Hari jadi ke-19 FOSPI-PMFU, berharap semakin solid jadi wadah perjuangan ABK migran

17/02/2026 16:58(Diperbaharui 17/02/2026 16:58)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Peringatan hari jadi ke-19 FOSPI-PMFU di Kelurahan Donggang, Kabupaten Pingtung, Selasa. (Sumber Foto : FOSPI-PMFU, 17 Februari 2026)
Peringatan hari jadi ke-19 FOSPI-PMFU di Kelurahan Donggang, Kabupaten Pingtung, Selasa. (Sumber Foto : FOSPI-PMFU, 17 Februari 2026)

Taipei, 17 Feb. (CNA) Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia (FOSPI) memperingati hari jadinya yang ke-19 dengan menggelar panggung hiburan dan orasi di Kabupaten Pingtung, Selasa (17/2), sebagai rasa syukur beserta harapan agar organisasi tersebut, yang kini juga berbentuk serikat dengan nama Pingtung Fisherman Migrant Union (PMFU), semakin solid menjadi wadah perjuangan anak buah kapal (ABK) migran Indonesia di kabupaten selatan Taiwan itu.

Dalam siaran langsung yang diterima CNA di hari yang sama, Dewan Pengurus FOSPI-PMFU Syahkowi dalam sambutannya menyebut, sejak dibentuk 19 tahun lalu, FOSPI merupakan forum yang mengoordinasi sejumlah koordinator wilayah dari ABK migran Indonesia yang bekerja di wilayah Pingtung. 

Mulanya, forum ini diinisiasi untuk mewujudkan rumah ibadah umat Islam yang mewujud pada berdirinya Masjid An-Nur pada 2017, kata Syahkowi.

"Namun dalam perjalanannya FOSPI telah bertransformasi jadi wadah yang melindungi ABK migran. Peran ini jadi penting setelah FOSPI jadi serikat dengan nama Pintung Migrant Fisherman Union yang tidak hanya menangani kasus tapi memperjuangkan kondisi kerja dan kesejahteraan ABK," kata dia.

Di usianya yang hampir menginjak dua dekade, kata Syahkowi, FOSPI-PFMU berharap para ABK khususnya yang bekerja di Pingtung semakin semangat dan solid. Ia pun mengajak serta ABK migran yang belum bergabung untuk menjadi bagian dari organisasi ini.

"Dengan adanya serikat, kita makin kuat, suara kita makin didengar dan bersama berjuang mencapai keadlilan dan kesejahteraan bagi ABK. Tidak ada yang mustahil selagi kita bersungguh-bersungguh dan berjuang," kata Syahkowi.

(Sumber Foto : FOSPI-PMFU, 17 Februari 2026)
(Sumber Foto : FOSPI-PMFU, 17 Februari 2026)

Peneliti senior Taiwan Association for Human Rights (TAHR) Shih Yi-hsiang (施逸翔) yang juga hadir dalam acara ini mengapresiasi perjalanan 19 tahun FOSPI-PMFU yang ia sebut semakin hari semakin kuat sebagai serikat dengan anggota yang juga semakin banyak.

Menurut dia, ulang tahun ke-19 FOSPI-PMFU juga bertepatan dengan ditandatanganinya perjanjian dagang antara Amerika Serikat dan Taiwan yang di antaranya akan memberi kontribusi pada pelindungan hak ketenagakerjaan ABK migran.

Menurut Shih, dalam perjanjian dagang itu, secara spesifik disebutkan bahwa Taiwan harus menghapus praktik kerja paksa atas ABK yang bekerja di kapal Taiwan dan harus menjamin hak berserikat bagi semua ABK yang ada di Taiwan.

Shih menilai, untuk mewujudkan dua hak tersebut, Taiwan juga harus segera memperbaiki kondisi kerja di atas kapal dengan memberikan akses komunikasi, salah satunya melalui akses Wi-Fi di atas perahu. 

"Meskipun perjanjiaan ini memberi waktu tiga tahun untuk diimplementasikan, tetapi saya yakin teman-teman ABK tidak bisa lagi menunggu agar kehidupan di atas kapal bisa secepat mungkin diperbaiki," kata Shih.

Shih menyinggung pernyataan perwakilan Direktorat Jenderal Perikanan (FA) dalam acara ini bahwa mereka akan terus membangun dan mengupayakan fasilitas serbaguna di pelabuhan-pelabuhan. Ia menilai hal ini tidak cukup karena yang mendesak adalah penghapusan praktik kerja paksa dari sistem pekerjaan perikanan di Taiwan. 

"Kita sering dengar kawan pelaut terluka dan tidak menerima pertolongan medis dan meninggal di atas kapal. Ini yang harus kita cegah. Organisasi saya di Aliansi Wi-Fi untuk ABK yang terdiri dari lembaga swadaya masyarakat di Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia, akan terus berusaha lebih keras agar mendorong pemerintah Taiwan untuk segera memperbaiki kondisi pekerjaan di atas laut," kata dia.

(Sumber Foto : FOSPI-PMFU, 17 Februari 2026)
(Sumber Foto : FOSPI-PMFU, 17 Februari 2026)

Pengacara Staf di Global Labor Justice (GLJ), Johanna Lee yang turut hadir dalam perhelatan ini menyebut perjalanan panjang dari FOSPI-PMFU ini adalah perayaan keberanian, solidaritas, dan kekuatan kolektif yang dibangun oleh pekerja migran yang menolak untuk tidak dilihat.

Ia menyebut transformasi FOSPI dari forum menjadi serikat juga adalah pelajaran bagi pekerja di mana pun, bahwa ketika pekerja berserikat, mereka akan semakin kuat.

Lee menyebut pihaknya juga mengakui kemajuan yang sudah dilalukan superti kenaikan gaji, kompensasi bagi korban kecelakaan kerja, dan Wi-Fi yang sudah dipasang di atas kapal.

Pihaknya juga bangga bekerja sama dengan FOSPI-PMFU dan berkomitmen untuk tetap mendukung FOSPI-PMFU dan mendorong terjadinya perjanjian terikat di rantai pasok perikanan termasuk tanggung jawab dari korporasi multinasional yang sangat kuat.

"Kepada semua anggota FOSPI-PMFU, pengorganisasian kalian telah mengubah kehidupan pekerja, kepemimpinan kalian sudah mengubah industri ini. Dan persatuan pekerja ini telah memengaruhi sampai di luar Taiwan," kata Lee.

Acara ini juga diisi orasi perjuangan oleh Ketua FOSPI-PFMU, Rojani yang didampingi Dewan Pengurus FOSPI dan Sekretaris Jenderal FOSPI-PFMU juga sejumlah korwil yang menjadi bagian dari organisasi ini. 

Orasi perjuangan ini di antaranya mendesak hak pekerja dihormati, termasuk akses komunikasi di atas kapal; hak berserikat tanpa intimidasi; hak mengakses mekanisme pengaduan yang adil baik di atas kapal dan pelabuhan dengan jaminan penyelesaian yang tepat waktu; serta pembayaran yang layak, tepat waktu, dan kontrak kerja yang adil.

Acara juga dihadiri sejumlah pemangku kebijakan, termasuk Wu Su-hsien (武淑賢), kepala Kantor Layanan Pingtung Direktorat Jenderal Imigrasi (NIA); Yu Lan-lung (尤嵐龍), kepala seksi di FA; dan Tina dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. Adapun sesi hiburan dimeriahkan oleh penyanyi asal Mojokerto, Jihan Audy.

(Oleh Muhammad Irfan)

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.