Taipei, 10 Feb. (CNA) Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan Taiwan (TFDA) hari Selasa (10/2) mengumumkan enam produk camilan dari Indonesia yang berbobot total 3,406 ton telah ditahan di perbatasan atas kandungan berbagai zat yang tidak sesuai ketentuan, termasuk pemanis buatan hingga racun jamur.
Tsai Chia-fen (蔡佳芬), wakil direktur Pusat Administrasi Regional Utara TFDA, mengatakan kepada media bahwa lima produk keripik pisang dan singkong dari Indonesia telah terdeteksi mengandung sakarin dan asam siklamat.
Karena bahan-bahan tersebut tidak termasuk dalam daftar bahan aditif yang diizinkan untuk produk terkait, kelima produk itu tersebut wajib dikembalikan atau dimusnahkan di perbatasan, tambah Tsai.
Menurut situs web TFDA, kelima produk tersebut masing-masing berlabel "Cassava Molen", "Pisang Panjang", "Cassava SJ", "Cassava Sakura", dan "Cassava Marning", yang diimpor Miyalo Limited Company dari PT Penjelajah Gurih Inta.
Sementara itu, Tsai mengatakan kacang olahan yang diimpor oleh pelaku usaha lain dari Indonesia terdeteksi mengandung aflatoksin B1 sebesar 158 mikrogram per kilogram (µg/kg) dan total aflatoksin 233 µg/kg.
Berdasarkan standar di Taiwan, batas maksimum racun jamur aflatoksin B1 pada kacang tanah, biji minyak, kedelai, serta produk olahannya untuk konsumsi langsung adalah 2 µg/kg, sedangkan total aflatoksin dibatasi 4 µg/kg, kata Tsai.
Produk tersebut, yang dilabeli "Sukro Snack Garlic Flavor" dan diimpor Baijia Trading Co. dari PT Dua Kelinci Food Industry, juga dikembalikan atau dimusnahkan di perbatasan sesuai ketentuan, menurut situs web TFDA.
Menurut statistik TFDA dari 2 Agustus 2025 hingga 2 Februari 2026, 17 dari 698 kelompok camilan garing asal Indonesia yang diajukan untuk pemeriksaan telah dinyatakan tidak memenuhi standar kandungan pengawet, pemanis buatan, dan aflatoksin yang tidak sesuai ketentuan.
Sejak 13 Januari hingga 9 Maret tahun ini, kata Tsai, TFDA telah menerapkan pemeriksaan ketat per kelompok terhadap camilan garing asal Indonesia di perbatasan Taiwan, dengan tingkat pengambilan sampel sebesar 100 persen.
(Oleh Shen Pei-yao dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF