Taipei, 3 Mei (CNA) Sebuah koalisi kelompok pelestarian satwa liar berkumpul di Yuan Legislatif pada hari Rabu (29/4), mendesak para legislator untuk membekukan anggaran Departemen Kesejahteraan Hewan Kementerian Pertanian (MOA) sampai mereka mempresentasikan rencana untuk mengurangi populasi anjing liar di Taiwan.
Berbicara dalam konferensi pers, Lee Tsung-chen (李宗宸), kepala Taiwan Walk for Wildlife, mengatakan pendekatan pemerintah "trap-neuter-release" (perangkap-steril-lepas) dalam pengelolaan anjing liar telah gagal, dengan biaya sosial yang besar bagi masyarakat Taiwan.
Meskipun tidak ada data yang secara khusus berfokus pada anjing liar, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan hewan telah menyebabkan 42 kematian dan 14.030 cedera selama lima tahun terakhir, kata Lee.
Selain itu, Institut Penelitian Transportasi memperkirakan bahwa total biaya sosial yang terkait dengan hewan liar atau berkeliaran bebas melebihi NT$3,64 miliar (Rp1.995 triliun), ujarnya.
"Biaya sosial" adalah istilah luas yang mencakup biaya pribadi dan eksternal dari suatu aktivitas.
Cheng Hsien-tsan (鄭憲燦), anggota dewan di Leopard Cat Association of Taiwan, mengatakan Kabupaten Changhua saat ini merupakan satu-satunya pemerintah daerah di Taiwan yang mencatat data kerugian pertanian akibat anjing liar.
Namun, dengan menggunakan data Changhua untuk memproyeksikan statistik nasional, diperkirakan ada lebih dari 550 kasus anjing liar menerobos kandang ternak per tahun, menyebabkan setidaknya kerugian finansial sebesar NT$30 juta, kata Cheng.
Kelompok-kelompok tersebut mendesak MOA untuk mulai mengumpulkan data tentang kerugian pertanian dan kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh anjing liar, serta mengubah Undang-Undang Perlindungan Hewan sehingga orang yang memberi makan anjing liar dalam jangka panjang secara hukum diakui sebagai pemiliknya.
Legislatif juga harus membekukan pendanaan untuk Departemen Kesejahteraan Hewan MOA hingga kementerian tersebut mengajukan rencana rinci untuk mengurangi populasi anjing liar, kata kelompok-kelompok itu.
Selain isu-isu terkait konservasi yang diangkat oleh kelompok-kelompok tersebut, juga telah terjadi beberapa kasus menonjol anjing liar menyerang manusia, termasuk kasus tahun lalu di mana seorang pria Kaohsiung meninggal setelah diserang anjing liar saat berenang.
Para kritikus juga menyebut langkah Taiwan pada tahun 2017 untuk melarang eutanasia hewan liar di penampungan publik, dan berfokus pada upaya perangkap-steril-lepas, sebagai pemicu masalah ini.
Tanggapan Pemerintah
Ketika ditanya tentang kritik tersebut, Direktur Departemen Kesejahteraan Hewan Chiang Wen-chuan (江文全) mengatakan kepada CNA bahwa meskipun memberi makan anjing liar adalah "tidak pantas," dalam beberapa kasus hal itu dilakukan sebagai bagian dari "pendekatan transisi" untuk mensterilkan mereka.
Menurut statistik MOA, perkiraan populasi anjing liar di Taiwan turun sebesar 11,34 persen dari 2022 hingga 2024, dari 159.697 menjadi 141.584, kata Chiang.
Meskipun tidak memberikan pandangannya tentang perubahan hukum yang diusulkan, Chiang mengatakan bahwa di bawah hukum saat ini, pengadilan hanya mengakui seseorang bertanggung jawab secara hukum atas anjing liar jika mereka memberi makan secara rutin di lokasi tetap.
Kunci untuk mengendalikan populasi anjing liar adalah memutus masalah dari sumbernya, dengan memastikan pemilik anjing tidak membuang hewan peliharaannya, tidak membiarkan mereka berkeliaran bebas, dan mensterilkan atau mengebiri mereka, kata Chiang.
Selesai/IF