Peneliti BRIN: Indonesia butuh kolaborasi dengan Taiwan demi ketahanan pangan

23/02/2026 17:18(Diperbaharui 23/02/2026 17:18)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Lahan pertanian di Chiayi. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Lahan pertanian di Chiayi. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Taipei, 23 Feb. (CNA) Indonesia memiliki kebutuhan mendesak untuk berkolaborasi dengan Taiwan, terutama di sektor agrikultur dan pangan, demi ketahanan pangan negara, kata Pandu Prayoga, peneliti ASEAN di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam sebuah tulisan yang diterbitkan di Republika pada 17 Februari, Pandu mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mencanangkan program ketahanan pangan yang berfokus pada peningkatan produktivitas sektor pertanian atau perikanan, pengamanan rantai pasok pangan dan logistik.

"Hal ini menuntut akselerasi riset dan teknologi dengan mitra dari berbagai entitas," menurut Pandu. "Di sinilah kolaborasi internasional menjadi kata kunci."

Dalam konteks tersebut, tambahnya, "Ada satu mitra yang selama ini bak tenggelam dalam kebijakan geopolitik, tetapi menawarkan aset penting yakni Taiwan. Taiwan tercatat memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan, ditopang oleh kehadiran institusi-institusi riset yang mumpuni."

"Kolaborasi dengan Taiwan, terutama di sektor agrikultur dan pangan, nampaknya merupakan kebutuhan fungsional yang mendesak," menurut Pandu.

Pandu mengatakan terdapat salah satu aset global Taiwan yang banyak tidak diketahui publik, yakni World Vegetable Center (WorldVeg) di Kota Tainan, yang menyimpan koleksi benih sayuran krusial dan memiliki keahlian dalam pemuliaan varietas yang tangguh terhadap iklim tropis dan penyakit.

Pada 2025, kata Pandu, dirinya berkesempatan melihat langsung di mana benih-benih tersebut disimpan dalam beberapa ruang pendingin khusus.

WorldVeg adalah lembaga nirlaba internasional untuk penelitian dan pengembangan sayuran yang membantu petani di negara berkembang menanam dengan aman guna meningkatkan pendapatan mereka dan mendorong masyarakat untuk mengonsumsi lebih banyak sayur demi kesehatan, menurut halaman Facebooknya.

Menurut Pandu, Indonesia, salah satunya melalui Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, memiliki potensi kolaborasi yang menjanjikan di sini. Kerja sama Taiwan dan Indonesia sendiri dapat difokuskan dalam tiga klaster riset, ujarnya.

Klaster pertama, menurut Pandu, berfokus pada akses varietas sayuran berdaya hasil tinggi, kaya nutrisi, dan tahan terhadap kekeringan maupun banjir yang telah dikembangkan BRIN dan WorldVeg. Ketersedian benih unggul ini sangat relevan dalam diversifikasi pangan dan mengatasi stunting, menurutnya.

Yang kedua, kata Pandu, berupa transfer teknologi pemuliaan. Pemanfaatan teknologi WorldVeg dalam riset genetika dan pemulian tanaman diharapkan dapat mempercepat lahirnya varietas lokal Indonesia yang unggul, menurutnya.

Sementara klaster riset ketiga, kata Pandu, berfokus pada peningkatan nutrisi pangan, dan bertanggung jawab pada kolaborasi mendukung aspek nutrisi dari ketahanan pangan bukan hanya kuantitas sumber pangan, tetapi juga kualitas gizi dari sayuran dan sumber pangan lainnya. 

Pandu juga menegaskan keberadaan Tim Teknis Taiwan (TTM) di Indonesia, yang telah memberikan demonstrasi langsung mengenai praktik pertanian yang efisien dan modern, dan menunjukkan potensi Taiwan untuk menjadi alternatif mitra kolaborasi Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan.

Pada 1976, Indonesia dan Taiwan menandatangani perjanjian kerja sama teknis pertanian. Sejak saat itu, lembaga TaiwanICDF mengirimkan TTM untuk memberikan bantuan.

Baca juga: Peringati 49 tahun kerja sama, Taiwan umumkan program pertanian baru di Indonesia

Pandu juga mengatakan bahwa meskipun "Kebijakan Satu Tiongkok" yang dipegang Indonesia membatasi hubungan formalnya dengan Taiwan di level pemerintah, kerja sama di tingkat nonpemerintah telah terjalin tanpa menjadikan persoalan politik sebagai penghalang, seperti yang dilakukan TTM sejak 2018 di Karawang.

Selain itu, kerja sama riset, khususnya di sektor pangan, dapat ditempatkan sebagai diplomasi jalur kedua yang berfokus pada kesejahteraan rakyat, alih-alih bicara masalah kedaulatan politik, kata Pandu. "Pandangan ini penting sebagai landasan dalam membentuk kerja sama yang mendukung kedaulatan pangan Indonesia."

Lebih jauh, Pandu mengatakan ia melihat ada kondisi yang harus dipenuhi dalam mewujudkan kolaborasi yang lebih intensif di sektor pangan antara Indonesia dan Taiwan, termasuk bahwa kerja sama ini diformulasikan melalui skema nondiplomatik, tanpa melalui pemerintah.

Kolaborasi ini, menurutnya, juga mesti memiliki pendanaan fleksibel yang tidak terhalang ketiadaan hubungan formal, memastikan adilnya pembagian keuntungan serta terlindungnya hak paten kekayaan intelektual Indonesia, serta berorientasi pada produk dan dampaknya, seperti bermuara pada transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan hilirisasi benih yang cepat ke tingkat petani.

Jika Indonesia mampu mengelola sensitivitas politik dan memprioritaskan kepentingan fungsional, kata Pandu, "Kolaborasi dengan WorldVeg dan institusi Taiwan lainnya akan menjadi investasi strategis yang mampu memberikan nutrisi bagi generasi penerus bangsa."

"Pengakuan politik terhadap kebijakan satu Tiongkok bukan halangan menyediakan ketersediaan varietas pangan dari mitra lainnya. Indonesia harus berani menjemput inovasi dari mitra kompeten, meskipun secara diplomatik, hubungan tersebut harus berjalan di atas garis batas yang tipis," menurutnya.

(Oleh Jason Cahyadi)

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.