Taipei, 3 Apr. (CNA) Sebuah tim peneliti di National Taiwan University (NTU) telah mengembangkan sistem portabel seukuran ransel untuk produksi biodiesel secara berkelanjutan dengan menggunakan teknologi pemisahan baru yang meningkatkan efisiensi dan mendorong produksi energi secara terdesentralisasi.
Dipimpin oleh Chiang Ya-yu (蔣雅郁), seorang profesor madya di Departemen Teknik Mesin NTU, penelitian ini dilakukan bekerja sama dengan National Chung Hsing University dan Kasetsart University di Thailand.
Biodiesel diproduksi melalui proses kimia yang mengubah sumber terbarukan seperti minyak nabati, minyak goreng bekas, atau lemak hewani menjadi bahan bakar menggunakan alkohol dengan adanya katalis.
Setelah biodiesel mentah dibuat, bahan tersebut harus dimurnikan menggunakan pencucian air untuk menghilangkan kotoran atau sisa zat.
Dalam wawancara terbaru dengan CNA, Chiang mengatakan bahwa proses produksi biodiesel tradisional memakan waktu lama, membutuhkan banyak air, dan memerlukan peralatan berukuran besar.
Secara khusus, Chiang mengatakan, pemisahan cairan dengan viskositas tinggi dan air limbah sering menjadi hambatan terbesar dalam miniaturisasi sistem.
Dengan menggunakan mikro-reaktor yang dirancang oleh Corning dan pemisah kawat heliks untuk mengatasi tantangan pemisahan cairan viskositas tinggi secara kontinu, sistem tim ini mencapai hasil biodiesel hingga 91,14 persen, dan bahan bakarnya berkualitas tinggi, melampaui standar nasional untuk nilai asam.
Mahasiswa doktoral Yang Cheng-you (楊承祐), anggota tim peneliti NTU, mengatakan perangkat ini mirip dengan mesin kopi di toko serba ada yang dapat ditempatkan di mana saja.
Mudah untuk membayangkan masa depan di mana sistem kecil akan dipasang di setiap kios makanan pinggir jalan untuk mengubah minyak goreng bekas atau minyak nabati menjadi biodiesel yang digunakan pada generator diesel, katanya.
Chiang mengatakan timnya saat ini bekerja sama dengan perusahaan minyak milik negara CPC Corp. Taiwan untuk mengubah sistem ini menjadi peluang komersial.
Ketahanan energi adalah isu kunci bagi Taiwan, karena konflik atau bencana alam dapat dengan mudah menyebabkan gangguan pasokan secara luas, ujarnya.
Sistem miniatur ini dapat memutus ketergantungan pada pabrik kimia besar untuk produksi biodiesel, memperluas pasokan energi dari jaringan terpusat yang rentan ke setiap lokasi yang membutuhkan listrik, tegas Chiang.
Sistem ini dapat digunakan untuk pembangkit listrik komunitas atau sebagai cadangan darurat untuk fasilitas medis, memungkinkan siapa saja yang memiliki minyak goreng untuk mengubahnya menjadi biodiesel untuk listrik, kata Chiang.
Studi tim ini yang berjudul "An innovative microreactor approach for sustainable biodiesel production: process design, continuous purification and comparative LCA" ditampilkan di sampul jurnal bulanan Green Chemistry yang ditinjau sejawat pada November 2025.
Selesai/IF