Oleh Sean Lin dan Muhammad Irfan, reporter staf CNA
Takhayul yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat membentuk kehidupan seseorang dengan cara yang halus tetapi bertahan lama. Dalam film fitur solo debutnya "Left-Handed Girl" (左撇子女孩), sutradara Tsou Shih-ching (鄒時擎) menggunakan salah satu kepercayaan tersebut untuk menelaah peran gender dan ekspektasi sosial yang dibebankan kepada perempuan dalam masyarakat Taiwan.
Film ini mengikuti kisah Shu-fen, yang diperankan Janel Tsai (蔡淑臻), seorang ibu tunggal yang pindah bersama dua putrinya dari Kabupaten Taitung di Taiwan timur ke Taipei, di mana ia mencoba memulai hidup baru dengan menjalankan kios mi di pasar malam.
Saat Shu-fen berjuang dengan biaya sewa, hubungan yang renggang dengan keluarganya, dan ketegangan yang meningkat dengan putri sulungnya yang keras kepala, I-ann, yang diperankan Ma Shih-yuan (馬士媛), putri bungsunya yang berusia 5 tahun, I-jing, yang diperankan Nina Ye (葉子綺), yang kidal, mulai mencuri di sekitar pasar malam, percaya bahwa tindakannya didorong "tangan iblis"-nya.
Film ini telah masuk daftar pendek untuk kategori Best International Feature Film di Academy Awards (Oscar) ke-98.
"Ide cerita ini sebenarnya berasal dari kenangan masa sekolah menengah atas, ketika kakek saya melihat saya memotong makanan dengan pisau dapur di tangan kiri," kata Tsou kepada CNA dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
"Dia sangat emosional dan meminta saya untuk tidak menggunakan tangan kiri, menyatakan bahwa 'tangan kiri adalah tangan iblis'."
Melepaskan diri dari konvensi
Seiring cerita berkembang, Tsou menggunakan takhayul seputar kidal untuk menyoroti kerangka sosial dan konvensi yang tidak adil dibebankan pada perempuan, batasan-batasan yang, katanya, "Mencegah mereka menjadi diri sendiri."
Bertumbuh di Taiwan, Tsou mengenang, sering kali terasa seolah-olah guru mengharapkan anak perempuan untuk tidak menonjol dan menghindari "terlalu menonjol" agar tidak menarik "terlalu banyak perhatian."
Melawan konvensi yang membatasi seperti itu, katanya, adalah dorongan utama di balik naskah ini, dan tema yang sudah ditetapkan bahkan sebelum ia dan kolaborator lamanya Sean Baker, sutradara drama komedi pemenang Oscar 'Anora', mulai menulis film ini bersama.
"Saya bilang ke Sean, 'Kalau kita menulis film ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya sebagai perempuan yang tumbuh di Taiwan dan semua cerita yang pernah saya dengar'," kata Tsou.
Dua puluh tahun dalam proses
Tsou mengatakan ia bertemu Baker di The New School saat mengejar gelar master, dan Baker langsung tertarik dengan anekdot "tangan iblis"-nya. Keduanya ingin membuat film yang terinspirasi dari cerita itu dengan gaya Dogme 95, sebuah gerakan Denmark yang berakar pada pendekatan murni dalam pembuatan film yang keduanya sukai.
Ide tersebut membawa mereka ke Taiwan pada 2001 untuk mencari bahan cerita, di mana Baker menemukan elemen khas Taiwan seperti kios pinang dan pasar malam, yang keduanya tampil menonjol dalam film.
Namun, karena keduanya belum pernah menyutradarai film fitur saat itu, mendapatkan pendanaan terbukti hampir mustahil, dan proyek ini pun ditunda.
Tsou mengatakan mereka terus menyempurnakan naskah dan menyelesaikannya pada 2010, tetapi baru pada 2021, ketika mereka menghadiri Festival Film Cannes untuk film Baker "Red Rocket" dan berbicara dengan pemilik perusahaan distribusi Prancis, "Left-Handed Girl" akhirnya mendapatkan pendanaan.
"'Parasite' memenangkan Oscar pada 2020. Itu membuka pintu bagi cerita-cerita Asia, yang dengan cepat mendapatkan perhatian," ujarnya.
Ketika ditanya apa yang memotivasinya untuk bertahan dengan proyek ini begitu lama, Tsou mengatakan film ini memiliki makna pribadi yang mendalam bagi dirinya dan Baker.
"Itu bisa saja menjadi film pertama kami jika kami tidak membuat 'Take Out'," katanya, merujuk pada drama tahun 2004 yang ia sutradarai bersama Baker.
Lokasi, lokasi, lokasi
Saat mencari distributor, Tsou mengatakan ada yang menyarankan agar ia syuting film di New York saja, ide yang langsung ia tolak.
"Saya sangat bersikeras, karena pasar malam adalah inti dari ceritanya. Jika saya tidak syuting di Taiwan, ceritanya tidak akan berhasil," katanya.
Sekarang film ini telah diputar di bioskop-bioskop di seluruh dunia dan tersedia di Netflix, Tsou mengatakan ia senang bisa memperkenalkan Taiwan ke penonton global.
"Membuat film ini membuat saya menemukan kembali keindahan Taiwan," kata Tsou, yang terus tinggal di Amerika Serikat sejak lulus kuliah.
Ia mencatat bahwa orang sering menjadi acuh tak acuh terhadap lingkungan mereka setelah tinggal di tempat yang sama selama bertahun-tahun, tetapi kembali dengan sudut pandang baru dapat membuat pemandangan dan suara yang akrab terasa baru.
"Saya akan berpikir, 'Ini sangat Taiwan. Saya harus mendokumentasikan ini'," katanya.
Meskipun jelas berfokus pada karakter perempuan dan pengalaman perempuan, Tsou mengatakan ia berharap film ini akan mendorong refleksi yang lebih luas.
"Anehnya, banyak konvensi yang diwariskan meskipun sama sekali tidak bermakna," katanya.
"Saya berharap film ini mendorong orang untuk melihat kehidupan mereka sendiri dan bertanya kepercayaan apa yang telah mereka warisi, dan apakah sudah saatnya untuk melepaskannya."
Selesai/JC