WAWANCARA /VoB bawa keresahan korupsi Indonesia ke panggung Taiwan lewat “Garong”

01/09/2026 12:57(Diperbaharui 01/09/2026 12:57)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Band heavy metal Indonesia Voice of Baceprot di Festival Jam Jam Asia di Taipei, 30 Agustus 2026. (Sumber foto: CNA)
Band heavy metal Indonesia Voice of Baceprot di Festival Jam Jam Asia di Taipei, 30 Agustus 2026. (Sumber foto: CNA)

Oleh Muhammad Irfan, staf reporter CNA

Bagi Voice of Baceprot (VoB), trio metal asal Garut, Jawa Barat, tampil di Taiwan bukan sekadar kesempatan untuk memainkan musik di hadapan audiens baru, tetapi juga menjadi ruang untuk membawa keresahan yang mereka rasakan di Indonesia ke panggung internasional.

Ditemui usai penampilan mereka di festival Jam Jam Asia di Taipei, VoB menyebut panggung Taiwan kali ini spesial karena mereka membawakan “Garong”, singel terbaru mereka yang dirilis pada 16 Agustus, secara langsung untuk pertama kalinya.

Menurut vokalis Marsya dalam wawancara eksklusif dengan CNA, lagu tersebut memiliki posisi khusus dalam perjalanan bermusik mereka karena untuk pertama kalinya mereka membuat sebuah lagu dengan lirik utama dalam bahasa Indonesia.

Dari segi konsep, “Garong” lahir dari keresahan terhadap korupsi yang terus menjadi pemberitaan di Indonesia. Bagi VoB, besarnya angka korupsi yang diberitakan setiap pekan bahkan mulai terasa seperti sesuatu yang sulit untuk mengejutkan.

“Kita bahkan sudah enggak tahu gimana lagi caranya marah,” ujar Marsya, menggambarkan kejenuhan terhadap pemberitaan korupsi yang terus berulang.

Meski ini merupakan lagu pertama mereka dalam bahasa Indonesia, ini bukan kali pertama bagi mereka mengangkat isu sosial. Namun, alih-alih membawa isu besar, mereka berusaha mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satunya adalah persoalan infrastruktur di daerah asal mereka. Mereka pernah mengangkat kondisi jalan yang rusak dan tidak layak melalui musik dan media sosial.

Jalan tersebut, menurut mereka, telah berada dalam kondisi buruk selama sekitar 11 tahun.

"Ketika isu itu diangkat, respons masyarakat ternyata cukup besar. Banyak warga merasa memiliki keresahan yang sama," kata Marsya.

Menurut VoB, persoalan tersebut bahkan mendorong munculnya gerakan warga untuk menyuarakan tuntutan kepada pemerintah daerah.

Pendekatan itu pula yang mereka gunakan untuk menjembatani pesan musik VoB dengan audiens internasional. Mereka percaya persoalan yang berangkat dari pengalaman lokal tetap dapat menemukan relevansinya di tempat lain.

Band perempuan

Sebagai band metal yang seluruh personelnya perempuan dan mengenakan hijab, mereka kerap mendapat pertanyaan mengenai penampilan dan identitas tersebut, terutama ketika tampil di festival internasional.

Namun, VoB memilih untuk mengarahkan pembicaraan kembali kepada musik dan isu yang mereka bawa.

“Kita sebenarnya memilih untuk enggak fokus ke sana, karena akhirnya itu bisa menutup isu-isu yang lebih besar yang kita bawa di lagu dan movement yang kita bikin,” ujar Marsya.

Bagi VoB, musik menjadi cara untuk memastikan bahwa percakapan tidak berhenti pada stereotip tentang tiga perempuan berhijab yang memainkan metal, tetapi bergerak menuju persoalan yang ingin mereka suarakan.

Setelah Jam Jam Asia, VoB berencana melanjutkan perjalanan ke Australia pada akhir tahun ini. Mereka juga dijadwalkan tampil di festival Mathariri di Pingtung pada 5 September. 

“Semoga ke depannya kita ada tur ke Taiwan lebih banyak lagi,” kata Siti, basis VoB.

Respons audiens

Menjadi salah satu band Indonesia yang tampil dalam Jam Jam Asia di Taiwan, penampilan trio Marsya, Widi, dan Siti ini sempat mengalami gangguan teknis ketika seluruh peralatan suara tiba-tiba mati setelah mereka membawakan intro.

“Penontonnya sempat bingung, karena tiba-tiba mati semua,” kata Siti.

Namun, setelah masalah teknis teratasi, respons penonton justru sangat antusias. Band ini menggambarkan sambutan audiens Taiwan sebagai sesuatu yang “luar biasa”.

Kunjungan kali ini juga bukan pengalaman pertama VoB di Taiwan. Mereka mengatakan memiliki kenangan dengan orang-orang yang mereka temui pada kunjungan sebelumnya, sekaligus menikmati suasana kota dan lingkungan yang mereka anggap berbeda dari Indonesia.

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.