WAWANCARA /Taiwan yang membangun karakter Bagus Muljadi

19/02/2026 17:33(Diperbaharui 19/02/2026 17:34)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Lektor kepala di University of Nottingham, Bagus Muljadi. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Lektor kepala di University of Nottingham, Bagus Muljadi. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Oleh Muhammad Irfan dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA

"Segala sesuatu yang saya dapati tentang kedewasaan, tentang perjuangan, itu saya dapati di Taiwan," kata Bagus Muljadi, lektor kepala di University of Nottingham yang berasal dari Indonesia, dalam wawancara eksklusif dengan CNA di Taipei pada pertengahan Januari.

"Itu sangat menentukan karier," kata Bagus, tentang perjalanannya menempuh studi magister dan doktoral dalam bidang mekanika terapan di National Taiwan University (NTU), di mana ia lulus pada 2012 silam.

Bagus pun menceritakan sesosok figur yang ia sebut sangat mengarakterisasi cara berpikirnya yang terus ia bawa hingga sampai ke ranah populer, termasuk di seri siniar kanal YouTubenya, Chronicles. "Itu adalah profesor saya [di NTU]," ucapnya.

Profesor yang menurut Bagus "Sangat lemah cara mengajarnya [dan] sangat galak" itu telah benar-benar mengajarinya tentang kesusahan hidup.

"Sampai jam 12 malam, dia masih di laboratorium. [Dia bertanya] 'Mana makalahnya? Mana makalahnya? Mana yang dikerjakan?' ... Benar-benar menganggap saya itu bukan hanya sebagai murid, tetapi anak suruhannya dia. Lama-lama, dia menjelma jadi semacam figur bapak," ujarnya.

Saat sedang menghadiri konferensi di Rusia, kata Bagus, sang profesor mengatakan, "Bagus, kalau saya enggak keluarin jurnal publikasi ilmiah tahun ini ... saya enggak bisa makan steik, saya enggak bisa minum anggur. Rasanya hambar dan kecut. Arti dari hidup itu hanya dari kerja yang kita keluarkan."

Dari situ, kata Bagus, "Saya baru tahu bahwa bagi dia, hidup itu tujuannya bukan kebahagiaan. Hidup itu tujuannya menghasilkan karya. Dari situlah makna kehidupan dibentuk. Nah, itu saya bawa sampai sekarang."

Tentang alasannya memilih belajar di Taiwan, Bagus mengatakan hal itu didorong kenyataan bahwa nilainya "jelek" saat belajar di Institut Teknologi Bandung, dan ia mencari tempat yang biaya hidupnya tidak semahal negara-negara Barat sementara dapat memberikan kesempatan baginya untuk bekerja.

Saat itu, kata Bagus, ia hanya mengetahui bahwa Taiwan adalah penghasil produk-produk terkait semikonduktor dan memiliki universitas yang bagus. Ia sendiri belum bisa bahasa Mandarin.

"Saya merasakan kesusahan yang luar biasa karena enggak bisa ngomong Mandarin. Dan saya sambil kerja tergopoh-gopoh akhirnya dapat lulus dengan gelar doktor," kata Bagus.

Namun, ia menekankan bahwa ketidakakraban terhadap suatu bahasa tidak boleh dijadikan hambatan, melainkan harus dianggap sebagai tantangan. "Ini benar-benar membukakan pintu ke peluang-peluang terbaik di dunia."

Ia juga mengatakan bahwa baginya, jika mesti memilih, lebih baik untuk pergi ke negara yang mengajari bahasa Mandarin ketimbang bahasa Inggris. "Bisa bahasa Mandarin akan membuka pasar yang lebih besar."

Dalam wawancara dengan CNA, Bagus sempat berbicara dalam bahasa Mandarin yang fasih, bahkan setelah bertahun-tahun tidak berkunjung ke Taiwan.

Di sisi lain, Bagus juga menyerukan agar para pemuda Indonesia tidak dijajali untuk menanggap bahwa tujuan mereka belajar di luar negeri adalah agar dapat bahagia. "Ada masalah yang lebih mulia untuk diselesaikan."

Misalnya, Bagus mencontohkan bahwa kedatangannya kali ini ke Taiwan adalah untuk menjajaki riset dengan profesor-profesor setempat guna mengatasi masalah tentang lahan gambut.

"Hal-hal seperti itu yang harus diutamakan daripada hal-hal yang sifatnya sia-sia seperti bercanda atau ketawa. Nah, itu saya dapatkan semuanya di Taiwan," kata Bagus.

Bagus, yang kini telah memiliki seorang istri keturunan Taiwan-Jerman, juga mengimbau para diaspora Indonesia di luar negeri untuk tidak hanya berkumpul dengan sesama teman senegaranya. "Kalau menurut saya, itu adalah hal yang sangat disayangkan."

"Kalau ke luar negeri, [seharusnya] gaul sama orang luar negeri. Pelajari tentang Taiwan bukan hanya bahasanya, tetapi kulturnya dan yang paling penting cara berpikir orang Taiwan. Semangat mereka tentang caranya mereka menghadapi ujian, atau tantangan hidup, atau kesusahan uang," kata Bagus.

"Jadi, jika kamu cukup beruntung untuk datang ke negara yang sebaik Taiwan -- sangat aman, sangat maju, sangat bersahabat -- manfaatkan sebaik-baiknya," ucapnya.

Menanggapi pertanyaan CNA tentang apa yang harus dilakukan diaspora untuk berkontribusi kepada Indonesia, Bagus mengatakan, "Dengan menjadi orang yang terbaik ... dengan memerhatikan diri sendiri."

"Nasionalisme itu artinya berbakti untuk Indonesia. Bahkan berbakti tanpa pamrih. Namun, Indonesia adalah kau dan aku," sehingga nasionalisme artinya "Berbakti tanpa pamrih untuk kamu dan saya," kata Bagus.

"Salah satu kalau bukan satu-satunya cara untuk menjadi nasionalis adalah menjadi individu yang paling kompeten. [Jika] kamu jadi yang terbaik di Taiwan, semua orang akan mendapat manfaat darimu -- kamu, keluargamu, dan negara ... Dan seisi negara akan mendukungmu."

Selesai/

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.