Taipei, 17 Nov. (CNA) Ribuan orang memadati pelataran museum National Taiwan museum yang bersebelahan dengan taman 228 sambil menyaksikan pagelaran budaya yang dihelat oleh Uters Dancer Taiwan, Universitas Terbuka, Minggu (16/11), merupakan acara kedua festival tahunan yang bertajuk Formosa Warrior Culture Festival II, kata Ketua Panitia, Vika Agustiana.
Menurut pengamatan CNA, acara yang dimulai pada pukul 10.00 ini dimulai dengan kegiatan lomba seperti balap karung, joget balon dan tarik tambang. Sementara itu sebanyak 150 peserta turut meramaikan karnaval budaya yang digelar dengan memamerkan ragam busana tradisional Indonesia yang dimodifikasi dengan konsep lebih modern. Barisan karnaval berjalan mulai dari pintu keluar M5 di Taipei Main Station menuju museum taman 228 dengan jarak tempuh 30 menit melintasi jalan raya yang dijaga pihak kepolisian.
Kegiatan inti dimulai pukul 12.00 setelah pembukaan lagu "Indonesia Raya" dan sambutan ketua panitia serta perwakilan dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei. Pertunjukan seni musik angklung membuka kegiatan tersebut menambah semarak antusias penonton untuk melingkar mengerumuni tenda utama di mana tempat pembawa acara membuka acara.
Selain itu, pertunjukan tari tradisional yang dibawakan oleh Pragina Bali Dwipa dan Uters Dancer turut mewarnai kegiatan tersebut. Banyak penonton mulai memadati area tersebut ketika 40 peserta peragaan busana berlenggok di tengah-tengah kerumunan lingkaran penonton.
Menurut pengamatan CNA yang hadir pada saat itu, meskipun cuaca di tengah terik matahari dan hembusan angin kencang, tak menyurutkan sorak sorai penonton untuk mendukung rekan-rekannya yang memamerkan gaun tradisional budaya Indonesia dan perlombaan peragaan busana.
Jaya (34) seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang mengikuti acara perlombaan peragaan busana ini menyampaikan pada CNA bahwa ia sangat senang turut berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Meski pertama kali ikut, tetapi Jaya mendesain bajunya sendiri selama satu minggu dengan konsep mahkota merak
"Ini melambangkan kebijaksanaan, kedewasaan, keindahan, dan keanggunan yang abadi," kata Jaya yang di Taiwan bekerja di pabrik di kawasan Guanyin Taoyuan ini.
Pada pukul 14.00 suasana semakin meriah ketika Eny Moresta melantunkan empat lagu Jawa bergenre koplo dangdut yang membuat puluhan penonton ke tengah berjoget bersama sang biduan. Sangking serunya, beberapa penonton bahkan menyawer sang biduan, menambah semarak acara.
Pertunjukan semakin meriah ketika pukul 14.30, acara yang dinanti-nantikan penonton yaitu penampilan Reog Ponorogo mulai dipertunjukkan. Sebanyak empat penari kuda lumping, dua singo barong (topeng raksasa berbentuk kepala harimau dengan hiasan bulu merak di atasnya) berlenggok menghipnotis penonton. Sementara itu, bujang ganong (topeng kecil rambut gondrong) juga meliuk-liuk menari sambil salto melompat yang memukau penonton untuk bertepuk tangan.
Vika, ketua panitia menuturkan jika kegiatan ini adalah kali kedua acara yang digelar Uters Dancer dengan persiapan selama satu tahun.
“Tahun kemarin kita mengadakannya di Wanhua, Taipei dan itu indoor, jadi terbatas penontonnya. Alhamdulilah tahun ini outdoor dengan penonton yang membludak seperti ini. Insya Allah ini akan jadi acara tahunan nantinya,” ujar Vika yang bekerja sebagai perawat migran di Chiayi ini.
Vika yang sudah 10 tahun tinggal di Taiwan ini juga menuturkan pada CNA bahwa tujuan acara tersebut untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia di Taiwan. Jika ada komunitas lain mempunyai tujuan yang sama, pihaknya terbuka untuk berkolaborasi ke depannya.
“Rekan-rekan pekerja migran di Taiwan dapat menunjukkan jika kita di Taiwan tidak hanya sekedar bekerja dan belajar tetapi juga menunjukkan hal-hal positif lainnya dengan mengadakan acara kesenian seperti ini, sebagai jati diri bahwa sebagai orang Indonesia kita tidak lupa untuk memperkenalkan budaya kita,” ujar mahasiswa Universitas Terbuka jurusan Sastra Inggris semester akhir ini.
Selesai/IF