Oleh Teng Pei-ju dan Mira Luxita reporter staf CNA
Transformasi sisa kelam masa otoriter Taiwan menjadi tempat pendidikan hak asasi manusia (HAM) dimulai pada tahun 2009, dengan ditemukannya puluhan toples formalin berisi bagian tubuh manusia di dalam sebuah gedung terbengkalai di distrik Xindian, New Taipei.
Toples-toples tersebut ditemukan oleh seorang jurnalis yang menjelajahi reruntuhan "Ankang Reception House" (安康接待室), sebuah kompleks seluas 0,85 hektar yang namanya bersifat eufemistik, di mana sejak dibuka pada tahun 1974, beberapa pembangkang politik paling terkenal di Taiwan diinterogasi dan disiksa.
Di tengah rumor—yang kemudian dibantah—bahwa sisa-sisa yang diawetkan tersebut adalah hasil eksperimen manusia yang disetujui negara, keresahan publik pun menyebar, dan seruan agar pihak berwenang melakukan sesuatu terhadap situs era Teror Putih yang membusuk semakin keras.
Saat ini, bekas alat kekuasaan satu partai tersebut telah dialihfungsikan menjadi monumen untuk menghormati cita-cita dan orang-orang yang ditekan di dalam dindingnya, dengan pameran yang mendokumentasikan masa lalunya yang brutal dan tur berpemandu yang diselenggarakan oleh Museum Hak Asasi Manusia Nasional (NHRM).
Kantong isolasi
Bersama dengan kisah para mantan tahanannya, Ankang menggambarkan bagaimana "pemerintah otoriter memperlakukan individu" dengan penganiayaan politik, kata Huang Lung-hsin (黃龍興), kepala divisi pameran dan pendidikan NHRM, kepada CNA.
Berbicara pada tahun 2022, Yao Chia-wen (姚嘉文), seorang pengacara dan aktivis pro-demokrasi dari Insiden Kaohsiung 1979, mengenang dirinya dikurung di satu ruang interogasi selama sekitar 50 hari berturut-turut, dengan hanya sedikit kesempatan keluar untuk ke kamar mandi.
Ia mengalami kurang tidur dan kehilangan rasa waktu serta ruang di ruangan terang dengan dinding putih kedap suara dan jendela yang selalu tertutup tirai, sementara petugas keamanan bekerja tanpa henti untuk memaksanya mengaku sebelum mengirimnya ke pengadilan militer atas tuduhan hasutan.
Rekan aktivis Insiden Kaohsiung, Chen Chu (陳菊), yang saat itu baru berusia 18 tahun ketika ditahan, juga menceritakan bagaimana ia harus menjalani interogasi yang menyakitkan sebelum diantar melalui lorong sempit yang menghubungkan ruangan putih ke sel-sel kecil dengan ventilasi dan cahaya terbatas.
Selama masa itu, Ankang menjadi kantong isolasi, kata Huang, seraya mencatat bahwa komunitas pemukiman terdekat, Hsi Yang Yang (喜洋洋), baru selesai dibangun pada tahun 1982.
Beberapa warga lokal mungkin tahu bahwa kompleks di atas bukit itu adalah fasilitas Biro Investigasi, namun fungsi sebenarnya tetap menjadi misteri bagi mereka, ujarnya.
Situs ketidakadilan
Ankang ditetapkan sebagai situs bersejarah oleh Pemerintah Kota New Taipei dan sebagai "situs ketidakadilan"—ruang di mana pelanggaran hak asasi manusia oleh negara terjadi—pada tahun 2022.
Meski ada seruan dari beberapa warga untuk mengubahnya menjadi ruang hijau dengan tempat parkir, Huang menekankan pentingnya melestarikan Ankang, karena ini adalah satu-satunya situs yang digunakan untuk menginterogasi warga sipil selama masa darurat militer Taiwan dari 1949 hingga 1987 yang masih berdiri, menjadikannya bukti nyata penganiayaan politik pada masa itu.
Dua situs interogasi lain yang lebih tua dari Ankang, termasuk sebuah rumah tradisional di Distrik Datong yang diambil alih oleh pihak berwenang dan sebuah gedung resmi di Distrik Xinyi, keduanya telah dihancurkan dan lahannya dialihfungsikan, katanya.
Melalui tur berpemandu di Ankang dan situs lain, seperti bekas pengadilan militer, penjara, dan tempat eksekusi, NHRM bertujuan membantu masyarakat memahami lebih dalam penderitaan yang dialami para tahanan politik, ujar Huang.
Ia mengatakan NHRM telah mengadakan lebih dari 100 tur di Ankang, menarik hampir 500 peserta sejak Maret 2025.
Tur HAM
Meskipun Ankang telah mengalami kerusakan selama bertahun-tahun, dengan struktur kayunya yang rapuh dan pintu besi yang berkarat, pengunjung masih dapat menjelajahi sebagian besar kompleks tersebut.
Mereka juga akan diperlihatkan rak tempat toples formalin—yang kini telah dipindahkan—pernah disimpan dan diberitahu bahwa fasilitas tersebut pernah digunakan oleh Kementerian Kehakiman untuk menyimpan barang bukti forensik pada era pasca darurat militer.
Berbicara kepada CNA setelah tur bulan Desember, seorang pengunjung asal Hong Kong berusia 31 tahun bermarga Liu (廖) mengatakan bahwa mengunjungi situs tersebut membantunya lebih memahami apa yang dialami para tahanan.
"Suasana menekan" di beberapa ruangan, tambahnya, "bukan sesuatu yang bisa sepenuhnya dipahami hanya dengan melihat foto atau denah lantai."
Seorang wanita Taiwan bermarga Hsia (夏) membawa dua anaknya yang masih SD dalam tur yang sama, berharap mereka bisa mengenal sejarah Teror Putih, era yang ditandai dengan represi politik yang brutal serta pengawasan dan sensor yang meluas di bawah rezim otoriter KMT dari 1949 hingga 1992.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui masa lalu ini—yang menjadi tabu di keluarganya dan sekolah—hingga kuliah dan merasa terdorong untuk memastikan anak-anaknya tidak mengalami hal yang sama.
"Saya tidak ingin anak-anak saya seperti saya, tumbuh dalam kegelapan."
Selesai/IF