Jakarta, 11 Mei (CNA) "Islands" (人之島), karya kolaborasi koreografer Taiwan Wang Yeu-Kwn (王宇光) dan penari Indonesia Danang Pamungkas, baru-baru ini mencetak debutnya di tanah air dengan tampil di Teater Salihara, Jakarta pada Sabtu (9/5) dan Minggu.
Menggunakan lembaran plastik hitam yang mudah ditemukan di Indonesia sebagai elemen panggung untuk merefleksikan kerentanan pulau serta rasa kesepian individu yang mengembara di negeri asing, "Islands" berhasil menarik banyak anak muda Indonesia serta pencinta seni budaya.
Wang menjelaskan bahwa huruf "s" dalam "Islands" melambangkan citra kepulauan. Dengan mengamati budaya lain dari luar, ujarnya, seseorang justru dapat kembali memahami keberadaan Taiwan di tengah dunia.
Ia mengatakan Taiwan memiliki karakter "mengalir" dan "tak berwujud", yang menjadi kunci penghubung antarbudaya. Dalam pertunjukan ini, ia dan Danang mengendalikan lembaran plastik hitam raksasa yang terus berubah bentuk mengikuti goyangan dan putaran tubuh, menggambarkan rupa pulau yang selalu berubah.
Menurutnya, sifat mengalir itu seperti ombak laut atau udara, menjadi medium yang menghubungkan latar budaya yang berbeda, sekaligus membawa perjalanan kedua seniman dalam mencari posisi diri mereka. Melalui interaksi satu sama lain, mereka juga dapat memahami diri sendiri secara lebih mendalam.
Danang membagikan bahwa pada awal kerja sama, meskipun pikirannya memahami visi artistik Wang, otot tubuhnya yang lama terbiasa dengan struktur tradisional membutuhkan bantuan rekannya untuk secara sadar melepaskan kebiasaan tersebut agar dapat kembali menggunakan bahasa gerak kontemporer di panggung teater.
Danang menekankan ia bangga dapat memasukkan topeng tradisional Indonesia ke dalam karya ini. Rasa pencapaian itu membuatnya berharap dapat menginspirasi generasi muda tanah air agar berani membawa akar budaya mereka sendiri keluar dari kerangka yang sudah ada dan menjelajah lebih jauh dalam dunia seni yang lebih bebas.
Kedua seniman tersebut meyakini bahwa inti karya ini terletak pada keseimbangan fisik dan psikologis. Wang menjelaskan mereka memilih menciptakan alam buatan di dalam teater, dengan memanfaatkan pencahayaan dan angin untuk membimbing penonton merasakan keberadaan yang nyata.
Sementara itu, Danang berharap karya ini dapat membuka imajinasi penonton mengenai pulau, keterhubungan, dan ingatan, sekaligus mendorong refleksi atas arus timbal balik antarmanusia.
Wang menegaskan energi untuk terus melangkah maju yang diperoleh dalam proses menjaga keseimbangan merupakan filosofi hidup dan pencarian jati diri yang paling mampu menggugah resonansi masyarakat yang hidup di pulau saat menghadapi dunia.
Mahasiswi penonton bernama Meutia mengatakan kepada CNA bahwa penggunaan kantong plastik hitam besar sangat mengguncang perasaannya. Menurutnya, benda sehari-hari yang umum dijumpai di Indonesia itu, melalui bayangan dan lipatan yang tercipta oleh pencahayaan, berhasil mendramatisasi gerakan tubuh para penari.
Ia menganalisis bahwa dibandingkan biru yang melambangkan lautan, nuansa menekan dari warna hitam justru lebih tepat menerjemahkan kerentanan pulau akibat eksploitasi manusia, sehingga penonton dapat merasakan secara langsung kecemasan nyata atas ancaman terhadap tanah dan lingkungan.
Meutia memandang karya tersebut sebagai pergulatan spiritual dan psikologis. Ia menilai interaksi antara dua penari mencerminkan proyeksi psikologis sang kreator dalam mencari kerinduan budaya di tanah asing.
Ia menjelaskan bahwa tokoh utama dalam karya itu memulai perjalanan seorang diri saat memasuki pulau, dan akhirnya ditutup dengan adegan berdiri sendirian.
Ini, kata Meutia, memperlihatkan sikap penerimaan yang melambangkan tercapainya perdamaian antara tokoh utama dengan lingkungan serta kesepian batinnya, sekaligus menyelesaikan perjalanan pencarian jati diri dan akar budaya.
Dalam sebuah rilis pers, Kurator Tari Komunitas Salihara, Tony Prabowo, menyampaikan bahwa kolaborasi ini memiliki kedalaman artistik karena berangkat dari relasi panjang dua seniman yang pernah berada dalam lingkungan pembelajaran yang sama.
Komunitas Salihara Arts Center menyatakan bahwa bagi masyarakat Indonesia, "Islands" merupakan kesempatan langka untuk menyaksikan langsung karya tari yang tengah menuju panggung internasional kelas dunia. Hal ini juga membuktikan visi maju dari kerja sama seni Taiwan dan Indonesia.
Proses kreatif "Islands" bermula pada 2019, ketika Wang melakukan perjalanan ke Indonesia melalui Cloud Gate Wanderers Project dan bertemu Danang. Dari sana, keduanya membangun percakapan artistik tentang tubuh, ingatan, dan pulau sebagai ruang hidup sekaligus metafora identitas.
Pada 2022, Wang mengundang Danang untuk bersama-sama menampilkan karya tahap awal "A Quest for Relationship: Island Of ___" (去你的島), yang kemudian berkembang menjadi bagian kedua dari trilogi tersebut, yaitu "Islands".
"Islands" sebelumnya telah dipentaskan di National Theater & Concert Hall Taiwan, The Place London, serta National Kaohsiung Center for the Arts di Kaohsiung.
Karya ini, yang diciptakan Wang dan ditampilkan olehnya bersama dengan Danang, telah masuk nominasi dan menjadi finalis dalam penghargaan tari internasional yang diselenggarakan Sadler's Wells di Inggris.
"Islands" juga telah masuk nominasi final The Bloom Prize yang diselenggarakan Sadler's Wells di Inggris, dan direncanakan dipentaskan secara resmi di London pada 2027. Wang menjadi koreografer pertama yang dua kali masuk final sejak penghargaan tersebut diluncurkan tahun 2024.
Melalui kerja sama Kantor Ekonomi dan Kebudayaan Taipei di Malaysia serta Komunitas Salihara Arts Center, kelompok seni Shimmering Production yang dipimpin Wang hadir di Indonesia setelah tur di Negeri Jiran, menampilkan karya yang telah melalui proses penyesuaian dan pengembangan selama tujuh tahun ini.
(Oleh Gwyneth Sharon dan Jason Cahyadi)
Selesai/ja