Taipei, 6 Feb. (CNA) Sebuah studio tinju Thailand di Taipei yang dikelola oleh aktivis pro-demokrasi Hong Kong yang berbasis di Taiwan, Tong Wai-hung (湯偉雄), disiram cat merah untuk kedua kalinya pada Rabu (4/2), sebuah insiden yang oleh Tong dan kelompok sipil digambarkan sebagai penindasan transnasional.
Departemen Kepolisian Kota Taipei mengatakan pada Rabu malam bahwa mereka telah mengidentifikasi tersangka sebagai seorang pria asal Hong Kong berusia 46 tahun bermarga Leung (梁), yang juga memegang kewarganegaraan Taiwan.
Polisi mengatakan Leung masuk ke Taiwan sekitar pukul 11 malam pada Selasa, membeli dua kaleng cat merah di Distrik Sanchong, New Taipei, dan melakukan serangan di studio milik Tong di Distrik Shilin, Taipei, sekitar pukul 2 pagi pada Rabu.
Setelah insiden tersebut, Leung berkeliling Taipei sebelum menuju Bandara Internasional Taoyuan untuk mengejar penerbangan pagi ke Hong Kong, kata polisi, seraya menambahkan bahwa ia diduga melakukan intimidasi dan perusakan properti dan akan ditangkap jika kembali masuk ke Taiwan.
Penyelidik masih terus menyelidiki apakah Leung memiliki kaki tangan, tambah departemen tersebut.
Berbicara dalam konferensi pers di luar Yuan Legislatif pada Kamis pagi, Tong mengatakan bahwa, seperti insiden pertama pada November tahun lalu, serangan kedua ini dibingkai sebagai perselisihan utang untuk menutupi represi transnasional.
Selebaran penagihan utang berserakan di studio setelah serangan hari Rabu, tetapi Tong, yang menjadi buronan otoritas Hong Kong, menegaskan bahwa ia tidak memiliki dendam pribadi atau perselisihan utang dengan siapa pun.
Menggambarkan taktik tersebut sebagai berbiaya rendah namun efektif, Tong mengatakan hal itu telah mengganggu hidupnya dan menyebabkan masalah bagi pemilik tempatnya, sehingga ia terpaksa menutup sementara studionya.
Wakil Sekretaris Jenderal Amnesty International Taiwan, Chang Chih (張弛), mengatakan kasus ini bukan sekadar insiden ketertiban umum, melainkan contoh khas represi transnasional yang dilakukan untuk membungkam, mengendalikan, dan mengintimidasi aktivis di luar negeri.
Ia mendesak pemerintah Taiwan untuk menangani efek jera yang dapat ditimbulkan oleh represi transnasional terhadap masyarakat sipil, seraya mengatakan bahwa Taiwan masih kekurangan kerangka institusional yang memadai untuk merespons kasus semacam ini.
Liang Wen-chieh (梁文傑), wakil kepala dan juru bicara Dewan Urusan Tiongkok Daratan (MAC), mengatakan pada 22 Januari bahwa vandalisme yang menargetkan studio milik Tong -- merujuk pada insiden pertama -- "jelas" dimaksudkan sebagai peringatan kepada Tong dan untuk mengintimidasi warga Hong Kong lainnya yang tinggal di Taiwan.
Liang mengatakan saat itu bahwa polisi telah mengidentifikasi dua tersangka dari Hong Kong setelah meninjau rekaman kamera pengawas, seraya menambahkan bahwa mereka meninggalkan Taiwan tak lama setelah insiden untuk kembali ke Hong Kong.
Ia mengatakan pemerintah Taiwan memiliki pemahaman yang jelas tentang kasus ini dan akan menyelidiki sepenuhnya dugaan represi transnasional tersebut.
Selesai/ja