Taipei, 4 Feb. (CNA) Taiwan berencana membangun jalur produksi logam tanah jarang skala percontohan dalam tiga tahun ke depan yang dapat memenuhi sekitar 50 persen permintaan domestik, kata Menteri Urusan Ekonomi Kung Ming-hsin (龔明鑫) pada Selasa (3/2), seiring Taipei dan Washington meningkatkan kerja sama untuk memperkuat keamanan rantai pasok.
Kung menyampaikan pernyataan tersebut dalam jumpa pers mengenai Dialog Kemitraan Kemakmuran Ekonomi (EPPD) Taiwan-Amerika Serikat (AS) keenam, yang berakhir pada 27 Januari di Washington.
Dialog tersebut berfokus pada empat pilar: penyelarasan strategis dalam keamanan rantai pasok, kerja sama pada mineral kritis, kerja sama dengan negara ketiga, dan hubungan ekonomi bilateral, menurut Kung.
Kung mengatakan kedua pihak sepakat bahwa unsur tanah jarang sangat penting bagi keamanan rantai pasok dan berkomitmen untuk memperkuat kerja sama di bidang seperti penambangan dan pemurnian mineral kritis, serta teknologi untuk mendaur ulang limbah elektronik.
Kementerian Urusan Ekonomi mendukung Industrial Technology Research Institute (ITRI) dalam mengembangkan teknologi tanah jarang lokal dan lini produksi eksperimental, dengan rencana membangun lini produksi skala percontohan dalam tiga tahun, kata Kung.
Proyek ini diperkirakan dapat memenuhi sekitar setengah dari permintaan domestik Taiwan, dan pihak AS telah menyatakan minat yang kuat terhadap inisiatif ini, tambahnya.
Taiwan telah menyelesaikan teknologi produksi percobaan, yang awalnya dirancang untuk memenuhi sekitar sepertiga permintaan domestik, menurut Kung.
Pejabat AS mencatat bahwa setelah model ini matang, pengalaman Taiwan dapat direplikasi di negara mitra untuk meningkatkan ketahanan dan keamanan rantai pasok tanah jarang global, tambah Kung.
AS telah berinvestasi pada sumber mineral kritis di seluruh dunia dan bersedia membantu Taiwan -- yang tidak memiliki cadangan logam tanah jarang yang signifikan -- mengamankan akses ke bahan baku, ujarnya.
AS juga bekerja sama dengan Taiwan dan negara mitra lainnya untuk mengembangkan produksi tanah jarang di negara ketiga, kata Kung.
Terkait keamanan rantai pasok, Kung mengatakan kedua pihak juga membahas upaya memastikan keamanan rantai pasok kecerdasan buatan, yang menjadi perhatian utama AS.
Berdasarkan keunggulan Taiwan dalam manufaktur semikonduktor dan peladen (server) kecerdasan buatan (AI), kedua pihak bertujuan memperdalam kerja sama di bidang AI dan teknologi canggih di bawah kerangka Deklarasi Pax Silica, dengan partisipasi pemerintah dan industri, ujarnya.
Kemajuan juga dilaporkan dalam kerja sama rantai pasok drone. Menjelang dialog, ITRI menandatangani perjanjian otorisasi dan evaluasi "Green UAS" dengan Association for Uncrewed Vehicle Systems International di AS, memungkinkan drone bersertifikat dijual secara komersial di pasar kedua pihak.
Terkait isu ekonomi bilateral, Kung meminta AS segera mengesahkan undang-undang terkait perjanjian penghindaran pajak berganda, dengan alasan pentingnya bagi investasi lintas negara.
Selesai/IF