Taipei, 13 Mei (CNA) Rata-rata upah reguler riil di Taiwan naik dengan laju tercepat untuk kuartal pertama dalam 11 tahun pada kuartal pertama 2026, karena kenaikan gaji melampaui inflasi, kata Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi, dan Statistik (DGBAS) pada hari Senin (11/5).
Upah reguler bulanan untuk karyawan di sektor industri dan jasa rata-rata sebesar NT$48.706 (Rp27 juta) pada periode Januari-Maret, naik 2,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data yang dirilis oleh DGBAS.
Setelah disesuaikan dengan inflasi, rata-rata upah reguler riil meningkat 1,45 persen secara tahunan, menandai kenaikan terbesar untuk periode yang sama sejak 2015, kata lembaga tersebut.
Sementara itu, rata-rata total pendapatan bulanan riil—yang mencakup upah reguler dan pendapatan variabel seperti bonus dan upah lembur—naik 1,98 persen pada periode Januari-Maret dibandingkan tahun sebelumnya, merupakan kenaikan kuartal pertama terbesar dalam delapan tahun.
Pada bulan Maret saja, rata-rata upah reguler sebesar NT$48.768, naik 2,6 persen secara tahunan, sementara rata-rata total pendapatan naik 4,4 persen menjadi NT$57.509, menurut DGBAS.
Wakil Direktur Departemen Sensus DGBAS, Tan Wen-ling (譚文玲), mengatakan kinerja yang kuat sebagian didorong oleh pertumbuhan berkelanjutan di sektor-sektor terkait kecerdasan buatan.
Ia mengatakan ledakan AI telah meningkatkan aktivitas ekonomi di sektor-sektor tersebut, yang menyebabkan kenaikan upah lembur, bonus kinerja, dan bonus akhir tahun yang mendorong pertumbuhan keseluruhan pendapatan karyawan.
Karena angka rata-rata upah dapat terdistorsi oleh pendapatan yang sangat tinggi, DGBAS juga merilis data upah median, yang menurut mereka lebih mencerminkan kondisi pendapatan yang khas.
Upah reguler bulanan median pada bulan Maret tercatat sebesar NT$39.220, naik 2,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, kata lembaga tersebut.
Meski momentum positif, Tan memperingatkan bahwa kenaikan harga energi global dapat memberikan tekanan pada inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Ia mencatat bahwa harga energi internasional melonjak setelah pecahnya konflik Timur Tengah pada akhir Februari, dengan dampaknya secara bertahap merembes ke harga konsumen domestik.
Tan mengatakan apakah upah riil akan terus tumbuh akan bergantung pada apakah kenaikan upah dapat terus melampaui inflasi.