Taipei, 24 Feb. (CNA) Seorang pria Kaohsiung ditangkap pada Selasa (24/2) pagi setelah melakukan panggilan iseng ke sistem MRT Taipei dengan mengancam akan membunuh orang di kereta bawah tanah ibu kota, menurut Departemen Kepolisian Kota Taipei.
Individu yang ditangkap adalah pria berusia 36 tahun yang dilaporkan memiliki riwayat melakukan panggilan iseng dengan ancaman kekerasan, menurut beberapa sumber.
Dalam siaran pers, Kantor Polisi Songshan mengatakan bahwa Pusat Kontrol Operasi MRT Taipei melaporkan mereka menerima panggilan telepon sekitar pukul 19.00 pada Senin dari seseorang yang mengaku akan membunuh orang di gerbong kereta bawah tanah antara Stasiun Nanjing Sanmin dan Stasiun Songshan.
Setelah panggilan tersebut, anggota kepolisian dan pemadam kebakaran Taipei dikerahkan ke Stasiun Songshan.
Bersama petugas stasiun, mereka memeriksa kereta bawah tanah yang tiba di stasiun dalam rentang waktu yang dicurigai serta area stasiun, tetapi tidak menemukan korban, sehingga pejabat menyimpulkan ancaman tersebut adalah tipuan.
Penyelidikan pun diluncurkan, dan setelah memperoleh surat perintah penangkapan dari Kantor Kejaksaan Distrik Taipei, petugas polisi menangkap pelaku di Kaohsiung sekitar pukul 02.00 hari Selasa atas dugaan pelanggaran ketentuan keselamatan publik dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Menurut beberapa sumber media lokal, pihak berwenang menemukan pelaku memiliki sertifikat disabilitas tingkat sedang dan memiliki riwayat pernah ditangkap karena melakukan panggilan iseng.
Sebagai contoh, ia diketahui pernah melakukan panggilan ke Taiwan Railway Corp. pada 2024 dengan mengaku akan melakukan pembunuhan di kereta dan juga sempat diamankan saat itu, tetapi sumber tidak mengungkapkan lebih lanjut apa yang terjadi padanya setelah itu.
Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Taiwan, orang yang "Membahayakan keselamatan publik dengan menimbulkan ketakutan akan cedera pada jiwa, tubuh, atau harta benda masyarakat," yang dapat berlaku untuk panggilan iseng, dapat dijatuhi hukuman penjara hingga dua tahun.
Namun, mengingat kemungkinan pelaku memiliki disabilitas, ia juga dapat diwajibkan untuk dirawat di institusi kesehatan jiwa.
Saat penangkapannya pada Selasa dini hari, pelaku mengatakan tindakannya dipicu rasa bosan dan pengaruh buruk, menurut laporan Liberty Times berbahasa Mandarin.
Ayahnya, yang tinggal bersama pelaku, mengatakan bahwa ia tidak mampu mencegah anaknya berperilaku buruk, menurut laporan tersebut.
Kasus ini akan diserahkan ke Kantor Kejaksaan Distrik Taipei untuk pemeriksaan lebih lanjut dan kemungkinan penuntutan sebagai bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung.
Selesai/JC