Taipei, 17 Feb. (CNA) Setelah melalui 19 tahun perjalanan, Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia (FOSPI) di Kabupaten Pingtung, yang awalnya didirikan untuk menggalang pembangunan masjid, kini telah berada di garis depan advokasi hak anak buah kapal (ABK) dengan bertransformasi menjadi serikat Pingtung Migrant Fisherman Union (PMFU).
Achmad Mudzakir, mantan ketua FOSPI-PMFU yang menjabat paling lama, mengatakan kepada CNA bahwa sebelum Masjid An-Nur berdiri di Kelurahan Donggang, pendiri organisasi, Muskin, memulai pengajian di kapal tempatnya bekerja.
Seiring bertambahnya peserta, ruang di kapal tidak lagi mencukupi, sehingga mereka menyewa tempat di sekitar pelabuhan, yang memantik kesepakatan bersama untuk membangun masjid, kata Mudzakir.
Mengenang latar sosial pada era 2000-an, Mudzakir mengatakan bahwa masyarakat Taiwan saat itu pada umumnya masih mendiskriminasi pekerja migran. Kekerasan verbal maupun fisik terhadap ABK migran kerap terjadi, bahkan remaja pun menjadikan mereka sasaran serangan untuk hiburan, ujarnya.
Ditambah saat itu, kata Mudzakir, organisasi nonpemerintah dan mekanisme pengaduan yang melayani ABK migran masih terbatas. Karena itu, sesama perantau saling mencari dukungan emosional dan rasa aman kolektif, hingga terbentuklah berbagai perkumpulan kedaerahan, ujarnya.
Salah satu pendorong yang menyatukan berbagai perkumpulan tersebut adalah sensitivitas internasional terhadap Islam pada masa itu. Mudzakir menjelaskan bahwa ketika pengurus masjid berupaya menggalang pembangunan, mereka sempat berkonsultasi dengan organisasi sosial-keagamaan di Indonesia dan mendapat saran agar tidak terburu-buru.
Alasannya, kata Mudzakir, dunia internasional saat itu masih segar dalam ingatan terhadap beberapa peristiwa teror, termasuk dua tragedi di Bali. Jika membangun masjid secara tergesa-gesa, belum tentu dapat diterima masyarakat setempat, ucapnya mengutip organisasi tersebut.
Oleh karena itu, kata Mudzakir, pengurus disarankan untuk terlebih dahulu membentuk organisasi sosial yang menghubungkan berbagai kelompok etnis dan mencakup sebagian urusan keagamaan. Pada 2007, FOSPI terbentuk dengan mencakup 12 perkumpulan kedaerahan.
Pada masa awal berdirinya, ujarnya, kegiatan FOSPI sebagian besar berfokus pada penggalangan dana untuk urusan keagamaan. Seiring meningkatnya jumlah peserta, sekitar lima tahun setelah terbentuk, para pengurus mulai mencoba menengahi perselisihan hubungan industrial serta memperjuangkan hak-hak anggota kepada pihak agensi tenaga kerja.
Sejak saat itu, organisasi secara bertahap mengambil jarak dari urusan keagamaan dan bergerak menuju advokasi, kata Mudzakir.
Selama masa jabatannya dari 2018 hingga 2025, kata Mudzakir, ia semakin memperkuat kerja sama dan aliansi dengan berbagai organisasi nonpemerintah untuk memperbesar daya advokasi.
Pada 2023, FOSPI untuk pertama kalinya menghadiri Seafood Expo North America, menyuarakan hak asasi ABK asing di panggung internasional. Sejak itu, mereka secara konsisten menyampaikan kondisi dan tuntutan nelayan migran di berbagai negara, ucapnya.
Pembentukan serikat pekerja pada 2022 juga menjadi salah satu tonggak penting organisasi. Mudzakir mengatakan bahwa dengan menjadi organisasi yang terdaftar resmi, FOSPI memiliki saluran formal untuk bersuara di masyarakat Taiwan, serta dapat mendorong pemerintah untuk menanggapi dan menanggapi secara serius persoalan yang diajukan para ABK migran.
Selain mendorong perubahan kebijakan, dalam beberapa tahun terakhir, FOSPI juga bekerja sama dengan pekerja seni dan budaya yang memperhatikan komunitas Indonesia, seperti Wu Ting-Kuan dan Lan Yu-Chen, melalui pameran, tur jalan kaki bertema, dan berbagai bentuk seni budaya lainnya sebagai sarana advokasi.
Upaya ini bertujuan agar lebih banyak masyarakat Taiwan memahami kehidupan nyata nelayan migran di luar narasi media arus utama.
Mudzakir menegaskan bahwa hubungan antara masyarakat lokal dan nelayan migran tidak seharusnya bersifat hierarkis. Ia berharap dialog yang berkelanjutan dapat secara bertahap menyingkirkan kesenjangan dan menyadarkan masyarakat bahwa ABK migran merupakan tenaga kerja penting yang menopang industri perikanan Taiwan.
Ia juga berharap para pekerja migran semakin bersatu untuk memperjuangkan hak dan perlindungan mereka, serta melanjutkan perjuangan yang telah dirintis selama ini.
Untuk merayakan hari jadinya yang ke-19, FOSPI-PMFU pada Selasa (17/2) menggelar panggung hiburan dan orasi di Donggang, yang turut dimeriahkan oleh penyanyi asal Mojokerto, Jihan Audy.
(Oleh Huang Yu-jing dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF