Potret hidup anak imigran Vietnam di Taiwan yang mendunia lewat kamera

28/09/2026 18:11(Diperbaharui 28/09/2026 18:11)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Oleh Huang Kai-chien, Chung Yu-chen, Rick Yi, Huang Po-wei, Wang Yu-wen, Huang Ching, dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA

Lulus sekolah dasar dan tak memiliki sumber daya, Tsai Ting-bang (蔡定邦), anak seorang imigran Vietnam di Taiwan, belajar fotografi secara otodidak sejak berusia 15 tahun. Pernah bekerja di kedai sarapan dan sebagai petugas tiket, ia membiayai sendiri peralatannya hingga berhasil meraih penghargaan internasional.

"Awalnya saya ingin memotret secara objektif, tetapi saya sadar, saya memotret karena ingin memahami kembali ibu saya," kata Tsai dalam wawancara bersama CNA baru-baru ini.

Ibu dalam lensa

Tsai pertama kali memegang kamera saat memotret ibunya. Saat itu, ia hanya ingin mendokumentasikan perjalanan sang ibunda, seorang perempuan Vietnam yang menikah dan pindah ke Taiwan, kemudian kembali ke negaranya untuk berbisnis. Namun, ia malah menemukan percikan untuk memahami kembali sosoknya.

"Waktu kecil, saya melihat ibu sebagai sosok yang penuh kasih sayang. Namun, setelah saya dewasa, ia berubah dari sosok ibu yang dulu saya bayangkan, karena ia terus berjuang dan mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik. Jadi, saya ingin menemukan kembali sosoknya dengan memotretnya," kata Tsai.

Perasaan itu dituangkan dalam foto-foto di sebuah pameran di Kabupaten Hualien. Ada gadis penuh senyuman, pengantin yang menatap kamera, kehidupan di Taiwan, hingga kembali ke Vietnam untuk berbisnis.

Melalui lensa Tsai, tergambar perjalanan hidup seorang wanita selama 50 tahun, sosok yang perlahan ia pahami sepanjang hidupnya: ibunya, yang kerap dipanggil Kak Zhang (張), karena sering berurusan bisnis dengan orang Tiongkok atau komunitas Tionghoa di Vietnam.

"Bagi saya, sebutan 'Kak Zhang' ini terasa sangat jauh dari sosok ibu yang saya kenal saat kecil," kata Tsai. Di pameran ini, ia menyampaikan alur dan narasinya yang kuat akan sosok yang melahirkannya itu.

"Saya yakin pengunjung bisa melihat dan merasakan suka duka dan lika-liku kehidupan ibu tergambar dalam pameran ini," kata Tsai.

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Dari keluarga ke dunia

Jika fotografer jalanan mencari komposisi dan cahaya terbaik, Tsai justru mencari dirinya sendiri. Keluarga, perpisahan, identitas, menjadi tema dari karyanya. Bahkan membawanya ke panggung fotografi internasional.

Tema itu yang ia bawa untuk buku fotografi pertamanya, "Born from the Same Root" (本是同根生), yang adalah buku dua sisi yang menampilkan perjalanan dirinya di sebelah kiri dan kakaknya di kanan.

"Hobi dan ketertarikan kami terhadap sastra, film, dan seni sangatlah mirip. Namun, seiring bertumbuh, kami mulai berjalan ke arah yang berbeda. Ia lebih tertutup, saya lebih terbuka," kata Tsai. "Buku ini menjelaskan bagaimana kami, yang sejak kecil sangat mirip, semakin lama semakin berbeda."

Namun, kata Tsai, setelah pemotretan dan berdiskusi dengan sang kakak, ia tersadar bahwa meskipun bentuk tubuh fisik dan bahasa tubuh mereka berbeda, akar mereka tetap sama: kecintaan terhadap seni serta sastra dan berkarya.

Pada 2024, buku foto ini memenangkan Penghargaan Buku Foto Pertama di Paris Photo–Aperture PhotoBook Awards, menjadikan Tsai orang Taiwan pertama yang meraih pengakuan dari ajang yang "merayakan peran abadi buku foto dalam narasi fotografi" itu.

"Saat dinominasikan, sebenarnya saya tidak punya uang untuk ke Paris. Lalu kakak saya berkata, kalau saya memang tidak ada uang, ia bisa memberikan tabungannya. Jadi bisa dikatakan buku ini justru membuat kami berdua semakin dekat," kata Tsai.

Hal itu pun memungkinkan Tsai berangkat ke Paris untuk menghadiri upacara pengumuman penghargaan. Di tengah perasaan tegangnya, ia teringat akan sosok ibunya.

"Saya sangat gugup. Jadi, saat saya diumumkan menang, saya langsung menelepon ibu. Saat saya menelepon, para juri ada di samping," kata Tsai.

Tsai pun langsung memperlihatkan panggilan telepon itu kepada juri. "Ibu sangat bahagia," ucapnya.

Dewan juri memuji "Born from the Same Root" sebagai "karya yang indah, memadukan fotografi yang kuat dengan momen-momen intim, menghadirkan potret menyentuh tentang kakak laki-laki sang seniman, Hsien, sekaligus merefleksikan trauma keluarga yang mereka alami bersama."

"Tsai memanfaatkan format buku ini untuk mengeksplorasi keterasingan, kesalahpengenalan, dan misteri yang menjadi inti hubungan mereka, dengan merangkai foto-foto keluarga dari arsip serta potret-potret Hsien dan kesehariannya yang dibuat Tsai dengan penuh kelembutan," menurut juri.

Tsai Ting-bang (tengah) usai memenangkan Penghargaan Buku Foto Pertama di Paris Photo–Aperture PhotoBook Awards di Paris pada 2024. (Sumber Foto : Tsai Ting-bang)
Tsai Ting-bang (tengah) usai memenangkan Penghargaan Buku Foto Pertama di Paris Photo–Aperture PhotoBook Awards di Paris pada 2024. (Sumber Foto : Tsai Ting-bang)

Setahun kemudian, buku fotonya "Glamorous Aunt JIN YUN" (水噹噹的金雲阿姨) mendapat dukungan penerbitan dari Hasselblad Foundation, yayasan nonprofit di Swedia yang bertujuan untuk mendorong penelitian dan pengajaran akademis di bidang ilmu alam dan fotografi.

"Buku foto ini tentang seorang bibi yang saya kenal saat bekerja di kafe. Saat bekerja, ia sering menunjukkan foto-foto lamanya kepada kami dan berkata, 'Anak muda, maukah kamu melihat fotoku?'" kata Tsai.

"Saat melihat foto-fotonya waktu itu, saya merasa ia adalah seorang wanita yang sangat berani dan tidak konvensional," ucap Tsai.

Dari sana, Tsai memotret Bibi Jin-yun (金雲) dan menyusun buku yang menggabungkannya dengan foto-foto lama wanita itu.

Mencari diri

Karya Tsai mengangkat hubungan dan emosi manusia. Jejak karyanya membentang dari Chiayi, Taipei, Ho Chi Minh, hingga Hanoi. Visualnya lugas, tetapi halus.

Tsai berkata bahwa Taiwan dan Vietnam sama-sama bagian dari dirinya, tetapi secara emosional, ia lebih dekat dengan Taiwan.

"Sebenarnya saya selalu merasa saya adalah orang Taiwan sekaligus orang Vietnam. Saya sadar bahasa Vietnam saya belum seperti penutur asli, jadi percakapan yang mendalam masih sulit bagi saya. Di Taiwan tentu lebih mudah. Namun, saya tidak serta-merta merasa bukan orang Vietnam," kata Tsai.

"Aneh juga, karena di kedua tempat, saya sama-sama dianggap sebagai orang luar. Bahkan di Taiwan masih banyak yang bertanya, 'Jadi kamu memiliki KTP Taiwan?'"

Tak hanya menggeluti fotografi, Tsai pun terjun ke dunia film. Salah satunya adalah dengan berperan sebagai seorang pekerja migran Vietnam dalam serial "The Outlaw Doctor" (化外之醫).

Tanpa uang, tim, maupun sumber daya, yang tersisa pada Tsai hanya semangat dan nekat. Meski sempat gagal, kini karyanya mulai dikenal dan ia sudah punya jawaban saat ditanya mengenai membuat film.

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

"Saya ingin membuat film 'Born from the Same Root', tentang kisah saya dan kakak saya," kata Tsai. "Kisah kakak lebih kuat dan menyentuh. Itu juga pengalaman hidup saya yang paling mendalam."

Meski bukan dirinya yang menjadi subjek, setiap foto Tsai adalah cara menemukan tempatnya di dunia. Melalui fotografi, ia mengungkap kisah yang sulit terucap.

Dari memotret keluarga, hingga membawa kisah hidupnya ke mata dunia, ia merekam pengalaman para imigran baru di Taiwan: perpisahan, keluarga, dan pencarian jati diri. Setiap foto seolah menjadi jawaban tentang siapa kita, dan bagaimana kita mengingat satu sama lain.

Kehidupan imigran

Per 31 Juli, jumlah imigran baru di Taiwan mencapai 621.834 orang, sementara generasi keduanya 510.304 orang, menurut statistik Direktorat Jenderal Imigrasi (NIA) dan Departemen Registrasi Rumah Tangga Kementerian Dalam Negeri.

Untuk mendukung pengembangan potensi anak-anak imigran baru di berbagai bidang serta mendorong mereka agar berani mewujudkan cita-cita dan mengembangkan keunggulan masing-masing, NIA terus menjalankan berbagai program terkait, kata ditjen tersebut dalam pernyataan kepada CNA.

Melalui beasiswa dan bantuan pendidikan, pelatihan pengembangan potensi, serta sumber daya untuk mewujudkan impian, program-program tersebut membantu anak-anak imigran baru memanfaatkan keunggulan dalam keberagaman budaya, memperluas kesempatan belajar dan pengembangan karier, serta mendapatkan pengakuan dalam prestasi dan pencapian, kata NIA.

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.