Jembatan budaya imigran baru lewat nada bambu dan langkah tari

27/08/2026 18:28(Diperbaharui 27/08/2026 18:28)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Oleh Muhammad Irfan, staf reporter CNA

Di sebuah gereja di Taipei, bunyi bambu beradu terdengar bersahutan. Di tangan para anggota Gema Angklung, alat musik yang sederhana itu memainkan lagu-lagu Indonesia di hadapan penonton yang tidak semuanya berasal dari Indonesia. Ada jemaat Indonesia, warga Taiwan, dan komunitas Indonesia dari berbagai latar belakang.

Hari itu istimewa. Gema Angklung tampil untuk merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Di tengah kesibukan para anggota mempersiapkan penampilan, gairah justru terlihat dari mata mereka. Bagi sebagian anggota, panggung tersebut bukan sekadar tempat memainkan musik. Ia menjadi ruang untuk membawa pulang sebagian dari Indonesia ke negeri yang telah mereka tinggali selama bertahun-tahun.

“Saya Indra, boleh dibilang pendiri dari Grup Gema Angklung di Taiwan,” kata Indra.

Kelompok yang digagasnya bukanlah komunitas pendatang baru. Gema Angklung telah berjalan sejak 2015. Hampir satu dekade lebih mereka memainkan angklung di berbagai panggung di Taiwan.

Kisahnya bermula dari perkenalan yang sederhana. Ketika Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei memperkenalkan angklung dalam berbagai kegiatan kebudayaan, sejumlah imigran Indonesia mendapatkan kesempatan memiliki alat musik bambu tersebut.

Indra termasuk di antara mereka.

“Waktu itu KDEI memperkenalkan budaya Indonesia di Taiwan, membawa angklung, jadi kita masing-masing sempat punya angklung yang pertama,” kenangnya.

Mereka kemudian mulai tampil dalam berbagai acara pemerintah maupun masyarakat. Respons penonton Taiwan ternyata membuat mereka terkejut. Banyak yang belum pernah melihat atau mendengar angklung sebelumnya.

Panggilan untuk tampil pun semakin sering datang.

“Lama-lama kalau sering dipanggil begitu, mendingan kita bikin grup,” ujar Indra.

Dari sekumpulan orang yang memainkan angklung, terbentuklah Gema Angklung. Anggotanya memang tidak banyak, tetapi mereka cukup solid. Setiap minggu mereka tetap berlatih, ada maupun tidak ada undangan pentas.

Tantangan mereka justru datang dari usia. Sebagian besar anggota bukan lagi anak muda sehingga menghafal lagu baru membutuhkan waktu lebih lama.

“Kita udah nggak seperti anak muda yang begitu muda menghafal,” kata Indra.

Solusinya sederhana: lebih sering berlatih. Lagu yang sulit dihafalkan akhirnya menjadi kebiasaan ketika dimainkan berulang-ulang, menurut Indra.

Jika Gema Angklung menggunakan musik untuk membawa Indonesia ke ruang publik Taiwan, kelompok tari Chi Wu Fei Yang (齊舞飛揚) menempuh jalur yang berbeda. Kelompok ini dipimpin Chou Ching-Hua (周慶華), perempuan asal Tiongkok yang telah tinggal di Taiwan selama 25 tahun.

Kelompok tersebut secara resmi menggunakan nama Chi Wu Fei Yang sejak 2014, meski aktivitas mereka telah berlangsung jauh lebih lama.

“Grup tari kami sudah ada sekitar 19 tahun,” kata Chou.

Keberadaan kelompok ini tak lepas dari upaya pemerintah Taiwan membuka berbagai kelas seni bagi imigran baru, dan dari ruang-ruang semacam inilah para anggota kemudian bertemu dan membangun komunitas.

Diana adalah salah satu anggota kelompok dari ini yang berasal dari Indonesia. Ia datang ke Taiwan pada 1998. Ia awalnya bergabung dengan aktivitas tersebut dengan tujuan yang jauh lebih sederhana: berolahraga dan menurunkan berat badan.

“Tujuan saya itu hanya untuk diet,” katanya sambil tertawa.

Namun, kelas tari kemudian membawanya bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara seperti Vietnam, Filipina, Tailan, dan Tiongkok. Dari aktivitas yang awalnya hanya untuk berolahraga, terbentuk sebuah jaringan pertemanan lintas negara.

(Sumber Foto : facebook.com/feiyangdance)
(Sumber Foto : facebook.com/feiyangdance)

Beda latar belakang

Perbedaan latar belakang itu sekaligus menghadirkan tantangan. Bagi Diana, kendala terbesar pada awalnya adalah bahasa Mandarin. Meski ia juga adalah seorang Tionghoa Indonesia, ia lebih fasih berbicara dalam dialek, sementara Mandarinnya saat itu tidak begitu bagus.

Sama seperti imigran baru anggota grup tari lainnya. Ketika pertama kali bergabung, kemampuan bahasa Mandarin para anggota belum lancar. Namun, mereka harus menggunakannya untuk berkomunikasi ketika berlatih maupun tampil.

“Pelan-pelan mau enggak mau setiap orang itu harus bisa bahasa Mandarin,” ujarnya.

Bahasa yang awalnya menjadi penghalang akhirnya berubah menjadi alat untuk membangun hubungan. Mandarin mereka semakin lancar karena digunakan terus-menerus.

Dalam kelompok yang anggotanya berasal dari berbagai negara, kesalahpahaman pun sesekali tidak terhindarkan. Chou menceritakan seorang anggota asal Vietnam yang kemampuan Mandarinnya terbatas. Ia bisa berbicara, tetapi kesulitan memahami idiom atau menulis pesan dalam bahasa Mandarin.

Pernah suatu ketika, seorang anggota tersebut mengundang mereka tampil di sebuah acara. Informasi mengenai lokasi disampaikan melalui pesan suara. Chou menangkap nama “Taipei Arena” dan mereka pun pergi ke sana. Sesampainya di lokasi, ternyata tidak ada acara. Baru kemudian diketahui bahwa tempat yang dimaksud adalah Taoyuan Arena.

Bagi Chou, kejadian semacam itu bukan masalah besar. Justru pengalaman tersebut menjadi bagian dari kehidupan kelompok yang anggotanya datang dari latar budaya berbeda.

Kelompok Chi Wu Fei Yang sendiri telah tampil di berbagai tempat, mulai dari festival imigran hingga kegiatan lokal Taiwan, acara kuil, perayaan organisasi, dan berbagai pertunjukan. Mereka bahkan melakukan perjalanan ke Kaohsiung, Penghu, dan Matsu untuk tampil. Di Matsu, mereka menjadi penampil pembuka sebuah festival musik.

(Sumber Foto : facebook.com/p/Gema-Angklung)
(Sumber Foto : facebook.com/p/Gema-Angklung)

Ruang aman bagi imigran baru

Di antara berbagai panggung itu, kelompok seni menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar aktivitas budaya.

Sementara bagi Diana, komunitas tersebut adalah tempat untuk berbagi cerita sebagai imigran.

“Di situ kita tempat curhat,” katanya. “Seolah-olah kita pulang ke rumah ibu.”

Rumah itu tidak selalu berisi orang dari negara yang sama. Justru orang-orang dari berbagai negara yang membuatnya terasa seperti rumah.

Pengalaman serupa juga terlihat pada Gema Angklung. Ketika lagu Indonesia dimainkan di hadapan penonton Taiwan, Indra melihat bagaimana musik mampu melewati batas bahasa.

“Lagu kan tidak mengenal batas negara,” ujarnya.

(Sumber Foto : facebook.com/feiyangdance)
(Sumber Foto : facebook.com/feiyangdance)

Penerimaan audiens Taiwan

Bagi penonton Taiwan, suara angklung menawarkan sesuatu yang baru: bunyi bambu yang mungkin belum pernah mereka dengar sebelumnya. Bagi orang Indonesia yang mendengarnya di Taiwan, bunyi yang sama bisa menghadirkan sesuatu yang jauh lebih personal, seperti rasa rindu terhadap rumah.

Di situlah posisi mereka sebagai imigran berubah. Bukan lagi sekadar orang yang membawa budaya dari tempat asal ke tempat baru, mereka menjadi penghubung antarbudaya.

Perubahan itu juga dirasakan Diana selama hampir tiga dekade tinggal di Taiwan. Ketika pertama kali datang pada 1998, ia merasa jumlah imigran baru masih sedikit dan membangun pertemanan tidak mudah. Dirinya juga merasakan adanya pandangan merendahkan terhadap imigran.

Namun, menurutnya, Taiwan telah berubah. Kini, ketika para anggota tampil menggunakan batik, kebaya, atau busana tradisional lainnya, masyarakat Taiwan justru menunjukkan kekaguman.

“Mereka bisa membanggakan kita dari Indonesia,” katanya.

Chou pun melihat Taiwan sebagai tempat yang semakin inklusif terhadap imigran baru.

Terus berjalan

Bagi kedua kelompok, penerimaan tersebut menjadi alasan untuk terus berkarya. Namun, mereka juga menyadari tantangan berikutnya: bagaimana memastikan kelompok ini tidak berhenti ketika generasi mereka semakin tua.

Indra ingin masyarakat, terutama sesama imigran baru Indonesia di Taiwan, tidak hanya kagum, tetapi juga ikut terlibat. Dengan alat musik sederhana seperti angklung, ia berharap nama Indonesia dapat dikenal lebih luas.

Sementara itu, Chou berharap generasi muda ikut mengambil bagian. Anak-anak mereka, termasuk putri Chou yang saat ini jadi bagian dari grup, dan putri Diana yang pernah ikut menari, menjadi harapan agar tradisi tersebut tidak berhenti pada generasi sekarang.

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.