Taipei, 22 Nov. (CNA) Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Taiwan baru-baru ini mengatakan bahwa dari 1 Oktober hingga 18 November, terdapat 219 kasus influenza dengan komplikasi berat, di mana 34 orang meninggal dunia, menjadikannya angka tertinggi dalam 10 tahun terakhir untuk periode yang sama.
Dalam sebuah konferensi pers Selasa (19/11), juru bicara CDC Lo Yi-chun (羅一鈞) mengatakan bahwa dengan kemungkinan datangnya massa udara dingin di Taiwan dalam beberapa pekan mendatang, kasus influenza atau penyakit menular saluran pernapasan diperkirakan akan terus meningkat.
Lo mengimbau masyarakat yang memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin COVID-19 dan influenza gratis agar segera divaksin guna mencegah gejala berat serta risiko kematian.
Baca juga: Program vaksinasi flu dan COVID-19 gratis di Taiwan
Seluruh dari 34 individu yang meninggal akibat influenza pada musim flu tahun ini belum menerima vaksin influenza, menurut CDC.
Sementara itu, semua kasus baru COVID-19 dengan komplikasi berat selama periode yang sama juga diketahui tidak menerima vaksin, tambah CDC.
Statistik CDC hingga 14 November juga menunjukkan bahwa tingkat vaksinasi untuk vaksin influenza yang dibiayai publik telah menurun sekitar 10 persen dari periode yang sama tahun lalu, yang mungkin merupakan hasil dari badai dan insiden perubahan warna vaksin, yang mengakibatkan satu batch vaksin dihancurkan.
Mulai 15 November, CDC meluncurkan program untuk mendorong vaksinasi bagi lansia dan anak-anak di mana institusi medis menerima NT$50 (Rp24 ribu) atau NT$75 untuk setiap suntikan yang diberikan kepada orang tua atau anak, kata CDC.
Secara total, sekitar 5,05 juta suntikan vaksin influenza yang dibiayai publik telah diberikan, dengan 1,386 juta tersisa. Mengenai vaksinasi COVID-19, sekitar 1,278 juta suntikan telah diberikan, 2,6 kali jumlahnya dalam periode yang sama tahun lalu (498.000), kata CDC.
Ini juga merupakan tahun pertama program vaksin influenza dan COVID-19 diluncurkan pada saat yang sama.
Sejauh ini, terdapat satu kasus kematian yang dilaporkan setelah menerima vaksin influenza dan COVID-19 secara bersamaan. Korban adalah seorang pria berusia 40-an yang tinggal di fasilitas perawatan, memiliki riwayat aritmia, dan sedang menjalani pengobatan untuk infeksi tuberkulosis laten.
Pria tersebut tidak menunjukkan gejala dalam empat hari pertama setelah divaksinasi, tetapi ditemukan tanpa tanda-tanda vital pada hari kelima.
Biro kesehatan setempat telah berkoordinasi dengan keluarga korban sesuai protokol, namun mereka belum mengajukan kompensasi cedera akibat vaksin, kata CDC.
Selain itu, pemerintah Kota Keelung juga mengatakan bahwa seorang berusia 59 tahun diyakini telah meninggal akibat efek samping setelah vaksinasi bersamaan.
Individu tersebut menerima vaksin pada Minggu tanpa keluhan langsung, tetapi mengalami nyeri dada pada sore harinya dan dinyatakan meninggal setelah dibawa ke rumah sakit.
Lo menyatakan bahwa Biro Kesehatan kota dan otoritas terkait sedang menyelidiki kasus tersebut.
Hingga kini, CDC belum menerima laporan kasus kompensasi cedera akibat vaksin, namun siap memberikan bantuan jika laporan tersebut diajukan, ujar Lo.
Selesai/IF