan, kunci minum air bukan pada variasinya, tetapi cukup atau tidaknya konsumsi air, agar saluran pencernaan memiliki kesempatan beristirahat dengan baik dan liburan tidak terganggu masalah pencernaan.
(Oleh Shen Pei-yao dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF