Taipei, 6 Apr. (CNA) Sejumlah kelompok masyarakat sipil hari Minggu (6/4) menggelar aksi di Chiang Kai-shek Memorial Hall, menyerukan penutupan bangunan utamanya hingga pembongkaran patung mantan Presiden Chiang Kai-shek (蔣中正), agar Taiwan "benar-benar meninggalkan otoritarianisme".
Memasuki tahun ketiganya, para peserta aksi yang diprakarsai puluhan organisasi ini membawa foto-foto korban penindasan politik selama masa pemerintahan otoriter Kuomintang serta membentangkan spanduk merah bertuliskan "Taiwan tidak membutuhkan Balai Peringatan Diktator."
Mereka berjalan dari gerbang Liberty Square menuju depan Chiang Kai-shek Memorial Hall. Sementara itu, di tangga aula juga dipasang spanduk merah besar bertuliskan "bongkar".
Koordinator 519 Action Group, Michelle Wang (王美琇) dalam pidatonya mengatakan masih berdirinya balai peringatan bagi "diktator" Chiang setelah 46 tahun menunjukkan Taiwan belum menjadi negara yang "normal", melainkan masih mengalami "kebingungan nilai" dan "belum menyelesaikan" keadilan transisional.
Ketua Koo Kwang-Ming Foundation tersebut menambahkan bahwa sejak Insiden 28 Februari hingga masa Teror Putih selama 43 tahun, pemerintahan diktator Chiang telah merenggut ribuan nyawa rakyat Taiwan.
Taiwan telah memasuki era demokrasi selama lebih dari 30 tahun, tetapi "masih membiarkan" pelaku sekaligus diktator tersebut menduduki lokasi inti ibu kota, bahkan menggunakan sumber daya negara untuk menghormatinya, kata Wang.
Wang mempertanyakan nilai dan keyakinan apa yang ingin disampaikan Taiwan kepada para wisatawan internasional -- yang kerap mendatangi balai peringatan tersebut sebagai ikon.
Ia pun menuntut ditutupnya bangunan utama dan dibongkarnya patung perunggu Chiang, meminta Yuan Eksekutif "mempercepat" transformasi kawasan ini menjadi "alun-alun demokrasi", serta penyingkiran "simbol-simbol otoritarianisme" di kampus dan ruang publik di seluruh negeri.
Seorang anggota keluarga korban Teror Putih, Lan Yun-jo (藍芸若) mengatakan dirinya tidak suka dan tidak berani datang ke Chiang Kai-shek Memorial Hall.
Tempat itu mengingatkannya bahwa 75 tahun lalu ayahnya, Lan Ming-ku (藍明谷) dieksekusi atas perintah Chiang, sementara ibunya dihukum dan dikirim ke Green Island yang terpencil karena dituduh tidak melaporkan "komunis", meninggalkan dirinya dan kakaknya yang saat itu masih kecil, kata Lan.
Lan mengatakan mereka yang datang ke Liberty Square lalu memandang bangunan megah tersebut dari kejauhan dapat "keliru" mengira bahwa di bawah kepemimpinan Chiang, Taiwan menjadi negara demokratis dan bebas sebagaimana dikenal saat ini.
Ia berharap pemerintah segera mentransformasi bangunan ini secara menyeluruh dan memindahkan patung tersebut, agar Taiwan dapat "benar-benar meninggalkan otoritarianisme" seperti yang telah dilakukan negara-negara seperti Jerman, Spanyol, dan Afrika Selatan.
Taiwan mengalami masa Teror Putih yang diisi persekusi politik sejak 1949 hingga 1987, setelah pecahnya Insiden 28 Februari 1947 -- serentetan penindasan berdarah terhadap pengunjuk rasa pasca pemukulan brutal terhadap seorang pedagang tembakau di Taipei oleh agen pemerintah.
Chiang Kai-shek Memorial Hall dibangun di bawah instruksi pemerintah untuk mengenang Chiang, setelah kematiannya pada 5 April 1975. Kawasannya, yang terletak di Distrik Zhongzheng, meliputi lebih dari 240.000 meter persegi.
Pada 1980-an hingga 1990-an, kawasan ini menjadi pusat aksi yang kemudian dianggap menjadi pemantik demokratisasi Taiwan, dengan Lee Teng-hui (李登輝) menjadi presiden pertama yang terpilih melalui pemungutan suara langsung pada 1996.
Pemerintahan mantan Presiden Chen Shui-bian (陳水扁) pada 2007 menyematkan nama Liberty Square untuk kawasan Chiang Kai-shek Memorial Hall.
Sementara itu, pemerintahan mantan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) pada 2017 mengumumkan rencana untuk mentransformasi balai tersebut menjadi pusat peringatan sejarah kelam otoritarianisme Taiwan.
Kementerian Kebudayaan di bawah Presiden Lai Ching-te (賴清德) pada Juli 2024 tak lagi menugaskan pengawal kehormatan untuk berjaga di depan patung Chiang guna menghilangkan "pemujaan individu dan otoriter", dan memindakan upacara serah-terima setiap jam ke Democracy Boulevard di depannya.
(Oleh Kao Hua-chien dan Jason Cahyadi)
Selesai/ja