WAWANCARA /Kisah lucu pemengaruh "Kadal Taichung" berubah jadi keuntungan monetisasi

13/05/2026 10:19(Diperbaharui 13/05/2026 10:19)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Deni Setiawan "Kadal Taichung" mengunjungi kantor CNA untuk wawancara. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Deni Setiawan "Kadal Taichung" mengunjungi kantor CNA untuk wawancara. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Oleh Miralux, reporter staf CNA

"你好朋友我的,今天好不好?好,明天?不知道 (Halo teman-temanku, apa kabarnya hari ini? Baik. Besok? Tidak tahu.)" Inilah percakapan khas "Kadal Taichung" yang dikenal para pengikutnya di seantero Taiwan. Bernama asli Deni Setiawan, pekerja migran Indonesia ini terkenal juga di kalangan warga lokal, hingga kerap diundang menjadi bintang tamu dalam acara.

Awal inisiatif konten "Kadal Taichung"

Saat diundang ke kantor CNA pada awal Mei, Deni bercerita bahwa nama "Kadal Taichung" diadopsinya dari tren yang ada saat itu, yakni pengunaan hujatan "dasar kadal" di media sosial. Sementara itu, Taichung diambil dari kota tempat tinggalnya bekerja saat ini. 

Saat ditanya bagaimana komunikasinya dengan orang lokal seperti majikan serta mandor di pabriknya, Deni, yang berasal dari Banyumas dan sudah delapan tahun di Taiwan, mengatakan ia memakai bahasa isyarat. 

"Misal nih, mandor minta tolong ambilkan barang, ya saya tidak tahu barang apa. Jadi saya yang harus inisiatif untuk mengambil beberapa barang yang dimaksud dengan menerka-nerka, sampai benar seperti yang mereka maksud," ujarnya.

"Kalau di pabrik, kebanyakan saya berinteraksi dengan orang Indonesia. Itu karena saya benar-benar tidak bisa bahasa Mandarin. Saya hanya bisa beberapa kosakata, kalau saya bingung mengatakannya jadi saya campur-campur dengan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, atau isyarat lainnya," tutur Deni.

Saat ditanya bagaimana ceritanya ia bisa terjun menjadi seorang pemengaruh, Deni pun menuturkan itu diawali keterbatasannya dalam berbahasa Mandarin, dan mencampurnya dengan bahasa Indonesia, yang malah membuat banyak orang tertarik menontonnya. 

"Awalnya menjadi influencer, karena saya keseringan menggunakan bahasa campuran. Saya sangat minim mengetahui kosakata bahasa Mandarin, kebanyakan saya campur dengan bahasa Indonesia, bahasa Jawa malah, nah ternyata justru itu lucunya di situ," menurutnya.

"Saya awalnya tidak sadar sih, dan saya kira orang-orang lokal akan marah dengan cara ngomong saya dan seperti ini, eh ternyata mereka malah suka dan menganggapnya lucu," ujar Deni.

Keisengan Deni membuat konten lucu yang berbicara Mandarin setengah-setengah dengan menggunakan isyarat dan bahasa campuran membuatnya telah menggaet lebih dari 60.000 pengikut di masing-masing media sosialnya, dan rata-rata adalah orang Taiwan. 

Saat ditanya berapakah hasil monetisasi yang ia dapatkan dalam per bulan, Deni hanya tertawa ringan sambil mengatakan bahwa hasilnya lumayan banyak, tanpa menyebutkan detailnya. 

Tak hanya mengubah kelucuannya menjadi konten yang menguntungkan monetisasi, Deni pun juga mendapat banyak tawaran menjadi bintang tamu dalam acara pesta atau hiburan malam orang lokal Taiwan. 

Tangkapan layar dari video Deni "Kadal Taichung" menjadi bintang tamu di acara pesta yang diselenggarakan warga Taiwan. (Sumber Foto : Instagram Deni)
Tangkapan layar dari video Deni "Kadal Taichung" menjadi bintang tamu di acara pesta yang diselenggarakan warga Taiwan. (Sumber Foto : Instagram Deni)

"Banyak orang menyangka saya hanya berpura-pura tidak bisa bahasa mandarin agar terlihat lucu, padahal memang sebenarnya saya tidak bisa. Meskipun sudah delapan tahun, saya tidak bisa berbahasa Mandarin dengan benar," ujar Deni.

Video-video "meledak"

Saat ditanya beberapa video yang sempat meledak di ketiga media sosialnya, Deni pun mengatakan ia sebenarnya merekamnya dengan murni tidak direncanakan. Salah satunya adalah tentang membeli petasan, yang telah disukai 232 ribu akun dari Instagram dengan banyak komentator berbahasa Mandarin.

"Awal mula video saya meledak itu karena pas tahun baru, saya pergi membeli petasan untuk anaknya teman saya. Nah saya punya dua HP, yang ada internetnya saya tinggal di rumah. Saya hanya membawa HP yang tidak ada internetnya, jadi saya tidak bisa membuka internet untuk menunjukkan gambar barang yang ingin saya beli," ujarnya.

"Makanya saya bingung harus bilang apa, jadi saya bilang saja, 老闆我要那個 (bos, saya ingin) 'kretek kretek dor dor.' Lama-lama penjualnya menerka-nerka sendiri dan memperlihatkan satu per satu barang yang mungkin aku maksud. Meskipun pada akhirnya penjualnya memberiku kembang api bukan petasan, tapi ya tidak apa-apa," sambungnya.

Tangkapan layar dari video Deni yang menunjukkan saat ia pergi membeli petasan, dan akhirnya diberikan kembang api. (Sumber Foto : Instagram Deni)
Tangkapan layar dari video Deni yang menunjukkan saat ia pergi membeli petasan, dan akhirnya diberikan kembang api. (Sumber Foto : Instagram Deni)

Kisah lucu lainnya pernah ia diberhentikan polisi bukan karena melanggar, dan sang petugas ternyata mengenalnya dari media sosial. 

"Ada polisi yang mengenali saya mungkin karena melihat helm bebek saya. Waktu itu ceritanya saya setelah berbelanja dari toko Indonesia naik motor belok dan berpapasan dengan pakde (sebutan untuk polisi Taiwan). Kemudian saya dipanggil," kata Deni.

"Saya takut dong, saya kira mau ditilang saat polisinya datang menghampiri," kata Deni. "Kemudian dia tanya ARC saya, terus setelah dicek, ARC saya dikembalikan. Kemudian polisi itu bilang 今天好不好?好,明天?不知道 (Apa kabarnya hari ini? Baik. Besok? Tidak tahu.)"

"Ternyata ini polisi pengikut saya di media sosial. Kemudan si polisi menunjukkan HP-nya dan video saya," ujarnya sembari tertawa.

Deni berujar, menurutnya, semua orang Taiwan itu baik dan sering membantu orang yang tidak bisa berbahasa Mandarin.

Saat ditanya apakah Deni mau mendalami bahasa Mandarin dengan belajar lebih serius. Ia pun mengatakan dirinya tak punya waktu. "Sebenarnya saya mau tapi tidak ada waktu dan capek pulang kerja jika mau sekolah atau kursus lagi. Karena setiap pulang kerja aku harus masak setiap hari."

Saat ditanya kenapa ia harus masak setiap hari, Deni mengatakan bahwa ia tidak mendapat uang makan dari pabriknya. Untuk menghemat, ia harus masak setiap hari sebagai bekalnya.

"Di pabrik aku tidak ada uang makan bahkan tidak diberi nasi kotak. Seharusnya kan aturannya jika tidak mendapat makan, harus diganti uang makan, ternyata di pabrikku tidak. Dua tahun yang lalu ada temanku yang protes tentang uang makan, eh dia malah diberhentikan. Jadi semua teman-teman pada takut kalau protes," katanya.

"Itu awalnya karena sebelum-sebelumnya ada beberapa orang yang sepakat tidak apa-apa jika tidak ada pengganti uang makan, jadi pihak pabrik hingga sekarang menerapkan aturan yang seperti ini, tidak ada uang makan," sambung Deni.

Deni bergaya di depan gedung Kementeri Ketenagakerjaan. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Deni bergaya di depan gedung Kementeri Ketenagakerjaan. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Ditanya mengenai harapannya ke depan apakah Deni mau lanjut untuk bekerja di Taiwan dalam jangka waktu yang panjang, ia pun mengatakan ingin kembali pulang ke Indonesia dan membangun usaha.

"Saya tidak ingin lama-lama lagi di Taiwan, saya ingin membangun usaha di Indonesia dan menikah. Sudah ada yang menanti, [yaitu] tunangan saya," ujar Deni.

Di akhir wawancara, Deni menyambut rekan-rekan yang ingin belajar monetisasi konten untuk dapat belajar bersamanya secara gratis.

"Teman, jangan asal-asalan mengambil gambar atau konten orang lain. Lebih baik bikin konten yang murni hasil kreativitas diri kita sendiri," ujarnya. 

Deni juga tak lupa menitipkan pesan bagi rekan-rekannya sesama pekerja migran Indonesia untuk mengisi waktu libur dengan hal-hal yang bermanfaat, dan tidak melakukan hal-hal yang aneh atau negatif

Ia juga berpesan agar rekan-rekannya tidak menjadi pekerja migran hilang kontak, karena akan menyusahkan diri sendiri jika sakit atau akan pulang ke Indonesia.

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.