Taipei, 30 Apr. (CNA) Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai (卓榮泰) pada Rabu (29/4) menyatakan bahwa ia menjamin upah minimum bulanan di Taiwan akan melampaui NT$30.000 (Rp16,4 juta) tahun depan.
Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah upacara penghargaan bagi pekerja teladan, termasuk pekerja migran, yang menurutnya telah memberikan kontribusi besar bagi Taiwan.
“Saya dapat menjamin kepada semua orang bahwa upah minimum bulanan akan melampaui NT$30.000 tahun depan,” ujar Cho dalam sambutannya pada acara di Taipei yang diselenggarakan oleh Kementerian Tenaga Kerja (MOL) menjelang Hari Buruh pada 1 Mei.
Ia mencatat bahwa Taiwan telah menaikkan upah minimum selama 10 tahun berturut-turut, dengan upah minimum bulanan saat ini mencapai NT$29.500 dan upah minimum per jam sebesar NT$196.
Menjelaskan alasan komitmen tersebut, Cho mengatakan ekonomi Taiwan berkembang pesat, dengan pasar di seluruh negeri menunjukkan momentum yang kuat, sebuah capaian yang menurutnya “pada dasarnya dimungkinkan oleh kerja keras para pekerja.”
Di Taiwan, kenaikan upah minimum tidak memerlukan persetujuan legislatif, melainkan ditetapkan oleh Yuan Eksekutif (Kabinet) yang saat ini dipimpin oleh Cho, setelah melalui peninjauan oleh Komite Peninjauan Upah Minimum yang terdiri dari pejabat pemerintah, perwakilan pekerja dan pengusaha, serta akademisi.
Dalam pidatonya, Cho juga mengakui kontribusi pekerja migran di Taiwan, yang disebutnya telah banyak membantu masyarakat Taiwan di sektor manufaktur, konstruksi, pertanian, perikanan, dan perawatan keluarga.
Dari 61 pekerja teladan yang dianugerahi tahun ini, 10 di antaranya merupakan pekerja migran, termasuk Gemina Marife Sulay dari Filipina, yang telah bekerja di Taiwan sebagai perawat selama 17 tahun.
“Saya sangat senang dan bersemangat karena terpilih sebagai perwakilan pekerja migran,” ujar perempuan berusia 48 tahun itu kepada CNA.
Sulay, yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kota Kaohsiung, mengatakan ia meyakini kepuasan majikannya terhadap pekerjaannya turut berperan dalam pemilihannya.
Ia menceritakan sebuah insiden ketika ia membawa majikannya ke rumah sakit setelah perempuan berusia 70 tahun yang dirawatnya mengalami reaksi alergi mendadak terhadap obat.
“Saya menyelamatkan hidupnya,” kata Sulay, mengenang bagaimana majikannya menjadi pucat dan kesulitan meminta bantuan.
Pekerja asal Indonesia, Kholis Intamu, juga termasuk di antara penerima penghargaan. Ia telah bekerja di sektor pemotongan hewan di Taiwan selama hampir 12 tahun dan mengikuti pelatihan lanjutan untuk memperoleh sertifikat teknisi operator forklift.
Saat ditanya alasan mengambil sertifikasi tersebut, ia mengatakan ingin menambah pengalaman. “Jika ada kesempatan untuk belajar, saya akan mengambilnya,” ujarnya.
Kholis Intamu berharap dapat menetap di Taiwan dalam jangka panjang. Ia mengatakan tetap tinggal karena merasa kehidupan di sana “nyaman dalam segala hal.”
(Oleh Sunny Lai dan Jennifer Aurelia)
Selesai/IF