Oleh Phoenix Hsu dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA
Mahasiswa dari berbagai belahan dunia telah memilih datang ke Taiwan. Salah satu alasannya adalah untuk belajar bahasa Mandarin demi merajut asa, seperti yang dirasakan dua pemuda yang telah CNA temui. Dalam wawancara eksklusif, mereka mengungkapkan perjalanan, tantangan, dan harapan mereka.
Tanadorn Komai asal Thailand sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) mulai tertarik pada bahasa Mandarin dan sempat mempelajarinya sedikit saat kuliah. Namun, dampak pandemi COVID-19 sempat membuat minatnya luntur.
Suatu saat, ia kembali berkesempatan berwisata ke Taiwan, yang membangkitkan kembali motivasi belajarnya. Setelah mencari informasi dan berkonsultasi secara serius, ia pun memutuskan berangkat ke Pusat Bahasa Mandarin National Taiwan Normal University (NTNU) setelah lulus kuliah.
Mengenang awal kedatangannya di Taiwan, Tanadorn mengatakan bahwa ia hampir benar-benar belajar dari awal, terutama karena nada dalam bahasa Mandarin sangat sulit dan berbeda dengan bahasa Thailand. Pada awalnya, ia berbicara dengan nada datar, sehingga terdengar aneh.
Namun, setelah hidup dalam lingkungan berbahasa Mandarin, ia perlahan terbiasa dengan cara orang Taiwan berbicara dan menyesuaikan nada dalam pengucapan Mandarinnya.
Setelah hampir satu tahun belajar di Taiwan, Tanadorn mengikuti Ujian Kemampuan Bahasa Mandarin (TOCFL). Ia berhasil lulus ujian membaca tingkat B2 (tingkat lanjut), sementara ujian mendengarkan lulus di tingkat B1 (tingkat menengah).
Tanadorn menyebutkan bahwa selain belajar melalui kelas di pusat bahasa dan mengerjakan soal-soal ujian tahun sebelumnya, ia juga rutin mendengarkan lagu, siniar, dan berita.
Awalnya, ia merasa kemampuan mendengarnya lebih baik daripada membaca, tetapi setelah mengikuti ujian barulah ia menyadari kenyataannya sebaliknya. Karena soal ujian mendengarkan disampaikan secara terus-menerus tanpa jeda, sedikit saja lengah dapat membuatnya melewatkan informasi penting, sehingga ujian tersebut lebih sulit dari yang dibayangkan.
Setelah belajar bahasa Mandarin di Taiwan selama satu setengah tahun, Tanadorn mengatakan bahwa hidup di Taiwan terasa santai, tidak terlalu menekan, dan penuh kehangatan manusiawi. Ia mempertimbangkan untuk melanjutkan studi magister di bidang bahasa Mandarin dan berharap dapat bekerja serta menetap di Taiwan.
Meskipun demikian, ia juga mendengar bahwa peluang kerja bagi warga asing cukup kompetitif dan perusahaan belum tentu bersedia menawarkan gaji yang memadai. Oleh karena itu, ia tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke Thailand dan bekerja di bidang yang berkaitan dengan bahasa Mandarin.
Di sisi lain, Vivian Felicia Yeo asal Indonesia mengatakan ia telah terpapar Mandarin sejak kecil karena orang tuanya menanggap bahasa tersebut sangat penting. Ia juga memiliki kesempatan mempelajarinya di sekolah, meski hanya sekitar dua hingga tiga jam per pekan.
Untuk meningkatkan kemampuannya, kata Vivian kepada CNA, ia mengikuti bimbingan belajar serta memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku, mendengarkan lagu, dan menonton film berbahasa Mandarin.
Setelah menyelesaikan SMA di Indonesia, dengan dukungan orang tua, Vivian datang ke Taiwan untuk melanjutkan studi. Saat ini, ia menempuh pendidikan di Jurusan Pengajaran Bahasa Mandarin sebagai Bahasa Kedua di NTNU.
Vivian menyampaikan bahwa alasannya memilih Taiwan sebagai tempat studi adalah karena ia ingin hidup di lingkungan berbahasa Mandarin guna meningkatkan kemampuannya, serta mempertimbangkan bahwa negara tersebut aman, memiliki transportasi yang nyaman, serta dilengkapi biaya kuliah dan biaya hidup relatif terjangkau.
Demi dapat belajar di Taiwan, Vivian mengikuti TOCFL saat masih berada di Indonesia, dan berhasil memperoleh B1 (sertifikasi menengah) pada ujian pertamanya. Namun, karena merasa belum familiar dengan format soal, ia berharap dapat meningkatkan hasilnya.
Setelah menjalani pelatihan dan mengikuti ujian kembali, pada ujian keduanya, Vivian meraih B2 (sertifikasi lanjutan) untuk ujian mendengarkan, sementara tes membacanya juga hampir naik ke B2.
Meski memperoleh hasil yang baik dalam TOCFL dan berhasil datang ke Taiwan untuk belajar, Vivian mengakui bahwa sebelumnya ia mempelajari Mandarin versi Tiongkok dengan aksara sederhana serta banyak pelafalan dan penggunaan istilah yang berbeda.
Oleh karena itu, kata Vivian, ia merasa seperti harus belajar dari awal lagi setelah mulai kuliah di NTNU. Ditambah lagi, karena mengikuti kelas bersama mahasiswa setempat, ia pada awalnya agak kesulitan mengikuti tempo pembelajaran.
Vivian menjelaskan bahwa karena tinggal di asrama mahasiswa dengan teman sekamar yang adalah orang Taiwan, serta didukung oleh dosen-dosen yang sangat baik, setiap kali menemui kata atau kalimat yang tidak dipahami, ia akan bertanya setelah kelas.
Selain itu, kata Vivian, dalam kehidupan sehari-hari maupun saat bekerja paruh waktu, ia menemukan banyak kesempatan menggunakan Mandarin. Melalui kebiasaan mendengarkan dan berlatih lebih sering, kemampuan bahasanya pun meningkat secara bertahap.
Sama seperti Tanadorn, Vivian juga memiliki keinginan untuk bekerja dan menetap di Taiwan. Ia mengatakan bahwa ia mendengar proses visa kerja bagi warga asing cukup rumit, sehingga beberapa perusahaan enggan mempekerjakan orang asing. Oleh karena itu, ia berharap prosedur terkait dapat disederhanakan.
Di sisi lain, Vivian juga mengatakan ia berharap lebih banyak sektor industri dibuka untuk mempekerjakan tenaga asing agar mereka yang ingin bekerja di Taiwan memiliki lebih banyak pilihan.
Direktur Pusat Bahasa Mandarin NTNU Tsai Ya-hsun (蔡雅薰) menyatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir, jumlah peserta dari berbagai kelas program promosi di pusat bahasa tersebut mencapai hampir puluhan ribu orang, dengan negara asal terbanyak secara berurutan adalah Jepang, Amerika Serikat, Thailand, dan Indonesia.
Pusat tersebut memiliki kurikulum yang mencakup kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, serta menyediakan kelas praktis penguatan membaca dan menulis bagi peserta asing serta program khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan institusi dan sekolah mitra, kata Tsai.
Di sisi lain, kata Tsai, pusat tersebut juga mengintegrasikan kebudayaan dalam perencanaan kurikulumnya dengan mengatur pengalaman budaya atau kunjungan serta kegiatan ke perusahaan yang memberi peserta lebih banyak kesempatan untuk menggunakan Mandarin secara nyata.
Melalui model ini, kata Tsai, tujuan komunikasi dapat tercapai, peserta dapat berinteraksi dengan penutur asli, motivasi belajar pun semakin mendalam, dan peserta menjadi lebih antusias mempelajari bahasa Mandarin.
Tsai menambahkan bahwa pengaturan kurikulum dikontrol dengan baik, dengan standar yang jelas untuk setiap tingkatannya. Melalui sistem pengelompokan yang rinci, perkembangan kemampuan bahasa Mandarin peserta dapat dipantau dan ditingkatkan secara efektif, ujarnya.
Selama belajar bahasa Mandarin secara bertahap dan terstruktur, setelah menyelesaikan satu tahun pembelajaran, ia yakin peserta tidak akan mengalami kesulitan dalam penggunaan bahasa Mandarin sehari-hari maupun dalam berkomunikasi.
Selesai/IF