Taipei, 11 Mar. (CNA) Saptono, seorang imigran baru Indonesia yang menjadi pelatih hingga wasit sepak bola di Taiwan, mengatakan dirinya berharap kecintaannya terhadap si kulit bundar sejak kecil dapat diwariskan ke generasi berikutnya, kata Direktorat Jenderal Imigrasi (NIA), Selasa (10/3).
"Saya menyukai Taiwan, Taiwan sudah menjadi rumah kedua saya," kata Saptono, yang meninggalkan kampung halamannya setelah lulus sekolah menengah atas untuk bekerja di Taiwan, hingga membangun keluarga serta karier selama lebih dari 20 tahun, kata NIA dalam sebuah siaran pers.
Di sela pekerjaannya, Saptono sering berlatih sepak bola bersama sesama imigran baru. Beberapa datang ke Taiwan untuk sekolah, dan yang lainnya untuk bekerja. Memelihara persahabatan melalui olahraga menjadi kesamaan yang mereka miliki, menurut NIA.
Tim yang dipimpinnya juga memenangkan liga sepak bola Indonesia di Taiwan pada 2018. Saat ini, selain melatih sesama imigran baru, ia juga diundang untuk membimbing pemain lokal dan menjadi wasit di Taipei, Taichung, dan Kaohsiung.
Saptono menjadi salah satu sosok yang dikunjungi pejabat NIA, Dewan Urusan Tiongkok Daratan (MAC), dan Straits Exchange Foundation (SEF) di Taoyuan, untuk menunjukkan perhatian pemerintah terhadap imigran baru, kata ditjen tersebut.
Melalui pertemuan ini, kata NIA, mereka ingin memahami bagaimana para imigran baru menyesuaikan diri dengan kehidupan di Taiwan, sekaligus berharap cerita-cerita para pendatang dapat menginspirasi yang lainnya untuk bersinar dan berprestasi.
Sosok lain yang dikunjungi adalah pasangan imigran baru asal Hong Kong yang menjual pakaian merek kampung halaman mereka di Taiwan dan mengelola toko pakaian serta gerai porselen di Taipei.
Setelah menetap di Taiwan pada 2024, mereka pindah ke Distrik Bade, Taoyuan, dan membuka toko yang menjual roti buatan tangan, kue, dan kopi, kata NIA.
Sementara itu, yang lainnya adalah seorang imigran baru asal Guangdong, Tiongkok, yang datang ke Taiwan karena menikah pada 2015.
Untuk membesarkan putrinya yang masih di bawah umur, ia pernah berjualan cheong fun Kanton sendirian di pasar, hingga menyewa toko untuk menjual masakan khas kampung halamannya, kata NIA.
NIA mengatakan bahwa imigran baru beserta anak-anak mereka adalah kekuatan baru Taiwan. Setiap penduduk baru berusaha keras untuk meraih kehidupan yang lebih baik, menampilkan kehidupan anyar yang penuh semangat, tambah ditjen tersebut.
NIA mengatakan mereka menghargai semua imigran baru yang membawa semangat segar bagi Taiwan dan memberikan tenaga positif bagi masyarakat.
Pemerintah, kata NIA, akan terus menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, serta berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup imigran baru di Taiwan.
Selesai/IF