FEATURE /Dengan bahasa Mandarin, pekerja migran mendaki tangga karier di Taiwan

03/02/2026 19:07(Diperbaharui 03/02/2026 19:07)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : Trinh Thi Anh)
(Sumber Foto : Trinh Thi Anh)

Oleh Elly Wu dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA

Tanpa kemampuan bahasa Mandarin sama sekali, Trinh Thi Anh datang ke Taiwan sebagai pekerja migran karena tuntutan beban ekonomi. Dipicu kegemarannya menonton sinetron, kini ia tidak hanya telah berhasil mendapatkan sertifikasi Mandarin tingkat lanjut, tetapi juga mencetak sejarah baru di perusahaannya.

Di sebuah pabrik manufaktur di Taoyuan, Trinh sibuk di meja kerjanya, menangani berbagai dokumen. Mulai dari pengajuan perekrutan pekerja asing hingga komunikasi dengan pihak Vietnam, semua dokumen selalu melalui tangannya. Di perusahaan, ia menjadi pekerja migran pertama yang memegang posisi sumber daya manusia (SDM), didorong kemampuan Mandarinnya.

Trinh, yang berasal dari Vietnam utara, tinggal bersama orang tua dan dua adik perempuannya. Setelah lulus sekolah menengah atas pada usia 18 tahun, karena sedikitnya peluang kerja dan rendahnya gaji di Vietnam, untuk meringankan beban keluarga, ia direkomendasikan oleh kerabat untuk bekerja di Taiwan.

Takdir membawanya menemukan pekerjaan di Kabupaten Yilan sebagai operator lini produksi. Namun, tidak lama setelah tiba di Taiwan, ia menyadari bahwa kendala terbesar dalam hidupnya adalah masalah bahasa.

Bahasa tubuh dan pesona idola

"Ketika baru tiba di Taiwan, saya benar-benar tidak mengerti sepatah kata pun," kenang Trinh. Baik saat membeli barang maupun bekerja, ia hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa tubuh.

Ia sering menyimpan foto produk di ponsel, lalu menunjukkannya langsung kepada kasir saat membayar. Di tempat kerja, karena tidak memahami instruksi, ia harus menanyakan ulang alur kerja berkali-kali sehingga menyebabkan keterlambatan.

Berbagai kesulitan bahasa ini membuat Trinh memutuskan untuk belajar Mandarin hanya beberapa bulan setelah tiba di Taiwan. "Setidaknya saya harus bisa mengerti," ujarnya.

Namun, ia tidak mendaftar kursus atau membeli buku pelajaran, melainkan mulai melatih kemampuan mendengarnya dengan cara yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Drama sinetron Taiwan menjadi titik awal yang penting dalam belajarnya.

Saat itu, ia setiap harinya menonton "The Prince Who Turns Into a Frog" (王子變青蛙) yang sedang populer, menggunakan pengucapan Mandarin dengan takarir (subtitle) bahasa Vietnam untuk melatih pendengaran. "Terus menonton dramanya, tanpa sadar kemampuan saya meningkat."

Sekitar tiga bulan kemudian, Trinh sudah bisa memahami sebagian percakapan sehari-hari dengan rekan kerja Taiwan. Ia juga mencatat saat rekan kerja mengobrol, dan jika ada yang tidak dimengerti, ia bertanya ke penerjemah di asrama atau langsung menanyakan kepada atasan.

Pada tahun keempat bekerja di Taiwan, kemampuan mendengar Mandarin Trinh meningkat sehingga dipindahkan ke posisi manajerial di asrama. Hal ini mendorongnya untuk lebih serius meningkatkan kemampuan Mandarin.

"Belajar Mandarin dengan baik, membuat pekerjaan lebih baik," begitu keyakinannya.

Bekerja, berdaya

Dalam perjalanannya, kata Trinh, ia juga memutuskan membeli buku karena ingin tidak hanya mengerti mendengar tetapi juga membaca tulisan. Ia juga mendaftar kelas Mandarin gratis untuk pekerja migran di sebuah sekolah dasar. Namun, karena sering lembur, ia hanya bisa mengikuti lima kali pertemuan sebelum terpaksa berhenti.

Meski begitu, Trinh tidak menyerah, dan mengubah cara belajarnya. Ia menetapkan waktu 15–20 menit untuk latihan mendengar dan membaca. Jika terlalu lelah, ia mendengarkan musik atau menonton video Mandarin untuk bersantai.

Selama belajar Mandarin, atasan langsungnya juga menjadi pendukung penting. "Saya sering bertanya arti sebuah kata, dan dia menjelaskan dengan teliti, bahkan menggunakan Google Translate untuk menerangkan."

Setelah bertahun-tahun belajar, kemampuan bahasa Trinh meningkat, dan atas dorongan atasan, ia mendaftar Ujian Kemampuan Bahasa Mandarin (TOCFL). "Saya ingin membuktikan kemampuan saya, sekaligus memberi tujuan yang jelas," ujarnya.

Ia lulus tes Mandarin tingkat A2 (dasar) pada awal 2020, dan tahun 2023 berhasil memperoleh sertifikasi tingkat B2 (lanjutan). Hingga kini ia terus mempersiapkan diri, berharap bisa mendapatkan sertifikasi fasih atau mahir di masa depan.

Sebuah terobosan

Waktu berlalu, Trinh pindah bekerja ke sebuah perusahaan manufaktur di Taoyuan. Setelah satu tahun bekerja di lini produksi, pihak pemberi kerja menyadari keahlian bahasa dan pengalaman manajemennya, dan kemudian mempromosinya ke posisi SDM perusahaan, menangani terjemahan manual mesin, pengurusan dokumen pekerja migran, dan manajemen absensi.

Selain belajar mandiri, Trinh aktif membantu pekerja migran lain yang ingin belajar Mandarin. Ia tidak hanya menanyakan apakah pekerja baru membutuhkan materi belajar, tetapi juga membantu membuat kartu kosakata, meminjamkan buku kepada rekan kerja yang ingin mengikuti ujian, bahkan mengadakan pertemuan kecil belajar di kamar.

Trinh menyatakan, meskipun proses belajar harus dibarengi dengan pekerjaan dan sering melelahkan, kemampuan Mandarin yang meningkat tidak hanya membantu perkembangan karier, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan orang Taiwan dan memperlancar hubungan dengan orang lain.

"Supir taksi sering mengira saya orang Taiwan, mereka bilang pengucapan saya tepat, itu membuat saya sangat bangga," tutur dirinya yang telah berstatus Pekerja Teknis Tingkat Menengah (PTTM).

Selama lebih dari 12 tahun, Trinh tidak hanya belajar Mandarin, tetapi juga jatuh cinta dengan budaya Taiwan. "Saya paling suka makanan malam di pasar malam, berkunjung ke kuil, dan budaya antre di Taiwan," ucapnya. Di Vietnam, ia jarang melihat orang antre dengan tertib, sehingga bagi dirinya hal ini sangat menarik.

Trinh juga menilai orang Taiwan sangat ramah. "Orang Taiwan berbicara dengan sopan, sering berkata 'maaf' dan 'terima kasih', membuat saya merasa hangat," ujarnya, menambahkan bahwa dirinya ingin terus mengembangkan diri di Taiwan dan meningkatkan kemampuan Mandarin.

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.