New Taipei, 8 Apr. (CNA) Presiden Lai Ching-te (賴清德) hari Selasa (7/4) kembali menegaskan rencana aksi "Empat Pilar Perdamaian" miliknya dalam sebuah peringatan untuk mengenang 37 tahun wafatnya Nylon Cheng (鄭南榕), dengan mengatakan pengorbanan aktivis tersebut telah membantu membangkitkan transformasi demokrasi Taiwan.
Berbicara dalam acara di New Taipei, putri Cheng, Cheng Chu-mei (鄭竹梅), mengatakan bahwa edisi terakhir majalah "Freedom Era Weekly" milik ayahnya mempertanyakan apakah Tiongkok mungkin akan menginvasi Taiwan, sebuah kekhawatiran yang masih relevan hingga kini.
Ia mengatakan bahwa perdamaian sejati tidak dapat dicapai melalui sikap tenang dan berserah, melainkan melalui solidaritas, komunikasi, dan kemampuan untuk melindungi diri sendiri.
Menyambung pernyataannya, Lai mengatakan demokrasi Taiwan terus menghadapi ancaman dari Tiongkok, menekankan bahwa perdamaian, seperti halnya demokrasi, "Tidak dapat diberikan seorang diktator, melainkan harus diamankan melalui kekuatan."
Lai kemudian memaparkan empat pilar kerangka perdamaian miliknya, yang pertama kali diperkenalkan dalam pidato pelantikannya pada Mei 2024.
Pilar pertama adalah memperkuat pertahanan nasional, termasuk pengadaan senjata dan pengembangan kemampuan dalam negeri.
Yang kedua adalah meningkatkan ketahanan ekonomi. Lai mencatat bahwa investasi keluar Taiwan ke Tiongkok telah turun dari 83,8 persen pada 2010 menjadi 3,7 persen pada 2025, mencerminkan strategi "berakar di Taiwan dengan penempatan dan distribusi global".
Pilar ketiga adalah memperdalam kerja sama dengan mitra demokratis untuk menjaga stabilitas kawasan. Lai mengutip pernyataan G7 baru-baru ini yang menekankan pentingnya perdamaian di Selat Taiwan.
Yang keempat, kata Lai, adalah menjaga interaksi lintas selat yang stabil berdasarkan kesetaraan dan martabat.
"Singkatnya, Taiwan bukan bagian dari Republik Rakyat Tiongkok," kata Lai.
Lai mengatakan bahwa rakyat Taiwan memiliki hak untuk mengejar cara hidup yang demokratis dan bebas yang berlandaskan hak asasi manusia.
Aspirasi seperti itu tidak boleh dianggap sebagai provokasi, ujarnya, seraya mengungkapkan harapan bahwa generasi muda akan terus menjaga fondasi demokrasi yang telah dibangun generasi sebelumnya.
Cheng mendirikan majalah Freedom Era Weekly pada 1984, saat masa darurat militer, dan merupakan seorang aktivis prodemokrasi dan pendukung kemerdekaan Taiwan.
Ia membakar dirinya hingga tewas saat berusia 41 tahun pada 7 April 1989, setelah dituntut atas dugaan melakukan hasutan karena menerbitkan "Rancangan Konstitusi Republik Taiwan" pada Januari.
Selesai/