Taiwan akan menaikkan upah minimum menjadi 30.900 dolar Taiwan per bulan dan 205 dolar Taiwan per jam untuk tahun 2027, menurut keputusan Komite Peninjauan Upah Minimum pada 24 September yang menunggu persetujuan Kabinet.
Komite Peninjauan Upah Minimum menggelar sidang tahunannya pada 24 September. Mempertimbangkan kenaikan harga dan pertumbuhan ekonomi Taiwan, mereka memutuskan upah minimum akan dinaikkan menjadi 30.900 dolar Taiwan per bulan dan 205 dolar Taiwan per jam untuk tahun 2027.
Menteri Ketenagakerjaan Hung Sun-han mengatakan bahwa jika disetujui Kabinet, peningkatan ini menandai kenaikan beruntun selama sebelas tahun, sekaligus diperkirakan akan memberi manfaat kepada sekitar 2.611.600 pekerja, termasuk 414.400 pekerja migran.
Namun, kenaikan ini tidak mencakup mereka yang tidak dicakup Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan, termasuk pekerja rumah tangga.
Kementerian Luar Negeri Taiwan pada 25 September menolak pernyataan Presiden Tiongkok Xi Jinping tentang Taiwan dalam kunjungan kenegaraannya ke Amerika Serikat, menyebut Beijing "memutarbalikkan fakta" untuk memajukan posisi dan klaimnya.
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Gedung Putih pada 24 September. Xi dilaporkan menyatakan harapannya agar AS menentang kemerdekaan Taiwan dan menangani masalah Taiwan secara hati-hati.
Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri Taiwan menegaskan Republik Tiongkok dan Republik Rakyat Tiongkok tidak saling tunduk, dan kedaulatan Taiwan adalah milik rakyatnya.
Pihak Tiongkok menggunakan taktik mereka seperti biasa, yaitu memutarbalikkan fakta, demi menyampaikan posisi dan klaimnya secara sepihak.
Masa depan Taiwan hanya dapat diputuskan bersama oleh rakyat Taiwan melalui cara-cara demokratis.
Pemimpin sejumlah negara, termasuk Kepulauan Marshall, Tuvalu, Paraguay, Eswatini, dan Palau, telah menyampaikan dukungan agar Taiwan diikutsertakan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam sidang umum pada akhir September di Amerika Serikat.
Debat Umum tingkat tinggi Sidang ke-81 Majelis Umum PBB digelar dari 22 hingga 28 September di New York. Di sana, sejumlah negara telah menyuarakan diikutsertakannya Taiwan di PBB.
Presiden Paraguay, Santiago Peña menegaskan tidak diikutsertakannya Taiwan merupakan noda bagi PBB.
Presiden Palau, Surangel Whipps Jr. menyebut dipinggirkannya 23 juta rakyat Taiwan mengabaikan tujuan mendasar Piagam PBB.
Raja Mswati III dari Eswatini mengatakan PBB harus mencari cara yang tepat untuk memfasilitasi partisipasi substantif Taiwan.
Presiden Kepulauan Marshall, Hilda C. Heine mencatat Beijing menyebarkan narasi palsu yang mendistorsi Resolusi 2758 Sidang Umum PBB untuk mengklaim Taiwan.
Perdana Menteri Tuvalu, Feleti Teo menyebut Taiwan telah konsisten menjadi mitra yang mampu menghadapi tantangan global.
Kementerian Luar Negeri Taiwan pun telah menyampaikan terima kasih.
Kuil Konghucu Taipei pada 28 September menggelar upacara penghormatan kepada Konghucu, untuk memperingati ulang tahun ke-2.576 kelahiran Konghucu, yang juga dirayakan sebagai Hari Guru.
Para pelajar mengenakan jubah upacara tradisional Konghucu dan mengikuti upacara di Kuil Konghucu Taipei 28 September pagi. Ini adalah peringatan ulang tahun ke-2.576 Konghucu, yang di Taiwan dirayakan sebagai Hari Guru.
Upacara ini menampilkan secara lengkap tata upacara kuno dengan tiga rangkaian persembahan yang merupakan bagian dari ritual kenegaraan.
Kelompok dari Okinawa, yang setengah abad lalu berkunjung ke Taiwan untuk mempelajari upacara penghormatan kepada Konghucu, turut hadir dan menyerahkan surat penghargaan.
Perhimpunan Pelajar Indonesia Taiwan menggelar Sporture 2026 pada 25 hingga 27 September di Taipei, menggabungkan pertandingan olahraga dengan kegiatan budaya Indonesia.
Lebih dari 200 diaspora Indonesia di Taiwan berlaga dalam kompetisi basket, bulu tangkis, futsal, hingga Mobile Legends. Ini adalah Sporture 2026, yang digelar PPI Taiwan pada 25 hingga 27 September.
Ketua Pelaksana, Sufyan Romzi mengatakan acara ini merupakan penggabungan kegiatan olahraga dan budaya.
Ketua Umum PPI Taiwan Nurul Dzakiyyah mengatakan kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk menghubungkan pelajar Indonesia di Taiwan, tetapi juga memperkuat koneksi dengan komunitas Indonesia di Taiwan.
Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei, Arif Sulistiyo mengatakan perhelatan tahun ini makin meriah, dan ke depannya harapannya bisa diikuti semua pelajar Indonesia di Taiwan.
(Oleh Jason Cahyadi dan Muhammad Irfan)