Taipei, 13 Agu. (CNA) Sejumlah pakar hari Rabu (12/8) mengungkapkan pandangan yang berseberangan terhadap rencana Passing Exercise (Passex) kapal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), yang Beijing umumkan juga akan dilakukan bersama kapal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok di perairan sebelah timur Taiwan.
Baca juga: TNI-AL sebut kapal yang dirujuk Tiongkok dalam latihan bersama "passing exercise" nontempur
Pengamat politik dan hubungan internasional dari Universitas Al-Azhar Indonesia, R. Mokmahad Luthfi menyayangkan rencana Passing Exercise (Passex) TNI AL karena berada di lokasi yang rentan menimbulkan mispersepsi dari mitra dan negara sahabat Indonesia di Asia Timur.
Kepada CNA, Luthfi menyebut, TNI AL juga tidak terbuka dari awal dan bahwa informasi rencana Passex tersebut berasal dari pihak Tiongkok. "Padahal, Indonesia bisa saja menolak atau meminta pemindahan lokasi Passex tersebut di perairan lain yang dianggap tidak menimbulkan kontroversi bagi kawasan," kata Luthfi.
Kandidat doktoral di National Chengchi University ini menyebut, seharusnya, TNI AL mempertimbangkan faktor geopolitik dan isu sensitif mengenai Tiongkok dan Taiwan dalam memutuskan latihan melintas di antara kedua angkatan laut tersebut.
Menurut Luthfi, jika TNI AL tetap melangsungkan latihan tersebut, hal ini memperlihatkan kurangnya wawasan geopolitik regional Asia Timur di TNI AL, khususnya mengenai isu sensitif mengenai hubungan lintas selat antara Tiongkok dan Taiwan.
"Selain itu, terlaksananya latihan tersebut hanya menguntungkan PLAN atau Tiongkok yang mengklaim bahwa Tiongkok melangsungkan latihan militer pertama kalinya dengan AL negara lain di perairan yang menjadi titik sengketa antara Tiongkok dan Taiwan," kata dia.
Ia juga menyebut, TNI AL perlu tetap menyadari bahwa Angkatan Laut PLA (PLAN) merupakan kekuatan militer yang agresif dan menggunakan cara-cara perundungan terhadap negara-negara yang bersengketa dengan Tiongkok, khususnya dalam memaksakan klaim sepihak Nine/Ten Dash Line di Laut China Selatan (LCS) terhadap Filipina dan Vietnam.
"Indonesia dan TNI AL seyogyanya tidak perlu meningkatkan hubungan militer di matra laut demi melindungi kepentingan Indonesia terkait dengan perairan Natuna bagian utara dan kepentingan ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei di LCS," kata dia.
Pendapat berbeda datang dari Aswin Lin, non-resident associate di Taiwan Center for Security Studies. Kepada CNA, ia hari Rabu mengatakan bahwa fungsi diplomasi memang menjadi salah satu keunikan angkatan laut, dan latihan militer Asia Tenggara bersama PLA juga bukan hal baru.
Untuk TNI AL, latihan jauh dari teritori Indonesia adalah hal yang bagus, kata Aswin. "Membiasakan juga buat kalau krisis terjadi, kapal TNI harus beroperasi di daerah yang jaraknya jauh."
"Indonesia adalah negara netral. Bebas latihan dan berinteraksi dengan siapa pun," tambah Aswin, lulusan Program Doktoral Asia-Pasifik National Chengchi University.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Tiongkok pada Selasa pukul 17.08 mengumumkan bahwa sebuah kapal Angkatan Laut Tiongkok dan sebuah fregat Angkatan Laut Indonesia akan menggelar "latihan pelayaran" di perairan sebelah timur Taiwan pada pertengahan Agustus, tanpa merinci lokasi dan durasi detailnya.
Menanggapi ini, dalam pernyataan terpisah, Dewan Urusan Tiongkok Daratan (MAC) dan Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan melontarkan kecaman keras kepada Tiongkok, dan mengatakan Taiwan akan menjaga kedaulatannya serta perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Dalam pernyataan yang diterima CNA pada Rabu sore usai meminta konfirmasi TNI AL terkait klaim Tiongkok, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 -- kapal Indonesia yang dirujuk Beijing -- sedang dalam perjalanan dari Vladivostok, Rusia kembali ke Indonesia.
Di sepanjang perjalanan, kata Tunggul, kapal tersebut "akan melaksanakan latihan Passing Exercise dengan negara-negara yang akan dilewati," tetapi "bukan bersifat war fighting, tetapi sebagai tradisi navy secara universal apabila melintas wilayah perairan suatu negara."
"Passex juga merupakan goodwill engagement yang umum dilakukan Angkatan Laut di dunia sebagai wujud naval brotherhood serta diplomasi maritim yang melekat pada kapal perang," kata dia.
Dalam pernyataan lainnya setelahnya, Tunggul menjelaskan bahwa negara-negara yang akan terlibat dalam Passex dengan kapal itu termasuk Jepang, Tiongkok, dan Armada Ketujuh Angkatan Laut Amerika Serikat.
Pelaksanaan Passex ini, kata Tunggul, sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia yang membuka ruang kerja sama dengan semua negara. "Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen Indonesia untuk memperkuat persahabatan serta turut menjaga keamanan, stabilitas maritim, dan perdamaian dunia."
(Oleh Muhammad Irfan dan Jason Cahyadi)
Selesai/ML