Masakan Indonesia Rendah Karbohidrat diperkenalkan dalam lokakarya kesehatan

29/01/2026 21:46(Diperbaharui 29/01/2026 21:46)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Workshop Masakan Indonesia Rendah Karbohidrat. (Sumber Foto : CNA, 29 Januari 2026)
Workshop Masakan Indonesia Rendah Karbohidrat. (Sumber Foto : CNA, 29 Januari 2026)

Taipei, 29 Jan. (CNA) Puluhan peserta memadati lokakarya yang diadakan oleh Zhonghua Low Carb Master Association bertempat di Social Innovation Lab jalan Ren'ai, distrik Daan, Kota Taipei mengkampanyekan pola makan sehat disampaikan oleh Wara Agustina Rukmini, Kepala Bidang Perdagangan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei yang bekerja sama dengan organisasi tersebut menyelenggarakan acara ini.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 13.45 ini menghadirkan pembicara utama yaitu Connie Lee (李康妮) dari asosiasi Zhonghua Low Carb. Kepada CNA Lee mengatakan, di usia 60 tahun seperti dirinya, orang sering dianggap menginjak usia paruh baya dan rentan terhadap penyakit kronis. Namun hal itu biasanya dipicu oleh konsumsi gula yang berlebih. 

Connie Lee dari asosiasi Zhonghua Low Carb dalam presentasinya mengatakan bahwa rempah-rempah adalah antioksidan terbaik. (Sumber Foto : CNA)
Connie Lee dari asosiasi Zhonghua Low Carb dalam presentasinya mengatakan bahwa rempah-rempah adalah antioksidan terbaik. (Sumber Foto : CNA)

“Makanan Indonesia memang lezat, tetapi masalahnya adalah kandungan gulanya terlalu tinggi. Termasuk beras dan pemanis tambahan. Jadi bagaimana kita membuatnya tetap lezat dan tetap sehat dengan mengurangi gula, itulah mengapa kami menyelenggarakan acara ini,” ujarnya di awal acara saat ditemui oleh CNA.

Presentasi tentang Indonesia terlebih dahulu sebelum mengenalkan masakan Indonesia. (Sumber Foto : CNA)
Presentasi tentang Indonesia terlebih dahulu sebelum mengenalkan masakan Indonesia. (Sumber Foto : CNA)

Menurut Lee, Indonesia memiliki rempah-rempah terbaik di dunia. Rempah-rempah kaya khasiat sebagai antioksidan terbaik untuk tubuh manusia.

"Jadi kita harus menggunakan lebih banyak rempah-rempah untuk membuatnya lezat sambil mengurangi gula. Itulah mengapa kami menyelenggarakan acara ini, yang disebut 'Masakan Indonesia Rendah Karbohidrat'," ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembicara kedua, Liu Ming-Fang (劉明芳 atau yang akrab dikenal dengan nama Teresa Liu penulis buku "Southeast Asian Spices (餐桌上的南洋香料百科)". Dalam presentasinya Teresa mengungkapkan tentang rahasia bumbu-bumbu masakan Indonesia. Kepada CNA, Teresa mengatakan bahwa kegiatan hari ini lebih mengenalkan rempah-rempah Indonesia melalui masakan yang tersedia dan dapat dicicipi oleh peserta.

Teresa Liu penulis buku "Southeast Asian Spices (餐桌上的南洋香料百科)" menjadi pembicara kedua dalam workshop tersebut. (Sumber Foto : CNA)
Teresa Liu penulis buku "Southeast Asian Spices (餐桌上的南洋香料百科)" menjadi pembicara kedua dalam workshop tersebut. (Sumber Foto : CNA)

“Saya ingin menekankan pada orang Taiwan bahwa masakan Indonesia itu kuat di bumbunya, dan yang terpenting adalah bumbu. Masakan Indonesia lebih unik, karena perpaduan antara western food, masakan Tionghoa dan cita rasa Indonesia itu sendiri,” ujar Teresa.

Ia juga mengatakan bahwa banyak masyarakat Taiwan yang memuja rendang sebagai makanan kesukaan, bahkan mereka mengatakan jika rendang lebih enak dibandingkan kari, ujar Teresa menirukan opini masyarakat Taiwan.

Kemudian hal lain yang sering dibagikan Teresa pada orang Taiwan adalah pengenalan makanan Indonesia, sate.

“Kebanyakan orang Taiwan tidak tahu kalau sate adalah masakan Indonesia asli, cuma makanan ini sudah menyebar di Singapura, Malaysia dan Tailan. Saya menjelaskan bahwa ada beragam sate dari Indonesia dengan cita rasa khas yang berbeda-beda satu sama lain,” kata Teresa.

Sementara itu, ditemui di sela-sela acara, Wara kepala Bidang Perdagangan KDEI mengatakan pada CNA bahwa awal yang bagus dengan mempromosikan produk Indonesia bisa digunakan untuk pola hidup sehat. 

“Saya rasa ini baru pertama kali di Taiwan dalam suatu workshop memperkenalkan kuliner untuk gaya hidup sehat. Selain rempah, Connie Lee juga memperkenalkan gula merah dari Indonesia untuk produk kue-kue western cake. Mudah-mudahan kerja sama ini tidak hanya berhenti di workshop saja, melainkan akan banyak orang Taiwan membeli produk Indonesia untuk memasak,” ujar Wara. 

Wara juga menyampaikan bahwa ide awal Lee memboyong produk Indonesia untuk diperkenalkan ke Taiwan karena ia pernah mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) tahun 2025. Berawal dari mengenali produk-produk Indonesia di TEI yang digelar pada bulan Oktober 2025, Lee akhirnya membawa beberapa produk-produk tersebut dan menjadikan sebagai bahan baku pembuat makanan yang ramah kesehatan dan rendah kalori.

Teresa Liu penulis buku masakan Indonesia (kiri), Wara Agustina Rukmini, Kepala Bidang Perdagangan KDEI (dua dari kiri) dan Connie Lee dari asosiasi Zhonghua Low Carb (kanan). (Sumber Foto : CNA)
Teresa Liu penulis buku masakan Indonesia (kiri), Wara Agustina Rukmini, Kepala Bidang Perdagangan KDEI (dua dari kiri) dan Connie Lee dari asosiasi Zhonghua Low Carb (kanan). (Sumber Foto : CNA)

“Saya senang dengan ide Connie Lee yang membuat makanan dari produk-produk Indonesia tetapi tidak menimbulkan lonjakan gula dalam darah. Produk-produk yang digunakan sebagai bahan baku pembuat makanan rendah kalori tersebut antara lain bubuk kunyit, gula aren organik, bubuk jahe dan juga kopi sebagai pelengkap hidangan minuman,” tutur Wara.

Para peserta juga diberikan kesempatan untuk menikmati hidangan rendah kalori masakan Indonesia. (Sumber Foto : CNA)
Para peserta juga diberikan kesempatan untuk menikmati hidangan rendah kalori masakan Indonesia. (Sumber Foto : CNA)

Pada lokakarya tersebut para peserta juga diberikan kesempatan untuk menikmati hidangan rendah kalori yang telah dibuat dari produk-produk Indonesia seperti nasi kuning, sate ayam, rendang, tempe dan juga telur balado. 

(Oleh Miralux)


Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.