Taipei, 17 Mei (CNA) Sepasang bayi kembar lahir dalam kondisi memprihatinkan dari seorang pekerja migran yang diduga mengalami pelecehan seksual oleh anggota keluarga pemberi kerjanya tetapi permintaan tolongnya ditolak majikan dan agensi tenaga kerja, menurut Harmony Home Foundation, Taiwan.
Dalam sebuah rilis pers pada Selasa (12/5), yayasan tersebut mengatakan bahwa korban datang ke Taiwan untuk bekerja pada 2019, tetapi mengalami pelecehan seksual berulang kali oleh anggota keluarga majikan.
Ketika meminta bantuan keluarga majikan, ia justru diejek karena "mempermasalahkan orang tua", dan saat memohon pertolongan ke agensi tenaga kerja, ia malah diminta untuk bertahan, kata yayasan. Dalam kondisi terisolasi tanpa dukungan, ia memilih melarikan diri.
Namun, pelarian itu tidak membawa keselamatan, kata yayasan. Tekanan hidup dalam persembunyian jangka panjang dan kekurangan gizi membuatnya, saat kemudian hamil, hampir kehilangan penglihatan. Pada Januari tahun ini, ia dilarikan ke Harmony Home setelah tekanan darahnya melonjak hingga 240 mmHg.
Ia kemudian segera dibawa ke rumah sakit dan menjalani operasi caesar, melahirkan bayi kembar dengan bobot masing-masing 1.360 gram dan 800 gram. Sejak lahir, kedua anaknya itu langsung dipasangi berbagai selang medis dan berjuang di dalam inkubator untuk mempertahankan hidup mereka, kata yayasan.
Setelah tiga bulan perawatan oleh tim medis Taipei Municipal Wanfang Hospital, kondisi kedua anak tersebut perlahan membaik, dan kini sang kakak telah berbobot 4.500 gram sementara adiknya 2.300 gram, kata yayasan.
Pendiri Harmony Home Nicole Yang (楊婕妤) mengatakan bahwa pencapain yang tak terbayangkan ini berhasil diwujudkan berkat tim medis serta dukungan diam-diam dari masyarakat.
"Selama lebih dari empat puluh tahun, di sudut gelap Taiwan, beberapa tragedi yang tidak diketahui tidak pernah berhenti terjadi, baik itu kondisi para penderita infeksi maupun kehidupan rentan tanpa memandang kewarganegaraan," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seorang anak tidak seharusnya kehilangan kesempatan hidup hanya karena ibu mereka pernah mengalami penghinaan atau membuat keputusan yang keliru.
Pilihan orang dewasa mungkin penuh keterpaksaan, tetapi detak jantung anak adalah jujur dan sangat berharga, kata Yang. Kehidupan di inkubator adalah kehidupan yang berani, dan keberadaan Harmony Home ada untuk memastikannya tidak layu sendirian dalam kegelapan, tambahnya.
Kepala tempat penampungan Harmony Home, Wang Guan-ting (王冠婷), mengatakan bahwa kisah itu hanyalah puncak gunung es. Banyak pekerja migran melarikan diri karena takut meminta bantuan, sehingga bayi-bayi berada di luar sistem, ujarnya.
Yang dihadapi, kata Wang, adalah "realitas sosial yang serius": hak atas layanan kesehatan dan kehidupan tidak dibatasi oleh kewarganegaraan, dan Harmony Home akan terus berada di garis depan sebagai "benteng terakhir" bagi kehidupan yang terpinggirkan, serta berharap instansi terkait memberikan dukungan.
Harmony Home mengundang masyarakat untuk mendukung program perawatan yayasan, mengatakan bahwa dengan dukungan publik, anak-anak yang berada di "pinggiran sosial" ini dapat tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dan aman, serta memiliki masa depan yang penuh harapan.
Selesai/